BAB
I
PENDAHULUAN
Guna
melayani kebutuhan generasi muda untuk mengenal, mencintai, serta penelitian
lebih lanjut, penulis ingin memperkenalkan Sejarah Dhawe yang bersumberkan pada:
1.
Sejarah
terjadinya Ola Dhawe dan keturunan Dhawe sampai dengan Ana Kodha Goru dan Wegu
Ana Ralo.
- Catatan tertulis dari Bapak Agustinus Gedju, yang
diceritakan oleh Bapak Saparaja
tahun 1940 atas permintaan Pater
Paul Arndt, SVD. sebagai data penyelidikan Antropologi Budaya dan
disalin lagi oleh penulis atas permintaan Bapak Alfons Woso Kepala Kantor Pembinaan Kebudayaan Kabupaten
Ngada pada tanggal 25 Oktober 1967.
- Catatan tertulis dalam bahasa
daerah oleh penulis (sejak kelas II SMP) yang diceritakan oleh Bapak Phelipus Dhae Goa, Bapak Papu
Rae, dan Bapak Dhae Teze
tahun 1957 atas permintaan Pater
Karel van Trier, SVD. sebagai
data penyelidikan ilmu bahasa.
- Rangkuman sejarah terjadinya Ola
Dhawe dari keturunan Dhawe tahun 1940 dan tahun 1957 atas permintaan Bapak Niko Ladja Penilik
Kebudayaan pada Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan
Aesesa dan KKN UNIKA ATMAJAYA pada tanggal 1 September 1978.
- Catatan tertulis dari Bapak Zakarias Lasa (Siswa SPG) di
Lailewa bulan Juli 1969, yang
dilagukan oleh Bapak Kosmas Laha Mau,
Bapak Petrus Bhela, dan Bapak
Dominikus Seta Labha mengenai Pata Fera, Pata Rido, dan Pata Eko Etu.
2.
Sejarah
Singkat Suku Dhawe.
a.
Catatan
tertulis oleh penulis yang diceritakan oleh Bapak Phelipus Dhae Goa dan Bapak
Papu Rae tahun 1957.
b.
Silsilah
keluarga Eko Ga’e dari Rumah Kelikisa, yang diceritakan oleh Bapak Papu Rae, Bapak Sape Welawaru
tahun 1964, dan Bapak Bhedja Ebu
tahun 1968.
c.
Salinan/arsip/fotocopy
pernyataan-pernyataan penyerahan tanah sejak tahun 1941 sampai tahun 1989.
d.
Pengamatan
langsung oleh penulis mengenai urutan lokasi di Ola Dhawe dari Ulu Ola Dhawe
sampai Eko Dhoa Kata dan pelaksanaan Seremoni Adat Dhawe sebagai bandingan
dengan data yang diceritakan oleh Bapak
Phelipus Dhae Goa dan Bapak Papu Rae.
3.
Sejarah
Terbentuknya Ibu Kota Kecamatan Aesesa dan Desa Danga.
a.
Asal
mulanya Kampung Danga dari catatan penulis yang diceritakan oleh Bapak Phelipus Dhae Goa pada tanggal 3
Juni 1967 dan Bapak Papu Rae pada
tanggal 3 Maret 1965, Bapak Stanis Mesi
Padhi pada tanggal 10 Maret 1965.
b.
Sejarah
terbentuknya ibu kota Kecamatan Aesesa dan Desa Danga, catatan dari Memori
Camat Aesesa (Bapak Paulus Lewa)
tahun 1976 – 1979.
c.
Penyerahan
tanah secara adat oleh Bapak Matheus
Mite Mude (Camat Aesesa yang pertama), Bapak
Phelipus Dhae Goa dan Bapak Papu Rae
pada tanggal 25 Juli 1964.
d.
Penyerahan
tertulis dari Suku Dhawe tertanggal 7 Januari 1979 dan diperbaharui lagi dengan
penyerahan 14 Mei 1987.
4.
Perang
Dhawe Melawan Penjajahan Belanda.
a.
Bagian
pendahuluan dari catatan penulis yang diceritakan oleh Bapak Phelipus Dhae Goa, Bapak Papu Rae, Bapak Pius Ma’u Gela tahun
1968 dan Bapak Redha Gale pada
tanggal 20 Juni 1985.
b.
Perang
Rae Sape secara khusus dicatat oleh Bapak
Alfons Woso Kepala Kantor Pembinaan Kebudayaan Kabupaten Ngada, yang
diceritakan oleh Bapak Phelipus Dhae Goa,
(anggota pasukan yang ikut perang), Bapak
Papu Rae dan Mama Supa Aning
(kedua anak dari Rae Sape yang turut
mengungsi bersama ayahnya) pada tanggal 5 Juli 1968 di Danga Au.
c.
Perang
Muka Teang dalam membantu Rae Sape secara khusus diceritakan oleh Bapak Taga Wulang dari Kampung Nunuk,
dibantu oleh Bapak Blas Bima sebagai
juru bicara dalam menterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada tanggal 9 Juli
1968.
d.
Perang
Nipa Do atau Perang Watu Api dengan informan-informan sebagaimana tercantum
dalam kata pengantar secara keseluruhan telah dihimpunkan dengan perang Rae
Sape dan Muka Teang oleh Bapak Alfons Woso
Kepala Kantor Pembinaan Kebudayaan Kabupaten Ngada pada tanggal 19 Januari
1974.
e.
Perang
Dhawe melawan suku tetangga diceritakan oleh Bapak Phelipus Dhae Goa dan Bapak
Papu Rae tahun 1957, Bapak Kosmas Laha
Mau dan Bapak Andreas Dhae Adja
tahun 1967.
5.
Tujuan
Penulisan.
a.
Tujuan
Umum.
Tujuan umum yang ingin disampaikan
penulis untuk memperkenalkan:
1)
Sejarah
Dhawe serta nama-nama rumah adat (Sa’o Waja) yang sekarang masih ada di Ola
Dhawe, beserta benda-benda peninggalannya sejak zaman dahulu.
2)
Urutan
Suku Dhawe serta hak dan kewajibannya dalam pelaksanaan seremoni adat dari
setiap keluarga.
3)
Kebudayaan
dan kesenian yang berhubungan dengan Gua Ru sampai Gua Leza yang merupakan kalender
kerja adat Dhawe.
4)
Asal
mulanya nama kecamatan dan ibu kota Kecamatan Aesesa dan pembentukan Desa Danga
dalam ibu kota Kecamatan Aesesa sebagai pemekaran dari Desa Dhawe yang
merupakan satu kesatuan hukum adat.
5)
Perjuangan
Suku Dhawe dalam menentang penjajahan Belanda.
b.
Tujuan
Khusus.
Tujuan khusus yang ingin dicapai oleh penulis, yaitu:
1)
Untuk
menyelamatkan kebudayaan dan Sejarah Dhawe, yang kenyataannya mulai
berangsur-angsur lenyap karena perkembangan pendidikan, agama dan teknik
modern.
2)
Sebagai
dokumen suku karena pada suatu saat tidak ada generasi muda untuk menggantikan
generasi tua.
3)
Sebagai
dasar penyelidikan lebih lanjut bagi generasi muda yang ingin menggali kembali
kebudayaan aslinya, sesuai dengan peninggalan-peninggalan yang masih ada.
BAB
II
SEJARAH
TERJADINYA OLA DHAWE
A. Asal
Mulanya
Asal mulanya Dhawe dari dua orang bersaudara, yang seorang laki-laki bernama “Dhawe” dan seorang saudara wanitanya
bernama “Dhengi”. Keduanya adalah
anak yatim piatu, hidup bersama dengan orang-orang sekampung. Sebagai seorang
petani keduanya mengerjakan kebun yang jauh letaknya dari orang lain. Pada saat
jagung di kebun mereka masak dan hampir kering setiap malam datanglah kawanan
babi memakan jagung. Akhirnya Dhawe
sendirian bersama anjingnya yang bernama “Ebo
Rua” menjagai kebun. Malamnya datanglah babi-babi memakan jagung, lalu Dhawe memberi isyarat kepada anjingnya
Ebo Rua untuk mengejar babi. Ebo Rua mengejar babi hanya ditujukan kepada
seekor babi betina. Akhirnya sampai ke sebuah gua, yaitu sarang babi itu. Dhawe menyusul terus dengan tombaknya
kemana saja anjing Ebo Rua itu gonggong.
Ketika sampai ke gua itu, sangatlah
herannya tatkala anjing dan babi bercakap-cakap. Babi mulai menceritakan kepada
anjing Ebo Rua apa sebabnya mereka harus mencari makanan untuk makan sampai
puas. Kata babi: “Hai anjing! Jangan buru kami. Kami mau makan sepuasnya
bersama anak-anak kami, karena lagi tujuh hari air laut akan memenuhi isi bumi
ini. Kita semua pasti akan mati. Juga semua manusia. Tuhan sangat marah dengan
perbuatan manusia sangat biadab. Sudah dua kali Tuhan (Ga’e Bapu = Tuhan Semesta) menyiksa perbuatan manusia, yaitu:
Pertama, dahulu perhubungan antara manusia
sangat akrab. Tumbuhan “balang” sebagai jembatan, jika ketiadaan api manusia
bisa ambil di langit dimana tempat Tuhan (Ga’e Bapu) tinggal. Tumbuhan “balang”
berada dimana-mana pada tempat manusia tinggal. Manusia tidak takut kepada
Tuhan tetapi lebih percaya dan taat kepada setan (polo dalam bahasa Dhawe).
Akhirnya Tuhan memutuskan semua tali balang pada permukaan bumi ini sehingga
terputuslah hubungan langit dan bumi atau antara Tuhan (Ga’e Bapu) dengan
manusia.
Kedua, meskipun telah putus hubungan antara
Tuhan dengan manusia, tetapi Tuhan tetap menyayangi manusia. Tuhan tetap
memberikan hujan yang teratur, agar manusia dapat hidup dengan baik. Tak perlu
takut akan kekurangan makanan karena hujan dan panas yang teratur pula. Tetapi
makin lama manusia tidak taat lagi kepada Tuhan. Manusia memotong kayu-kayu
besar, dimana Tuhan (Ga’e Bapu) tinggal. Hutan belukar dan rumput-rumput dibakar,
seolah-olah mengusir Tuhan (Ga’e Bapu), lalu Tuhan menyiksa manusia dengan
tidak menurunkan hujan dari langit.
Manusia menjadi panik karena sudah dua
tahun tidak hujan. Padi dan jagung telah dimakan habis. Ubi-ubi hutanpun
semuanya harus digali. Akhirnya mereka membagi-bagi kelompok untuk mencari air
hujan. Setelah berhari-hari mencari air hujan akhirnya ditemukan sebuah kolam
kecil dengan air di dalamnya. Sekitar kolam itu bertumbuhlah rumput-rumput yang
sangat hijau dan hutan belukar. Setelah diamati dengan teliti tampak seorang tua
duduk termenung dalam hutan belukar. Banyak orang mengerumuni orang tua itu
untuk menanyakan dari mana dia menemukan kolam dengan airnya yang sangat jernih
serta rumput-rumput hijau sekitar.
Orang tua ini lalu menceritakan
mengenai apa sebab hujan sudah dua tahun tidak turun dan banyak orang mati
kelaparan. Kata orang tua itu: “Akulah
Tuhan (Ga’e Bapu) yang kamu aniaya. Lihatlah! Tubuhku penuh luka, akibat kamu
potong kayu-kayu besar. Karena dalam kayu besar itulah aku tinggal. Lihatlah!
Kepalaku tidak mempunyai rambut, karena kamu membakar rumput-rumput. Dalam rumput-rumput
itulah juga aku tinggal. Seluruh tubuhku penuh kotoran manusia karena manusia
membuang kotoran pada batu-batu, pada pohon-pohon besar dimana aku tinggal. Aku
akan memberi kamu hujan jika kamu berjanji tidak lagi menebang hutan, membakar
rumput, dan membuang kotoran di samping batu-batu besar atau pohon-pohon besar.”
Semua yang menemukan orang tua ini berjanji dan bersumpah untuk tidak melakukan
hal-hal demikian. Sejak saat itu turunlah hujan lebat sehingga orang-orang
mulai menanami kebun ladangnya.
Ketiga, janji dan sumpah yang diucapkan oleh
orang-orang yang menemui Ga’e Bapu (=Tuhan Semesta) beberapa generasi kemudian
melupakannya. Perbuatan yang sama diulangi lagi. Sekarang Tuhan (Ga’e Bapu) mau
menyiksakan lagi manusia dengan air bah dalam waktu tujuh hari lagi.”
Demikianlah kata babi itu kepada Ebo Rua.
B. Dhawe
dan Dhengi Menyiapkan Perahu Besar
Setelah selesai percakapan antara babi
dan anjing yang dapat didengar oleh Dhawe,
maka pulanglah ia ke kebunnya bersama anjing Ebo Rua. Dalam waktu tujuh hari,
kedua bersaudara membuatkan sebuah perahu besar dan mempersiapkan makanan untuk
perbekalan. Pada hari keenam perahu telah selesai dikerjakan, mulailah hujan
rintik-rintik disusul dengan hujan lebat selama empat puluh hari empat puluh
malam. Pada hari yang ketujuh air sudah memenuhi permukaan bumi. Kedua
bersaudara masuk ke dalam perahu dengan segala perbekalannya. Juga mereka
siapkan enam sokal tanah, enam sokal abu dapur dan enam sokal arang. Keadaan
sekitarnya sunyi senyap. Air sudah melewati pohon-pohon dan gunung-gunung yang
tinggi. Meskipun hujan sudah redah tetapi air belum juga surut. Setelah
mendapat petunjuk dari Tuhan (=Ga’e Bapu) mereka mengambil sesokal tanah, abu
dapur, dan arang serta menghamburi ke arah matahari terbit dan ke arah matahari
terbenam. Akhirnya air berangsur-angsur surut, abu menjadi tanah, abu dapur
menjadi pasir, dan arang menjadi batu. Perahu mereka terdampar di tempat yang
terus dinamakan “Ola Dhawe” (Ola =
kampung, Dhawe menurut nama orangnya). Rumahnya diberi nama “Kowa Dhawe” (Kowa = perahu besar)
hingga sekarang ini.
C. Dhawe
dan Dhengi Mengambil Api di Bukit Ratu Api
Mereka tidak memasak makanan karena
tidak ada api. Dari Ola Dhawe mereka
melihat bunga-bunga api di Bukit Ratu
Api (=Munde). Keduanya pergi mengambil api tetapi sampai disana tidak
kelihatan api. Keduanya kembali ke Ola Dhawe. Dari Ola Dhawe tetap kelihatan
api. Akhirnya kedua bersaudara itu pergi sekali lagi ke Ratu Api. Di Ratu Api ada himpunan-himpunan bambu. Dari himpunan
bambu itu mereka dengar bunyi: “OPE-OPE
ZAZI”. Sementara bunyi suara itu, bambu bergesek-gesek karena ditiup angin.
Mereka mengerti akan perkataan “OPE-OPE
ZAZI” artinya “ZOZE-ZOZE API”.
Dengan parang dipotongnya bambu itu lalu digesek-gesek dan ditiup, maka
terjadilah api. Dari situ keduanya kembali ke Ola Dhawe dengan membawa api.
D. Keturunan
Dhawe dan Dhengi
Untuk mendapat keturunan, Dhawe kawin dengan saudarinya Dhengi dan mendapat anak kembar, yaitu:
- Mogo (laki-laki)
dan Togo (perempuan) = Togo – Mogo
- Te (laki-laki)
dan Jere (perempuan) =
Te – Jere
- Dhae (laki-laki)
dan Tey (perempuan) =
Dhae – Tey
- Bale (laki-laki)
dan Be’o (perempuan) =
Bale – Be’o
Setelah anak kembar ini telah dewasa,
datang seekor burung Pergam dan berkata: “SA
BO’A GA’E LIMA ZUA, ZUA BUTU TA POLO,” artinya dalam sekampung ada tujuh
orang yang baik, kedelapan yang suanggi. Ada tujuh orang yang baik sedangkan Be’o yang suanggi. Berkata terus
pergam, “SA LI’E BENU BHISE, SA ROPO BENU
PODO, RAWI MA’E GORE MO, TORO MITE MEMA,” artinya sebiji penuh tembikar,
sepotong penuh periuk. Mereka tidak perlu susah payah semuanya serba ada. “RAWI MA’E GORE MO, TORO MITE MEMA, JEKA
PATA MEMA,” artinya benang tak perlu bersusah payah pengolahannya dari
kapas ke benang, dengan sendirinya menjadi warna merah, putih serta menjadi
kain. “GURU SA BUKU TOLO LOBO, SA BUKU
ZALE PU’U,” artinya bambu tidak perlu memerlukan buku atau ruas, hanya seruas
bagian pucuk dan seruas bagian pangkal. “KOBE
SA RIWA, LEZA SA RIWA, RU SA RIWA, NUA LEZA SA RIWA,” artinya malam
setahun, siang setahun, hujan setahun, panas setahun, yaitu pembagian waktu
siang, malam, hujan dan panas masing-masingnya selama satu tahun.
Dengan perkataan tadi tentu manusia
tetap delapan orang, maka datanglah burung Kakoa dan berkata: “IKO AKO - IKO AKO, MATA DHOA LAU DIA MAI
DHADHI WALI,” artinya mati boleh buang disini lahir lagi. Tentu tidak
selamanya manusia itu hidup. Ada yang mati tetapi ada pula yang lahir.
Berkata lagi burung Kakoa: “ZELE WOLO NGUSA MO, ZILI MESI NGUSA GELI,
NGUSA MO - MO, MO’O TEI RAKA NO’E,” artinya untuk mendapatkan sesuatu harus
bekerja keras, harus mengeluarkan keringat, harus berjeri-payah tidak dengan
sendirinya ada, harus menemui kesulitan untuk mendapatkan sesuatu.
Berkata lagi burung Kakoa untuk waktu:
“KOBE OMI - OMI, LEZA OMI - OMI, NUA LEZA
OMI – OMI,” artinya ada pembagian waktu siang dan malam yang singkat.
Sebulan untuk tiga puluh hari dan setahun untuk duabelas bulan. Berkata lagi
untuk bambu: “BUKU REKI - BUKU REKI,”
dengan demikian bambu menjadi banyak ruas.
E. Dhawe
dan Dhengi Beserta Anak - Anak Lainnya Mencari Tempat Tinggal Baru
Kemudian Dhawe dan Dhengi
berpesan kepada anaknya Togo dan Mogo: “Kamu berdua tinggal disini Ola
Dhawe dan tetap tinggal di rumah “Kowa
Dhawe” (Kowa=perahu besar) serta bangunkan lagi sebuah rumah dan diberi
nama “Dhengi Dhawe” sebagai
kenang-kenangan kepada orang tuamu. Kami bersama-sama adikmu membawa 5 (lima)
sokal tanah yang sisa untuk mencari tanah baru.”
Lalu berangkatlah mereka mencari tanah
baru dan melepaskan tanah itu sesokal demi sesokal sehingga terbentuklah:
- NANGA DHAWE : tempat tinggalnya
Dhawe dan Dhengi.
- WATU DOA : tempat tinggalnya dua
bersaudara Doa dan Lae.
- WOLO PUTA : tempat tinggalnya dua
bersaudara Dhae dan Tey.
- NGALU WATU : tempat tinggalnya
dua bersaudara Te dan Jere.
- KI NGETA LAI BHARA : tempat
tinggalnya dua bersaudara Bale dan Be’o.
Sebelum berangkat berpesanlah Dhawe kepada anaknya Togo dan Mogo: “Supaya kamu tetap
mempunyai hubungan dengan kami, jika pada musim hujan kekurangan hujan
datanglah ke Watu Doa, ambillah air
laut dari Nanga Dhawe dan sebuah
batu dari Watu Doa bawalah ke Ola Dhawe, nanti akan turun hujan.”
Sampai sekarang kalau ketiadaan hujan
pada musim hujan orang Dhawe
membuatkan upacara adat yang dalam bahasa Dhawe disebut “KAI RAGO ANA WATU DOA” dengan caranya sebagai berikut:
Kami
mai mo’o ka’o Ana Watu Doa
Kami
dia ne mona uza
Kami
ka’o kau Ebu Doa
Mo’o
kami ti’i tuka, pati foko
Ana
ebu kami
Uzu
ka ae kami mata peka.
Air laut itu disimpan dalam tabungan
bambu bersama batu dari Watu Doa ditaruh
di Napu Wedhu (tempat antara Kampung
Todo Meze dengan Kampung Natarale sekarang). Kebiasaan setiap
kali melaksanakan upacara tersebut maka terjadilah hujan lebat. Bila telah
selesai musim panen dibuatlah perahu kecil, batu dan air laut tersebut lalu diantar
ke Sungai Aesesa dihanyutkan ke laut
bersama perahu tadi.
Di samping itu juga ada bekas akar
balang dari Ola Dhawe sampai Watu Doa. Oleh karena akar balang itu telah hancur
dan kering sehingga terjadilah lubang dari Watu Doa sampai Ola Dhawe. Bila
terjadi angin laut, maka angin itu melalui lubang dan tembus ke Ola Dhawe.
Lubang itu oleh masyarakat disebut “Lubang Angin” atau “Pusat Angin”. Lubang
itu sekarang ditutup dengan batu besar yang terletak di “Ulu Ola Dhawe” (beberapa meter ke selatan dari rumah Sa’o Waja
Dhengi Dhawe).
F. Keturunan
TOGO dan MOGO
Togo dan Mogo tetap tinggal di Ola
Dhawe dan mendapat anak kembar yang diberi nama Doa (laki-laki) dan Lae
(wanita). Kemudian Ridu tempat tinggalnya di Lia Ridu. Ridu memperanakkan “Rao”
bertempat di Lia Rao, Rao memperanakkan “Sue” tempatnya di Lia Sue, Sue memperanakkan
“Waka” bertempat di Malawaka, Waka memperanakkan “Dhengi Jei”, Dhengi Jei memperanakkan
“Kopu Tana Kore”, Kopu Tana Kore memperanakkan “Nitu Noi”, Nitu Noi memperanakkan
“Woi Mai”, Woi Mai memperanakkan “Lelu Wela”, Lelu Wela memperanakkan “Wula
Molo”, Wula Molo memperanakkan “Ko”, Ko memperanakkan “Nio”, Nio memperanakkan “Bawa
Rani”, Bawa Rani memperanakkan “Lado Leza”, Lado Leza memperanakkan “Dheki”, Dheki memperanakkan “Dhawe”, Dhawe
memperanakkan “Dori”, Dori memperanakkan “Kumi”, Kumi memperanakkan “Nila”,
Nila memperanakkan “Tebe”, Tebe memperanakkan “Riga”, Riga memperanakkan “Paga”,
Paga memperanakkan “Ede”, Ede memperanakkan “Kapi”, Kapi memperanakkan “Judha”,
Judha memperanakkan “Tana”, Tana memperanakkan “Kisa Gego”, dan selanjutnya
Kisa Gego sampai anak cucunya sekarang.
G.
Penutup
Setelah membaca sejarah terjadinya Ola
Dhawe dan keturunan Dhawe dan Dhengi dapat disimpulkan bahwa:
1.
Cerita
mengenai air bah adalah benar-benar terjadi hanya jalan ceritanya bersifat
khayalan.
2.
Cerita
mengenai turunan Dhawe adalah benar dibuktikan dengan nama tempat atau gua
dimana mereka tinggal disekitar Ola Dhawe.
BAB
III
ANA KODHA
GORU DAN WEGU ANA RALO
A.
Pendahuluan
Suatu ketika di zaman dahulu Ana Kodha Goru seorang pelaut yang
berasal dari Goa - Makassar berlabuh
dengan perahunya yang bertiga tiang di Watu
Doa, pantai utara Flores di sebelah barat Sungai Aesesa. Peristiwa ini
diketahui oleh penduduk Ola Dhawe dan ramai-ramailah penduduk mengunjungi
tempat tersebut untuk melihat mungkin ada barang-barang dagangan, seperti bedil
dan lain-lain yang dapat dipertukarkan dengan budak.
Setelah melihat banyak orang datang
Ana Kodha Goru (Ana Kodha=Nahkoda) terpikat hatinya dengan seorang gadis yang
bernama “Tawa” keturunan “Togo dan
Mogo”. Percintaan antara Ana Kodha Goru dengan Tawa dapat terjalin jika Ana
Kodha Goru mau tinggal di Ola Dhawe. Setelah terdapat kata sepakat maka Ana
Kodha Goru terus tinggal menetap di Ola Dhawe dan diserahi tugas sebagai
pemimpin perang untuk menjaga keamanan di laut dan darat (Mosa Sike, Laki Bani).
Dari perkawinan dengan Tawa, Ana Kodha
Goru dikaruniai banyak anak, diantaranya seorang yang bernama “Wegu”. Sedangkan kakaknya bernama Tadi, karena sudah berkeluarga tinggal
terpisah dengan Wegu.
Karena Wegu tak mempunyai orang tua
dan sanak saudara, maka oleh orang Dhawe, Wegu dipanggil “Wegu Ana Ralo” yang berarti Wegu anak yatim piatu. Wegu Ana Ralo
hidup sebatang kara, hidupnya merana dan melarat penuh dengan penderitaan
hidup, mukanya jelek dan bopeng, tubuhnya penuh dengan borok luka.
B. Wegu
Ana Ralo
Setelah meninggalnya Ana Kodha Goru dan Tawa, hidup Wegu sangat
sengsara. Pekerjaannya sehari-hari dengan mengusahakan ladang dan mengiris moke
(tuak). Jika ada pesta, semua penduduk Ola Dhawe dan kaum bangsawan (=mosalaki)
mendapat bagian yang terbaik, sedangkan Wegu Ana Ralo diberi kerak nasi dan
tulang daging. Kesemuanya itu diterimanya dengan tabah serta sisa-sisa tulang
daging dan kerak nasi ditampungnya dalam bambu sebagai kenang-kenangan dari
pemberian mosalaki.
C. Penu
Ga’e
Pada suatu ketika tersebarlah berita
bahwa ada seorang gadis Soa yang
berasal dari Kampung Wuli Lade telah
terjun ke dalam sungai dan menjelma menjadi ikan, pada tempat yang sejak saat
itu sampai sekarang disebut “KOLU PENU”.
Penu Ga’e begitu nekat membuang diri
dan terjun ke dalam sungai karena merasa malu dituduh berzinah dengan salah
seorang saudaranya. Barang siapa menemukannya, akan hidup bahagia. Mendengar
berita ini ramai-ramailah penduduk Ola Dhawe pergi memasang lukah (=dalam
bahasa daerah disebut “Sosa”) di tempat yang bernama “RABA NOKA”, yaitu tempat antara Kampung Rata dan Malawaka. Wegu
Ana Ralo pun tak ketinggalan ikut memasang lukah di “Raba Noka”. Tetapi
nasibnya sangat malang, setiap kali memasang lukahnya para bangsawan (=mosalaki)
selalu membuang lukahnya serta menyuruh Wegu Ana Ralo memasang lukahnya di
darat agar bisa mendapat biji kacang atau biji jagung. Demikianlah kata-kata
para mosalaki (kaum bangsawan) yang sangat menyakiti hati Wegu Ana Ralo.
Di luar perhitungan Wegu Ana Ralo, di waktu
pagi hari, sedang bulan purnama raya malamnya pasang naik sehingga daratan
tempat Wegu Ana Ralo memasang lukah (Sosa) di Raba Noka dapat digenangi air.
(Hubungkan dengan perang air laut dan air Sesa dalam cerita dongeng rakyat).
Dan dalam lukahnya terdapat seekor ikan sebesar betis (=dalam bahasa Dhawe
disebut ikan “Ngare”). Segera ia kembali ke rumahnya (Rumah Rajo Goa) agar
tidak diketahui oleh para bangsawan (mosalaki). Sesampainya di rumah, ikan itu
ditaruhnya di lumbung yang terletak di belakang rumah Rajo Goa. Lalu Wegu Ana
Ralo pergi mengiris moke serta mencari daun asam muda untuk rempah-rempah.
Namun setelah ia kembali ke rumahnya
didapatinya tempat menyimpan ikan tadi telah kosong. Sedangkan daun
pembungkusnya, ia temukan di bawah kolong lumbung di belakang rumahnya. Ia lalu
berpikir ikan tersebut pasti telah kembali diambil oleh mosalaki dalam kampung
tersebut.
Wegu duduk sendirian sambil menangis
terisak-isak, tiba-tiba terdengarlah suara dari dalam lumbung. Rasa ingin
tahunya mendorong dia untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Melalui celah
dinding lumbung diintipnya dan tampaklah seorang gadis cantik berambut panjang
duduk di dalam lumbung. Melihat itu Wegu Ana Ralo menjadi takut bercampur
gembira. Wegu pura-pura mencari terus ikannya yang hilang tadi. Lalu gadis dari
dalam lumbung tadi bertanya dan bercakap-cakap dengan Wegu Ana Ralo:
Penu
Ga’e : Engkau
mencari apa?
Wegu : Sedang mencari sesuatu yang hilang.
Penu
Ga’e : Kemari
dekat padaku. Aku akan memberitahukan siapa yang mengambil barangmu.
Wegu : Maaf,
aku tak berani mendekatimu, sebab aku tahu engkau anak dari mosalaki.
Penu
Ga’e : Jika
engkau tak mau masuk kesini, maka sampai matipun tak akan menemukan barangmu
yang hilang.
Wegu : (Mendengar
itu Wegu pun masuk ke dalam lumbung mendekati gadis cantik itu).
Penu
Ga’e : Engkau
tidak perlu mencari barangmu yang hilang. Aku inilah Bu’e Jawa yang engkau cari
itu (Nama Penu Ga’e yang asli setelah
sampai di Ola Dhawe berubah menjadi Bu’e Jawa yang berarti Gadis Jawa).
Wegu : Jika
benar-benar engkau Bu’e Jawa, maka aku akan menjadi sedih dan susah. Sebab jika
diketahui orang-orang mosalaki, pasti aku akan dipukul atau dibunuh oleh
mereka.
Bu’e
Jawa : Engkau
tak perlu takut, nanti kita akan mencari tempat untuk bersembunyi dan
berlindung.
Wegu : Jika
betul engkau Bu’e Jawa, maka engkau tak mungkin tinggal bersama aku, karena aku
tak punya apa-apa untuk makan.
Bu’e
Jawa : Tak
usah kuatir, makanan kita berkelimpahan. (Lalu
diambilnya tempat sirih dengan sebuah periuk penuh berisi daging dan sebuah
periuk lagi penuh berisi nasi, lalu makanlah keduanya bersama-sama).
Wegu : (Sambil makan Wegu menangis dan berkata),
Aku ini seorang anak yatim-piatu, bagaimana engkau bisa memberi aku makan nasi
dan daging? Seandainya orang-orang mosalaki tahu bahwa engkau Bu’e Jawa ada
disini, pasti aku akan dibunuh oleh mereka.
Bu’e
Jawa : (Sambil mengintip melalui celah dinding, ia
mengajak Wegu untuk mengantarkannya ke bukit sana, sambil menunjuk ke arah
bukit “NABE”).
Wegu : Bukit
itu bernama NABE. (Lalu berangkatlah
mereka kesana. Setiba disana Wegu lalu membuat sebuah pondok kecil untuk Bu’e
Jawa dan tinggal beberapa hari lamanya, sehingga ia tidak kelihatan lagi di Kampung
Ola Dhawe).
D. Musim
Hujan Hampir Tiba
Bintang sebagai pedoman masyarakat
yang dalam bahasa Dhawe disebut “NIO”.
Pada saat setelah Matahari terbenam telah condong ke arah selatan yang
menunjukkan bahwa musim hujan hampir tiba, yang tak lama kemudian disusul
dengan bunyi guntur pertama (dalam bahasa Dhawe disebut “GU POLU”).
Menyadari keadaan itu, Bu’e Jawa
menyuruh Wegu menebang dan membakar
dua pohon asam besar yang berada di dekat bukit itu. Setelah kedua pohon itu
roboh lalu dibakarnya, maka terjadilah tanda ajaib, dimana seluruh padang
“Bhunga Roda” berubah menjadi kebun yang besar.
Melihat itu orang-orang Dhawe yang
pergi mengambil garam di “Nanga Dhawe”
terus menyindir Wegu dengan kata-kata: “Kami
di Ola Dhawe saja belum menyiapkan kebun. Wegu telah menyiapkan kebun yang
begitu luas. Kenyataan untuk makanpun tak ada sebiji jagung dan padi. Mungkin
kebunmu yang begitu luas nanti ditanam dengan biji batu. Pasti setelah panen
engkau akan membawa hasil panenan dan kawanan kerbau yang diperoleh secara
ajaib dari Watu Doa.”
Demikianlah sindiran mosalaki dari Ola Dhawe yang melihatnya. Kesemuanya itu
diterimanya dengan tabah tanpa menaruh dendam.
Setelah hujan turun, Wegu menyampaikan
kepada Bu’e Jawa bahwa kebun sudah disiapkan dan akan ditanam. Bu’e Jawa
mengambil tempat sirihnya untuk mengambil bibit. Bu’e Jawa mengambil lima biji
labu (dalam bahasa Dhawe disebut “Kula” yang biasanya digunakan sebagai tempat
simpan makanan). Biji labu (kula) itu adalah penjelmaan dari sisik ikan
“Ngare”. Kelima biji labu itu disuruhnya tanam masing-masing biji pada 4
(empat) sudut kebun dan sebiji pada pertengahan kebun. Biji labu itu bertumbuh
dengan segar dan subur, sehingga dapat menjalar keseluruh kebun. Waktu
orang-orang Dhawe pergi ke Nanga Dhawe untuk menangkap ikan, kelihatan kebun
Wegu penuh dengan tanaman labu (=kula). Mereka heran lalu menyindirnya dengan
kata-kata: “Kami kira kebun ini ditanami
dengan padi dan jagung, padahalnya hanya labu. Tentu kalau biji labu ini telah
tua, jika dibelah nanti penuh berisi daging dan nasi. Pasti kami seisi kampung
akan diundang makan bersama dari hasil karya Wegu.” Wegu diam saja serta
tidak menjawab sepatah katapun.
Anehnya, waktu padi dan jagung di
kebun-kebun orang Dhawe mulai berbunga, labu dkebunnya berbunga juga, demikian seterusnya.
Wegu setiap pagi mengamati tanaman labu yang telah berbunga dan ada pula yang
telah berbuah. Bu’e Jawa menyuruh Wegu mencari beberapa buah labu yang telah
masak dan kering agar dibawa ke pondok.
Wegu mengambil beberapa biji labu yang telah tua serta dibawanya ke pondok. Bu’e
Jawa menyuruh Wegu membelahnya dan di dalamnya penuh berisi padi. Biarlah orang
mencela dan mengejek usahamu, namun engkau tak perlu kecewa. Lihatlah, labu
yang engkau tanam penuh berisi padi. Demikianlah hasil labu begitu lebat
bagaikan batu di kali.
Selanjutnya Bu’e Jawa menyuruh Wegu
mencari pucuk gebang untuk menganyam tempat padi sebanyak 1000 buah,
masing-masingnya sebesar lumbung warisan ayah Wegu Ana Ralo di Ola Dhawe.
Ketika orang-orang Dhawe mulai panen padi di kebun mereka, Wegu pun
mulai melakukan hal yang sama, memetik labu di kebunnya. Labu-labu yang telah
dipetik, dibelahnya serta isinya disimpan dalam tempat yang telah disiapkan (tempat
tersebut dalam bahasa Dhawe di sebut NOZA). Karena hujan turun terus-menerus
secara teratur, labu-labu itupun bertunas dan berbuah terus, sehingga hasilnya
berlimpah-limpah dan dapat mengisi tempat-tempat (Noza) yang telah disiapkan.
Pada suatu pagi, Wegu melihat bahwa daun-daun labu itu ada yang dimakan
binatang, namun tak dapat dipastikan binatang apa yang memakannya. Karena di
situ tak ada binatang liar seekorpun. Hal ini disampaikan kepada isterinya Bu’e
Jawa. Bu’e Jawa menyuruh Wegu menyiapkan bambu runcing (dalam bahasa Dhawe
disebut “tuba saba”) untuk menikami binatang yang memakan tanaman mereka.
Anjuran Bu’e Jawa dilaksanakan oleh
Wegu. Setiap malam Wegu selalu siap mengawasi kebunnya untuk menikam binatang
tersebut. Setelah beberapa malam berjaga dan pada malam kelima terdengar bunyi
rumput dan tanaman labu seperti diinjak oleh kawanan kerbau. Ternyata yang ada
hanya seekor ular besar (Nipa Meze). Ular besar itu lalu ditikamnya dengan
tombak dari bambu runcing yang telah disiapkannya. Semua peristiwa malam itu
diceritakan kepada Bu’e Jawa.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi benar
Bu’e Jawa menyuruh Wegu pergi melihat binatang yang ditikamnya tadi malam. Wegu
melaksanakannya dan pergi mencari binatang yang telah ditikamnya itu. Didapatinya seekor ular besar (Nipa Meze) di
luar kebun pada sebuah kubangan. Lalu hal ini disampaikan kepada isterinya Bu’e
Jawa. Bu’e Jawa menyuruh Wegu memagari keliling kubangan tempat ular besar itu
mati dengan pagar duri (=duri bidara) dan setiap pagi engkau harus
memeriksanya, sehingga dapat mengetahui apa yang terjadi selanjutnya. Semua
anjuran Bu’e Jawa dilaksanakan oleh Wegu. Demikianlah setiap pagi Wegu memberi
laporan hasil pengamatannya kepada Bu’e Jawa berturut-turut dari hari pertama
sampai hari ketujuh, antara lain sebagai berikut:
1.
Hari
pertama : di
kubangan sudah penuh ulat.
2.
Hari
kedua : ulat-ulat sudah sebesar jari kaki.
3.
Hari
ketiga : ulat-ulat sudah sebesar betis dan berkaki.
4.
Hari
keempat : ulat-ulat
sudah sebesar anak kerbau.
5.
Hari
kelima : ada kawanan kerbau, kuda, babi, kambing, domba, ayam dan anjing.
6.
Hari
Keenam : ada seekor anjing jantan yang besar bernama “JEBO”.
7.
Hari
ketujuh : ada dua orang laki-laki bernama “Nge dan Ngobo” untuk gembala
kerbau.
Setelah mendapat laporan terakhir pada
hari ketujuh, Bu’e Jawa menyuruh Wegu memanggil “Nge dan Ngobo” untuk ke pondok tinggal bersama mereka, lalu Bu’e
Jawa menyuruh Wegu ke Ola Dhawe menyampaikan kepada seluruh penduduk serta para
mosalaki di Ola Dhawe untuk menopang tiang-tiang rumah mereka agar jangan rusak
ditabrak kerbau, karena lagi tujuh hari Wegu bersama isterinya dengan kawanan
kerbau dan hewan-hewan lainnya akan masuk Ola Dhawe.
Demikian Wegu melakukan semua apa yang
telah dikatakan Bu’e Jawa. Pada keesokan harinya, Wegu pergi ke Kampung Ola
Dhawe untuk menyampaikan bahwa lagi tujuh hari ia akan masuk Kampung Ola Dhawe
bersama isterinya Bu’e Jawa beserta kawanan kerbau dan hewan-hewan lainnya.
Tetapi penyampaian ini tidak dihiraukan oleh penduduk dan mosalaki di Ola
Dhawe, malahan diterima dengan kata-kata fitnahan yang sangat menyakitkan hati
Wegu. Yang patuh pada penyampaian Wegu hanya seorang janda miskin dan karena
janda itu tak mempunyai anak dan pembantunya terpaksa dia meminta bantuan Wegu
menopang rumahnya dengan sebatang damar.
Sebelum kembali ke “Nabe”, sekali lagi Wegu menyampaikan
kepada penduduk Kampung Ola Dhawe: “Sungguh
aku beritahukan kepada kamu, bahwa lagi tujuh hari aku bersama isteriku Bu’e
Jawa akan masuk Kampung Ola Dhawe bersama kawanan kerbau dan hewan-hewan
lainnya, tetapi kamu akan saksikan sendiri, pada hari ketujuh nanti ke arah
Nabe dan Watu Doa sebelum matahari terbit, kamu akan lihat kepulan debu abu
yang membumbung tinggi ke angkasa, bahwa apa yang saya katakan ini adalah benar.”
E. Wegu
Ana Ralo Bersama Bu’e Jawa Masuk Kampung Ola Dhawe
Setelah hari ketujuh semua penduduk
Ola Dhawe mau menyaksikan apa yang telah dikatakan Wegu. Pagi hari sebelum
matahari terbit dari arah Watu Doa dan Nabe, kelihatan debu mengepul ke udara,
karena Wegu bersama kawanan kerbau dan hewan-hewan lainnya memasuki Kampung Ola
Dhawe.
Sebelum berangkat Wegu
memerintahkan kepada kerbaunya yang terbesar (kerbau jantan): “Keluarlah “Taso Pesa” dan “Mai Wali”, kamu
berjalan di depan mendahului kami bersama kawanan hewan yang lain dan
menantikan kami di Malawaka.” Lalu keluarlah Taso Pesa dan Mai Wali
berjalan di depan disusul oleh kawanan kerbau, kuda penuh dengan muatan padi
dan kawanan hewan lain, sedangkan Wegu Ana Ralo menggoncengi Bu’e Jawa dengan
seekor kuda yang gagah perkasa menyusul dari belakang.
Melihat kepulan debu makin dekat Ola Dhawe, semua penduduk Ola Dhawe
lari, separuh ke arah Sungai Aesesa dan separuh ke arah Sungai Ae Mau. Setelah Wegu Ana Ralo bersama
rombongan masuk Ola Dhawe menuju rumah Rajo
Goa, sedangkan kawanan kerbau langsung ke kandang yang bernama “Kopo Tana” (Kopo Tana = kandang alam).
Setelah seluruh muatan diturunkan dari kuda, barulah Wegu Ana Ralo memanggil
semua penghuni Ola Dhawe yang lari ketakutan bercampur malu kembali ke Ola
Dhawe. Semua rumah di Ola Dhawe dalam keadaan rusak berat kecuali rumah Rajo
Goa dan rumah seorang janda miskin.
Begitu semua mosalaki sudah berada di Ola Dhawe, Wegu Ana Ralo mengambil
seekor kerbau induk dan seekor kerbau jantan membuat pesta dan semua penduduk
Ola Dhawe diundang. Acara makan telah disiapkan dan hidangan dilaksanakan
dengan penuh ramah-tamah di halaman rumah Rajo Goa. Selesai makan Wegu Ana Ralo
mengambil dua tabungan bambu, satu tabungan bambu berisi tulang daging dan satu
tabungan bambu lagi berisi kerak nasi. Tulang dan kerak nasi itu dituangkan dihadapan
mosalaki sambil berkata:
“Inilah tulang daging dan kerak nasi
yang pernah diberikan kepadaku dahulu. Tetapi saya memberi kamu daging dan nasi
dengan hidangan yang paling baik. Saya tidak marah dan tidak menaruh dendam
kepada kamu. Jika saya berbuat seperti apa yang kamu lakukan kepada saya, saya
takut Tuhan (Ga’e Bapu = Tuhan Semesta) akan mengutuk saya. Tidak usah kuatir
bahwa saya akan membalas dendam.”
Mendengar dan melihat semua itu,
mosalaki-mosalaki menangis menyesali perbuatan mereka. Sesudahnya dilanjutkan
lagi dengan musyawarah bersama untuk memperbaiki rumah-rumah di Ola Dhawe serta
perencanaan “POGO PEO”, “MULA PEO”, dan “PARA PEO”.
F. Pogo
Peo dan Para Peo
Setelah direncanakan dengan matang
oleh Wegu Ana Ralo bersama isterinya Bu’e Jawa dengan mosalaki-mosalaki Ola
Dhawe, upacara “Pogo Peo”
diselenggarakan. Berhari-hari penduduk Ola Dhawe mencari kayu yang akan dijadikan
Peo tidak ditemui. Akhirnya baru ditemukan Kayu
Rebu di Pau Lowa yang
dihanyutkan dari Soa. Lalu
dilanjutkan lagi dengan acara “Bhei Peo”
(=Pikul Peo). Waktu Bhei Peo, Wegu berkata: “Miu
saka pu’u, nga’o saka lobo” (artinya: kamu naik bagian pangkal, saya naik
bagian ujung). Waktu Bhei Peo, salah seorang mosalaki Dhawe naik bagian pangkal
(depan), sedangkan Wegu naik pada bagian ujung (belakang). Dengan demikian Wegu
Ana Ralo tetap mengakui hak keturunan
Dhawe yang asli, walaupun pengembangan dan perluasan tanah Dhawe baru
pada masa Wegu Ana Ralo.
Setibanya di Ola Dhawe barulah mulai
dilangsungkan upacara “Mula Peo dan Para Peo”. Semua anggaran ditanggung
oleh Wegu Ana Ralo dan Bu’e Jawa. Untuk meriah-ramaikan pesta itu, maka diisi
acara-acara kesenian tarian dan tandak siang malam. Banyak orang yang datang
menonton dari segala penjuru.
Upacara “Para Peo” sebagai upacara inti ditunda terus selama lima hari lima
malam. Pada hari keenam, sementara Bu’e Jawa menari di halaman rumah, datanglah
seekor anjing jantan merah menjilat-jilat kaki Bu’e Jawa. Bu’e Jawa tahu bahwa
itu adalah anjing saudaranya dari Soa. Tak lama kemudian datanglah ketujuh
saudaranya dari Soa berturut-turut dari yang tersulung sampai kepada yang
bungsu yang dikawali oleh sekelompok orang Talukan
dari Poma (Ana Bhui Mara = orang
Talukan). Ketujuh orang saudara Bu’e
Jawa dari yang tersulung sampai kepada yang terbungsu yang datang ke Ola Dhawe
adalah Lape Ga’e, Tade Ga’e, Gaja Ga’e,
Gewo Ga’e, Gera Ga’e, Oba Ga’e dan
Eko Ga’e.
Akhirnya Bu’e Jawa berhenti menari dan
kembali ke rumahnya. Anjing jantan menyusul ke arah Bu’e Jawa jalan dan
tamu-tamu yang datang menyusul kemana anjing itu berjalan. Setelah sampai di
rumah Wegu Ana Ralo dan Bu’e Jawa, mereka berhenti dan duduk di halaman rumah.
Yang paling sulung meminta air minum, Bu’e Jawa menyuruh seorang gadis membawa
air minum, tetapi pelayanan dari gadis itu tidak diterima. Kemudian saudara
yang kedua minta air minum, Bu’e Jawa menyuruh seorang gadis yang lain membawa
air minum. Namun halnya sama sampai pada saudara yang keenam. Terakhir saudara
ketujuh meminta air minum. Untuk kali yang terakhir Bu’e Jawa sendiri yang
membawa air minum, Bu’e Jawa lebih dahulu kemudian tujuh orang gadis
masing-masing membawa air sekendi dan nyiru.
Pada saat Bu’e Jawa turun, orang-orang
Talukan (Ana Bhui Mara) dari “Poma” membentang kaki sehingga Bu’e Jawa berjalan
di atas paha mereka. Pelayanan baru diterima dan sebelum minum air ketujuh
saudaranya menuangkan perhiasan emas di atas nyiru. Jadi, ketujuh nyiru dituangkan
dengan perhiasan emas tujuh gebhe
(gebhe = tas tradisional yang diberi tutupan di atasnya yang dianyam dari daun
atau kulit bambu).
Bu’e Jawa duduk dan melihat wajah
saudara-saudaranya, maka ia duduk sambil menangis seraya berkata: “Miu teo nga’o ne’e riru wigu, bholo ko mo’o
dhoko nga’o laza logo. Miu bae nga’o ne’e rara kasa, bholo mo’o su’u nga’o laza
ulu” (artinya: kamu gantung saya dengan emas sampai kena bahu, tapi untuk
memikulnya saya sakit belakang. Kamu gantung saya dengan perhiasan tetapi untuk
menjunjung saya sakit kepala). Saudara-saudaranya mengerti bahwa ucapan-ucapan
yang berupa kiasan itu untuk meminta tenaga bantu, karena Bu’e Jawa tidak ada
anak.
Upacara Para Peo yang merupakan acara
inti baru dilaksanakan setelah Bu’e Jawa mengantar saudara-saudaranya ke penginapan, masing-masing sebuah panggung. Peo
ditanam di depan rumah Rajo Goa dan sejak itu sampai sekarang lokasi tempat
rumah Wegu Ana Ralo disebut “ANA WEGU”.
Selesai
upacara “Para Peo” ketujuh saudara Bu’e Jawa memohon diri kembali ke Soa,
tetapi Wegu Ana Ralo dan Bu’e Jawa meminta kesediaan mereka agar seorang putera
bungsu tetap tinggal di Ola Dhawe sebagai ahli waris karena Wegu Ana Ralo dan
Bu’e Jawa sendiri tidak mempunyai anak. Akhirnya Eko Ga’e tetap tinggal di Ola Dhawe dan diantarkan ke Au Radu, di rumah yang bernama “KELIKISA”. Eko Ga’e diserahkan hak
adat sebagai: “Tugu-Tugu Laba Jawa, Ku Ulu Enga Eko” (Tugu-tugu = bendera, Laba
Jawa = gendang, Ku Ulu Enga Eko = komando).
G. Saudara-Saudara
dari Bu’e Jawa Kembali ke Soa
Eko Ga’e tetap tinggal di Ola Dhawe sedangkan
keenam saudara dari Bu’e Jawa kembali ke Soa dengan membawa seratus ekor kerbau
yang terpilih dan garam. Pesan Bu’e Jawa: “Setiba
di Soa kamu kerjakan lumbung di tengah kampung, lalu bakar dan nanti akan
menjadi batu di tengah kampung. Batu itu untuk menjadi kenang-kenangan sampai
turun-temurun.”
Keenam saudara bersama pengikutnya kembali
ke Soa serta melaksanakan apa yang telah dipesan oleh Bu’e Jawa. Sebagai
kenang-kenangan, kampung “Wuli Lade”,
kampung asal Bu’e Jawa masih terdapat
tumpukan atau bukit garam di tengah kampung yang jaraknya kurang lebih 5
(lima) km dari “Kolu Penu”.
H. Fera
Dhawe
Yang bertugas menggembalakan kerbau
Wegu Ana Ralo dan Bu’e Jawa ialah “Nge dan Ngobo”, hasil penjelmaan dari ulat
bersamaan kerbau Wegu Ana Ralo. Pada satu sore kedapatan hampir sebagian besar
kerbau tidak masuk kandang. Maka Nge dan Ngobo pergi mencarinya di padang pengembalaan.
Setelah jauh malam kedengaran sekelompok manusia sedang mengadakan tandak.
Dengan penuh perhatian keduanya mengamati isi kata-kata yang diucapkan.
Kata-kata yang diucapkan adalah merupakan petuah atau nasihat yang sangat
berguna bagi masyarakat. Sekelompok manusia yang mengadakan tandak itu adalah
kerbau-kerbau yang bertukar kulit, menjelma menjadi manusia. Demikianlah selama
lima malam berturut-turut keduanya mengadakan pengamatan secara teliti. Setelah
dipahami semuanya, Nge dan Ngobo melaporkan hal tesebut kepada Wegu Ana Ralo
dan Bu’e Jawa. Wegu menyuruh Nge dan Ngobo agar tandak tersebut dilatih pula
kepada seluruh penghuni Ola Dhawe.
Kata-katanya berasal dari kerbau Wegu
Ana Ralo dan Bu’e Jawa (Penu Ga’e) yang selama 5 (lima) malam berturut-turut
menjelma menjadi manusia serta mengadakan tandak yang disebut “Oro Fera” (Oro=nyanyian).
Setelah diamati dengan teliti oleh pengembala kerbau yang bernama Nge dan Ngobo
bahwa kata-kata itu intinya berupa nasihat atau ajaran bagi masyarakat yang
harus dilaksanakan pada musim panas (Gua
- Leza). Jadi, Fera adalah salah
satu upacara kesenian musim panas (Gua - Leza), yaitu pada saat sesudah Go’a Dhawe (berburu adat Dhawe) dan
sesudah Baro Dhawe. Baik kata-kata
Fera sesudah Go’a Dhawe, yaitu sesudah Kose
Runga dilaksanakan Fera duduk, sedangkan pada saat “Pala Roga Bore” yaitu sesudah Baro
Dhawe dilaksanakan Fera berdiri, sambil memegang 17 (tujuh belas) tombak
yang ujung kayu tombaknya terpancang pada batu sebagai lambang persatuan dari
17 (tujuh belas) rumah adat (Sa’o Waja)
di Ola Dhawe serta haram dipecahbelahkan oleh Suku Dhawe.
Inti dan kesimpulannya adalah
merupakan ajaran atau nasihat yang harus dilaksanakan pada musim panas, yaitu:
- Bagian Pertama
|
Uaa...........uaa............
1.
Joro-joro
mai lodo-lodo, rili tolo teda ine, ta ngelu olo.
|
=
=
|
Marilah(=suara
kerbau memanggil kawan-kawannya).
Marilah turun dengan hati-hati,
duduk di atas balai-balai warisan
leluhur yang suci murni.
|
|
2.
Nara-nara
egu nara, pare-pare egu pare.
3.
Toko-toko
deto, gho bego rewo, koba imu rua melu mere, rebha-rebha ngeta walo
|
=
=
|
Marilah mencari tempat yang baik, untuk
menyimpan padi.
Tanaman yang tak berguna, batangnya
berkembang, dan dapat hidup kembali.
|
Pada bagian pertama ini adalah
merupakan persiapan dengan mengadakan musyawarah dan mufakat dalam keluarga
sebagaimana telah diwarisi oleh leluhur kita dahulu (no.1.), yaitu dengan mencari
atau mengumpulkan padi serta persipan lainnya, seperti menumbuk padi (=dho so’o dan dho meze), menentukan waktu
untuk pesta (no.2.). Dengan mengadakan pesta adat Kenduri (zebu kobe),
yaitu upacara penutupan orang mati, agar mereka dapat hidup bahagia di akhirat (=lau nitu wura), dengan demikian
hubungan arwah dengan keluarga yang masih hidup dapat terjalin, sedangkan
sebelumnya mereka hidup dalam kesengsaraan dan kemelaratan (no.3.). Dengan
mengadakan upacara adat seperti Sunat (tau
nuwa), yaitu upacara pendewasaan pada lelaki, mereka dapat dibolehkan untuk
memimpin upacara-upacara adat serta kepada mereka apabila mati dapat dilakukan
pesta adat Kenduri (=zebu kobe) yang berarti mereka dapat hidup bahagia di
akhirat (=lau nitu wura) (no.3.).
Demikian pula dengan upacara Potong Gigi (zaba ngi’i), yaitu upacara pendewasaan pada wanita. Pada wanita
yang telah melaksanakan upacara ini berarti mereka telah dewasa dan dapat
kawin. Bagi wanita yang belum melaksanakan upacara Potong Gigi bila kawin baik
resmi maupun tidak resmi, kepadanya dapat diberikan sanksi adat dengan memotong
kerbau. Jika hal ini tidak dilakukan, pasti akan mendapat kutukan Tuhan (Ga’e
Bapu=Tuhan Semesta) dengan sanksi tidak memberikan hujan yang teratur (no.3.)
pada musim hujan.
- Bagian Kedua
|
Eae.............
1.
Tau
ri’a dia nata kita, wari-wari pare iwa doe
2.
Putu-putu
api raza meze, enga-enga riwu mai nizu
|
=
=
=
|
Kata seru yang menyatakan ajakan.
Marilah menjaga halaman ini dengan
baik, menjemur padi agar jangan tercerai berai.
Marilah menghidupkan api (api
unggun), memanggil orang untuk berdiang.
|
Sebagaimana tertera pada bagian
pertama dengan mengadakan Kenduri (Zebu Kobe) sesuai keyakinan masyarakat adat,
arwah keluarga yang telah meninggal hidup dalam keadaan sengsara, penuh dengan
segala penderitaan dan melarat hidupnya di tempat perhentian terakhir (=lau
nitu wura) dan sesudah Kenduri mereka dapat hidup bahagia dan dengan
perantaraan mereka dapat membantu keluarga yang masih hidup baik rohani maupun
jasmani. Dengan demikian hubungan dan persatuan antara arwah si mati dengan
keluarga yang masih hidup tetap terjalin (no.1.).
Demikian pula dengan upacara pendewasaan
seperti Sunat (=tau nuwa) dan Potong Gigi (=zaba ngi’i) semua handai tolan dan
kaum keluarga diundang sebagai lambang persatuan dan perdamaian baik sesama
yang masih hidup maupun dengan arwah si mati (no.2.).
Di samping itu juga dapat makan
bersama bersuka ria dengan mengadakan Tandak, dimana terdapat kata-kata dalam
bentuk pantun atau pepatah yang berisi nasihat atau sindiran yang bermanfaat
bagi masyarakat (no.2.).
Pantun atau pepatah ada yang bersifat
bebas, tapi ada pula kata-kata yang bersifat umum dan merupakan pertanyaan atau
ajakan pada setiap Tandak, seperti:
|
- Ai mona atau ai manga mona
- Rai mona atau rai ka ne mona
(rai kau ko ne mona)
|
=
=
|
Yang ditekankan pada kata tanya
“apakah”, berarti apakah masih ada atau tidak nasihat-nasihat? Jika tidak ada
yang menyambung dapat diteruskan dengan yang lain (no.2.)
Yang ditekankan pada kata tanya
“maukah”, berarti maukah kamu mendengarkan nasihat atau tidak? (no.2.)
|
- Bagian Ketiga
|
Eaee............
1.
Apa
mite-mite sama moso, ana-ana ede wari wudu wea
2.
Rebha-rebha
wudu wea, Kiki gale tuna rame
|
=
=
=
|
Kata seru yang menyatakan ajakan
Apa gumpalan hitam di sana, tempat
menjemur pancing emas?
Lepaskan pancing emas,
guna mendapatkan belut.
|
Pada bagian ketiga memberi petunjuk
bahwa hanya pada musim panas masyarakat dapat menyiapkan diri untuk menangkap
ikan, udang, dan belut dengan menggunakan alat-alat tradisional yang ada (no.1.dan
no.2.).
- Bagian Keempat
|
Ooo......eaee.........
1.
Be-be
nio lewa, mara belu molo walo
2.
Poja-poja
ana jara Wio,
bana pawe ma’e pengi
nenu
3.
Pawe-pawe
mema nuwa ame, nuwa ame mona gore noa, noa talo
4.
Raba-raba
mema nuwa ana, nuwa ana, ine oee....ma’e taku gore
|
=
=
=
=
=
|
Kata seru yang menyatakan ajakan
Kelapa tinggi walaupun miring (bila
ditiup angin) dapat tegak kembali
Jika melatih kuda Wio (Sumba),
setelah terlatih jangan melihat
bayangan.
Lebih baik masa dulu,
masa dulu tidak mengalami kesulitan
dan tantangan.
Tapi masa kini,
masa kini jangan putus asa
menghadapi kesulitan/tantangan.
|
Pada bagian kekempat menasihatkan,
bahwa segala kekeliruan atau kemalasan dalam kehidupan sehari-hari dapat
diperbaiki bila kita insyaf dan sadar (no.1.). Kepada orang tua harus melatih
anaknya bekerja untuk memenuhi segala kebutuhan demi kesejahteraan keluarga
baik rohani maupun jasmani dan tidak boleh bersikap masa bodoh (no.2.). Alangkah
baiknya masa dulu, tidak mengalami kesulitan (no.3.) Tapi masa kini harus
bekerja keras walaupun mengalami segala tantangan (no.4.).
- Bagian Kelima
|
1.
Ine
bupu dewe reta tolo, wa’u nai mara pedha pele
2.
Ana
manu mudhu reta tolo ghubu, eru leku au tengu
3.
Ana
bheku noa noka weki, eru pale au zala
4.
Mo
re’e ana manu lalu milo, kera-kera mona tei taso, daro-daro mona tei taso,
nga so.... ma leki rili kopu tana kore.
|
=
=
=
=
|
Seorang perempuan tua tadi
turun naik sambil menyindir
Jangan seperti ayam bertengger di
atas bubungan, tidur bermalasan
Jangan seperti musang meraung-
raung menyerah diri pada nasib,
tidur berbaring di pinggir jalan
Jangan seperti ayam jantan sehat
dan tegap tubuhnya, walaupun dipanggil tak
sudi kembali, meminta-minta tak sudi kembali mungkin sampai ke tanah seberang.
|
Pada bagian kelima merupakan nasihat orang
tua dalam bentuk kiasan (no.1.) kepada masyarakat agar:
- Jangan seperti ayam bertengger di
atas bubungan tidur bermalasan. Manfaatkan kaki dan tangan serta gunakan
waktu kerja dan istirahat pada tempatnya agar kita dapat hidup bahagia dan
sejahtera (no.2.).
- Jangan seperti musang yang
meraung-raung dan tidur di pinggir jalan untuk menyerahkan dirinya kepada
celaka (biasanya musang yang telah mempunyai telur delapan biji). Tetapi
bekerjalah demi kebahagiaan dan kesejahteraan baik untuk diri sendiri
maupun keluarga dengan tidak takut menghadapi kesulitan atau tantangan (no.3.).
- Jangan seperti ayam yang sehat
dan tegap tubuhnya. Hanya berjalan ke sana ke mari, mengais-ngais mencari
makan tak tentu arahnya. Walaupun dipanggil oleh tuannya, tidak sudi kembali.
Kita harus mengikuti dan taat akan nasihat orang tua, supaya bekerja keras
sesuai kalender kerja adat dari Gua
Ru sampai Gua Leza, demi
kebahagiaan diri sendiri maupun keluarga, agar kita jangan hidup meminta-minta
dari rumah ke rumah, dari kampung ke kampung, bahkan sampai ke tanah
seberang (=ke pulau-pulau lain). Kita harus bekerja keras dengan
mengeluarkan keringat sendiri dan jangan meminta-minta atau mengemis dari
hasil keringat orang lain (no.4.).
- Bagian Keenam
|
1.
Lelu
wela-lelu wela wula molo, ko na lelu oee.......
2.
Pada-pada
imu taru jawa,
sa wae mite mema
3.
Pada-pada
imu pau jawa,
sa rua reki mema
4.
Ura
suta Sina Goru,
Ko na goru oee.....
5.
Dhengi
Jei keli rili,
ko na Dhengi oee.....
|
=
=
=
=
=
|
Kapas yang mekar tepat waktunya
adalah kapas yang tinggi mutunya
Pendek-pendek tarum jawa,
sekejap terus menghitam
Pendek-pendek mangga jawa
(mangga kecil),
sekali mendidih terus melekat
Benang Cina/benang sutra yang
dibawakan oleh Ana Kodha Goru
Dhengi Jei di balik gunung sana,
itulah teladan yang patut ditiru.
|
Pada bagian keenam, mengajak kaum
wanita untuk bertenun, agar
kaum wanita dapat memanfaatkan kapas yang mekar dan segar pada waktunya, supaya
diolah dengan alat-alat tradisional (no.1.), memanfaatkan tarum untuk menghitamkan
benang (no.2.). Manfaatkan kulit mangga kecil (pa’u Jawa) walaupun pohonnya
pendek dan kecil tapi sangat tinggi mutunya, jika direbus, sekali mendidih
terus melekat pada benang yang telah dihitamkan dengan tarum sehingga tidak
luntur (no.3.).
Dhengi Jei yang tinggal menyendiri di balik
gunung sana adalah keturunan Dhawe dan Dhengi, penghuni asli Ola Dhawe
merupakan wanita yang memberi teladan kepada kaum wanita, bekerja keras serta
tekun mulai dari pengolahan kapas menjadi benang, menghitamkan benang dengan
tarum, mencelup benang pada kulit mangga setelah direbus agar tahan luntur,
bertenun (no.5.) akhirnya menjadi kain yang tidak kalah mutunya dengan benang
Cina atau benang sutra yang dibawakan oleh Ana Kodha Goru, pedagang
Goa-Makassar yang pertama kali sampai di Ola Dhawe.
- Bagian Ketujuh
|
1.
Apa
giku-giku zeta tuka lizu, giku
tuka ae uza
2.
Wonga-wonga
ruma lepa tolo wolo, sama-sama keka moa poa (=ma poa).
|
=
=
|
Belang apa di atas langit,
belang mendung air hujan
Bunga turi di gunung sana, bagaikan
kakatua di waktu pagi.
|
Pada bagian ketujuh, mengajak
masyarakat untuk mempersiapkan kebun karena tanda-tanda awan mendung, bintang “Ko” di arah barat pada malam hari
tidak timbul lagi, bintang “Nio”
pada sore hari di arah selatan telah tenggelam (no.1.), bunga turi bagaikan
kakatua di waktu pagi serta tumbuh-tumbuhan yang gugur mulai bertunas (no.2.)
menandakan bahwa tidak lama lagi akan turun hujan.
Demikian penjelasan singkat yang
merupakan pedoman hidup warisan leluhur kita yang diturunkan sejak Wegu Ana
Ralo dan Bu’e Jawa. Pada setiap kali menutup kesenian adat Dhawe, seperti Oro Fera (Oro=nyanyian, lagu), Rido dan lagu sesudah tinju (Pata Eko Etu) selalu ditutup dengan
kalimat: ”Putu-putu api raza meze,
enga-enga riwu mai nizu. Tau ri’a-ri’a dia nata kita, wari-wari pare iwa doe.”
Berarti tetap mengajak masyarakat untuk musyawarah dan bersatu agar semua
rencana kerja dapat tercapai.
Selesai Fera waktu Pala Roga Bore sesudah Baro Dhawe semua
anggota “Roga Bore” berdiri berbaris
sambil memegang tombak dan menjepit biji batu pada jari kaki dengan muka
menghadap ke arah timur atau matahari terbit lalu menghitung:
Esa (satu), zua (dua),
telu (tiga), wutu (empat), lima bhisa (lima perbuatan yang baik dan suci) dengan menendang biji batu ke
belakang atau ke arah matahari terbenam. Berarti semua perbuatan yang buruk,
kemalasan seperti yang dilakukan oleh ayam, musang dalam kata-kata Fera harus dibuang
atau ditendang, tenggelam bersama matahari, hanyut bersama air dan sekarang
menuju matahari terbit mengikuti teladan “Dhengi
Jei” serta bekerja keras dan tombak sebagai alat perang harus berjuang
melawan kemiskinan serta kemelaratan.
I.
Penutup
v
Kesimpulan
Setelah memperhatikan bacaan cerita
rakyat Wegu Ana Ralo dapat disimpulkan bahwa:
- Penduduk asli Ola Dhawe sejak
dahulu telah ada hubungan dagang dengan pedagang-pedagang Goa-Makassar.
- Hasil perdagangan dari negara
luar masuk Ola Dhawe melalui pedagang Goa-Makassar, seperti: piga Sina
(piring Cina), tana Sina (gumbang Cina), ura suta Sina (benang sutra/benang
Cina), pane Sina (piring yang dibuat dari tanah liat).
- Cerita Wegu Ana Ralo bukan merupakan
dongeng walaupun jalan ceritanya bersifat khayalan. Hal ini terbukti
dengan adanya peningalan-peninggalan masa itu, seperti:
·
Pintu
bekas kandang kerbau Wegu Ana Ralo.
·
Senjata/pedang
Wegu Ana Ralo sebagai alat perang yang bernama “KAMU KE’O”.
·
Sisa
kepingan peti Wegu Ana Ralo dan Bu’e Jawa dengan ukiran sisik ikan.
·
Peo
di Ola Dhawe, yang kayunya berasal dari Soa, membuktikan kebudayaan Peo itu
berasal dari Soa.
·
Nama
Penu Ga’e setelah di Ola Dhawe berubah menjadi Bu’e Jawa (Gadis Jawa),
membuktikan kejadian Wegu Ana Ralo dan Bu’e Jawa terjadi pada masa perluasan
kerajaan Jawa ke NTT. Hasil kebudayaannya terbukti dengan nama: Tugu-tugu
(bendera), Laba Jawa(gendang), pane Jawa (piring yang dibuat dari tanah liat). Hasil-hasil
tanaman, seperti : jawa (jagung), muku jawa (pepaya), pau jawa (mangga) dsb.
·
Keturunan
Eko Ga’e dapat dibuktikan dengan silsilah
keturunan hingga saat sekarang.
v Usul
dan Saran
Agar cerita ini tetap utuh sesuai
catatan tertulis tahun 1940 dan tahun 1957 diharapkan agar:
·
Dapat
dibukukan sebagai bahan sejarah atau cerita rakyat.
·
Rumah-rumah
adat / Sa’o Waja dapat dipugarkan kembali dan benda-benda peninggalan yang
masih ada dapat ditertibkan.
·
Demi
penyelamatan peninggalan-peninggalan yang masih ada kiranya ada perhatian dari
pemerintah mendorong Suku Dhawe untuk membangun sebuah museum tempat penyimpanan
benda-benda tersebut.
BAB IV
SEJARAH SINGKAT SUKU DHAWE
A. Penghuni Kampung Ola Dhawe
Ola Dhawe adalah tempat yang strategis dari segi keamanan,
karena terletak di atas puncak bukit yang dikelilingi oleh jurang sehingga sangat
sulit musuh menyerang kampung tersebut. Yang menghuni kampung Ola Dhawe terdiri dari 5 ( lima )
keluarga besar dengan rumah – rumah adat yang terletak dari “Ulu Ola Dhawe” sampai “Eko Dhoa Kata”, antara lain sbb:
- Rumah
Kowa Dhawe (Sa’o Pu’u = Rumah Induk)
a)
Tugas: “Waka Ola” = Gili Ola (Waka Ola
= Naga Kampung, Gili Ola = Pelindung Kampung).
b)
Terletak di Ulu Ola Dhawe.
c)
Merupakan penghuni pertama sejak
sejarah terjadinya Ola Dhawe.
d)
Berasal dari keluarga “Dhawe” (lk) dan
Dhengi (pp).
e)
Mempunyai pembantunya dengan rumah / Sa’o
Waja yang bernama “Dhengi – Dhawe”.
f)
Memberikan kuasa kepada Ana Kodha Goru
atau Ana Kodha Goa untuk menjaga keamanan di laut dan darat (Ana Kodha =
Nahkoda yang bernama Goru berasal dari Goa – Makassar).
2. Rumah Rajo Goa (Sa’o Pu’u)
a) Dari
keluarga Ana Kodha Goru atau Ana Kodha Goa.
b) Tugas:
menjaga keamanan di laut dan darat = Mosa Sike, Laki Bani.
c) Berasal
dari Goa – Makassar.
d) Bertempat
di Ana Wegu.
e) Peo
yang pertama di Ola Dhawe sebagai lambang kekuasaan atas tanah baru pada masa
Wegu Ana Ralo dan Bu’e Jawa (Penu Ga’e), sehingga urutan tempat “Ana Wegu” merupakan
urutan kedua dari Ulu Ola Dhawe.
f) Menurut
Bapak Saparaja tahun 1940, Kayu Rebu yang ditemukan di Pau Lowa berasal dari
Soa yang dihanyutkan melalui Sungai Aesesa. Berarti kebudayaan Peo itu berasal
dari Soa.
g) Waktu
pikul Peo (Bhei Peo), Wegu berkata: “Miu
Saka Pu’u, Nga’o Saka Lobo.” Berarti Wegu tetap mengakui kekuasaan keluarga
Dhawe sebagai orang pertama di Dhawe walaupun “Peo” sebagai lambang kekuasaan
atas tanah dan perang perluasan tanah (Tana Meze Watu Lewa) baru pada masa Wegu
Ana Ralo dan Bu’e Djawa (lihat perang Wegu Ana Ralo I dan II).
h) Memiliki
3 (tiga) rumah cabang (Sa’o Wa’u) sebagai pembantunya ialah:
v
Rumah Jo Mara
v
Rumah Dhoa Goa
v
Rumah Talo Keli
i) Kekuasaan
dan hak dari Wegu Ana Ralo atas Peo Induk (Peo Raki = Laki–laki) diserahkan
kepada Eko Ga’e saudara dari Bu’e Djawa (Penu Ga’e) dengan hak “Tugu –Tugu Laba
Jawa, Ku Ulu Enga Eko” yang berlaku hingga sekarang ini.
3. Rumah Kelikisa (Sa’o Pu’u)
a) Terletak
di Au Radu (sebagai urutan ketiga dari Ulu Ola Dhawe, Ana Wegu dan Au Radu).
b) Dari
keluarga Eko Ga’e.
c) Pemegang
kuasa “Tugu – Tugu Laba Jawa, Ku Ulu Enga Eko”.
d) Dari
keturunan Eko Ga’e, pada masa Dhima dan No mulai diadakan pembagian rumah dan
kekuasaan/hak adat.
e) Dhima
(kakak sulung) tetap tinggal di rumah Kelikisa (Sa’o Pu’u ), sedangkan No turun dan tinggal
di rumah yang bernama Tongananga.
f) Keluarga
Dhima tinggal di rumah “Kelikisa”
dengan tugas “Ku Ulu Enga Eko” melalui “Na’u Gua Ru dan Gua Leza” sedangkan No (adik dari Dhima)
tinggal di rumah yang bernama “Tongananga”
dengan tugas “Tugu–Tugu Laba Jawa”.
4. Rumah Tongananga (Sa’o Wa’u)
a) Terletak di Au Radu.
b) Dari keluarga No, memberi tugas lagi kepada:
v
Rumah Aja Eko yang terletak di “Wolo Boko”
sebagai “Tudhi–Dhedhe” untuk melaksanakan upacara adat Potong Gigi (Zaba Ngi’i)
sebagai upacara pendewasaan pada wanita
dan Sunat (Tau Nuwa) sebagai upacara pendewasaan pada laki-laki.
v
Rumah Nata Nio dengan diberikan tugas adat
sebagai
“Lako Bore” (pasukan perintis).
5. Rumah Gako Tasi (Sa’o Pu’u)
a) Terletak
di Au Radu, di samping rumah Tongananga.
b) Dari
keluarga Dhae Bhubhu, berasal dari Goa–Makassar.
c) Ditugaskan
untuk menjaga keamanan di pantai (perang Dhae Bhubhu dalam membantu Ndait Lewe
melawan bangsa Portugis) = Mosa Sike, Laki Bani.
d) Sebagai
pembantunya 3 (tiga) rumah adat, yaitu:
v
Rumah
Maro Jiu terletak di Au Radu, di samping
rumah Gako Tasi.
v
Rumah
Makawawo – terletak di Wolo Boko dengan tugas
sebagai “Lako Bore”.
v
Rumah Dadhowawo – terletak di Wolo Boko.
6. Rumah Tiwu Tasi (Sa’o Pu’u)
a) Terletak
di Kali.
b) Bertugas
sebagai “Guru”, yaitu: memimpin lagu/kesenian
dalam
pelaksanaan seremoni adat Gua Ru sampai Gua
Leza seperti Masi Ae, Po Laku, Fera, Rido, dan
Pata Eko
Etu (sesudah tinju).
c)
Mempunyai pembantunya dari keluarga:
v
Rumah Kota Kali – terletak di Kali.
v
Rumah Raza Meze – terletak di Kali.
7.
Dhoa
Kata = Keluarga yang berdiam
di Dhoa Kata telah punah,
tanpa
meninggalkan keturunan.
B. Pembagian Tugas Seremoni Adat
Dalam pelaksanaan Seremoni Adat sebagai
puncak persatuan dan kesatuan dari Suku
Dhawe ialah “Baro Dhawe” yang dilakasanakan
oleh 17 (tujuh belas) rumah adat / Sa’o Waja dengan perincian sbb:
|
NO.
|
NAMA RUMAH /SA’O WAJA
|
ALAT YG DIPAKAI
|
LOKASI / TEMPAT
|
TUGAS / FUNGSI
|
KETERANGAN
|
|
01.
|
KOWA
DHAWE
|
TOMBAK
|
ULU
OLA DHAWE
|
WAKA
OLA / ANGGOTA
|
WAKA
OLA = NAGA KAMPUNG;
GILI
OLA = PERISAI, PELINDUNG KAMPUNG
|
|
02.
|
DHENGI
DHAWE
|
TOMBAK
|
ULU
OLA DHAWE
|
ANGGOTA
|
|
|
03.
|
RAJO
GOA
|
TOMBAK
|
ANA
WEGU
|
ANGGOTA
|
MOSA
SIKE, LAKI BANI =
PANGLIMA
PERANG
|
|
04.
|
JO
MARA
|
TOMBAK
|
ANA
WEGU
|
ANGGOTA
|
|
|
05.
|
TALO
KELI
|
TOMBAK
|
ANA
WEGU
|
ANGGOTA
|
|
|
06.
|
DHOA
GOA
|
TOMBAK
|
ANA
WEGU
|
ANGGOTA
|
|
|
07.
|
KELIKISA
|
TOPO
|
AU RADU
|
KU ULU ENGA EKO / KETUA
|
KU ULU ENGA EKO = KOMANDO
|
|
08.
|
TONGANANGA
|
TOMBAK
|
AU RADU
|
TUGU
- TUGU LABA JAWA / ANGGOTA
|
TUGU
- TUGU = BENDERA; LABA JAWA = GENDANG
|
|
09.
|
NATANIO
|
TOMBAK
|
AU RADU
|
LAKO
BORE / ANGGOTA
|
LAKO
BORE = PASUKAN PERINTIS
|
|
10.
|
AJA
EKO
|
TOMBAK
|
WOLO
BOKO
|
TUDHI
DHEDHE / ANGGOTA
|
TUDHI
DHEDHE = PELAKSANA UPACARA SUNAT & POTONG GIGI
|
|
11.
|
GAKO
TASI
|
TOMBAK
|
AU RADU
|
ANGGOTA
|
MOSA
SIKE,LAKI BANI = PANGLIMA PERANG UNTUK MENJAGA PANTAI
|
|
12.
|
MARO
JIU
|
TOMBAK
|
AU RADU
|
ANGGOTA
|
|
|
13.
|
MAKAWAWO
|
TOMBAK
|
WOLO
BOKO
|
LAKO
BORE / ANGGOTA
|
LAKO
BORE = PASUKAN PERINTIS
|
|
14.
|
DADHOWAWO
|
TOMBAK
|
WOLO
BOKO
|
ANGGOTA
|
|
|
15.
|
TIWU
TASI
|
TOMBAK
|
KALI
|
GURU
/ ANGGOTA
|
GURU
= LAGU; PEMIMPIN KESENIAN
|
|
16.
|
KOTA
KALI
|
TOMBAK
|
KALI
|
ANGGOTA
|
|
|
17.
|
RASA
MEZE
|
TOMBAK
|
KALI
|
ANGGOTA
|
Dalam pelaksanaan Baro Dhawe yang dilaksanakan setahun
sekali terdiri dari 4 (empat) kelompok “Maro
Roga Bore”, yaitu:
1.
Kelompok Induk / Maro Meze : untuk
semua rumah / Sa’o Waja yang terletak di Au Radu dan Wolo Boko, yaitu: dipimpin
oleh rumah Kelikisa dengan
anggta-anggotanya dari rumah Tongananga, Aja Eko, Gako Tasi, Maro Jiu,
Makawawo, Dadhowawo, sedangkan rumah Natanio diserahkan tugas sebagai pasukan
perintis/ pengawal untuk rumah Kowa Dhawe.
2.
Kelompok kedua : untuk rumah-rumah / Sa’o
Waja yang terletak di Ulu Ola Dhawe yang dipimpin oleh rumah Kowa Dhawe dengan
anggotanya dari rumah Dhengi Dhawe.
3.
Kelompok ketiga : untuk rumah-rumah / Sa’o
Waja yang terletak di Ana Wegu. Dipimpin oleh Rumah Rajo Goa dengan anggotanya
dari rumah Jo Mara , Talo Keli, dan Dhoa Goa.
4.
Kelompok keempat : untuk rumah-rumah / Sa’o
Waja yang terletak di Kali. Dipimpin oleh rumah Tiwu Tasi dengan
anggota-anggotanya dari rumah Kota Kali dan Rasa Meze.
Dalam pelaksanaan Seremoni Adat “RIDO”, yaitu penyembelihan anjing di atas “Waka Ola” yang berlokasi di Ulu Ola Dhawe, yang berhak
menyembelihkan anjingnya di atas Waka Ola, yaitu dengan urutan anjing dari
rumah Kowa Dhawe dan urutan kedua
adalah anjing dari rumah Kelikisa,
sedangkan anggota-anggota dari rumah lain, anjingnya tidak di sembelih tetapi
hanya dipukul. Upacara ini ditutup dengan “Lagu
Rido”.
C. Nama - Nama Suku
Dhawe merupakan satu kesatuan hukum adat
Dhawe yang berpusat di Ola Dhawe
sebagaiman ternyata dalam sebutan Baro
Dhawe, Goa Dhawe, Tanah Dhawe dan sebagainya. Tanah Dhawe merupakan
kumpulan dari 5 (lima) keluarga besar penghuni Kampung Ola Dhawe yang terdiri
dari 5 (lima) fungsionaris adat Suku Dhawe sesuai dengan Peo yang ada di Ola Dhawe.
Hal ini ternyata dalam surat-surat pernyataan / penyerahan
tanah yang menjadi bukti tertulis sebagaimana tercantum di atas pada masa
Swapraja Nagekeo pada:
- Surat Penyerahan Tanah Gereja di Wolo
Ebe tertanggal 1 Oktober 1941 menyebutkan: pemilik-pemilik Tanah Dhawe
atas nama; Lukas Dori, Saparaja, Bao
Busa, dan Dhae Teze.
- Surat Keputusan Bersama Tuan Tanah
Dhawe tertanggal 15 Maret 1958, menyatakan atas nama Suku Dhawe:
v
Papu
Rae : atas nama suku
dari rumah Tongananga.
v
Sape
Tima : atas nama suku
dari rumah Rajo Goa.
v
Sepi
Reo : atas nama suku
dari rumah Gako Tasi.
v
Atu
Gore : atas nama suku
dari rumah Tiwu Tasi.
Catatan:
Lukas Dori dari rumah Kowa Dhawe
tidak hadir.
- Pernyataan dari para Tuan Tanah
Dhawe tertanggal 1 April 1961 mengenai Laporan Tanah Suku, dinyatakan atas
nama Suku Dhawe: 1) Dori Noe, 2) Sape Tima, 3) Papu
Rae, 4) Atu Aribapa, dan 5)
Sepi Reo.
Pernyataan-pernyataan pada masa Swapraja sesuai dengan
sebutan Tanah Dhawe, Baro Dhawe, dan Goa Dhawe. Tetapi selanjutnya setelah
Swapraja dibubarkan dan diganti dengan kecamatan, mulai merubah dan memecah belahkan
Suku Dhawe menjadi 5 (lima) suku.
Hal ini ternyata dalam pernyataan / penyerahan tanah Irigasi Mbay yang ditandatangani oleh Herman Ngebu, Servas Sandino dan Mathias Padha Djawa tertanggal 5 Mei 1970
di atas konsep yang telah dicetak dan menurut Camat Aesesa (Domi Dagang) tidak bisa dirubah. Dalam pernyataan / penyerahan
tersebut menyatakan; “Yang menyerahkan /
pihak pertama atas nama tuan tanah mewakili:
1.
Kosmas Laha : Kepala Suku Kowa Dhawe
2.
Piet Bhela : Kepala Suku Tiwu Tasi
3.
Ibrahim Remang : Kepala Suku Rajo Goa
4.
Laki Dhawe : Kepala Suku Tongananga
5.
Robertus Dhae : Kepala Suku Gako Tasi
…………….dan seterusnya untuk Suku Keko Lape /
Nataia.”
Selanjutnya dalam pernyataan Suku Dhawe tertanggal 22 Juli 1972
dengan pemakaian nama suku sehingga Suku Dhawe dinyatakan 5 (lima) suku sesuai pernyataan penyerahan
tanah tertanggal 5 Mei 1970, yaitu:
1.
Kepala Suku Kowa Dhawe : 1) S. Laru Dhawe,
2) E. Dula
Dori.
2. Kepala Suku Tongananga :
1) Kons Nitu Papu,
2) Bernabas
Bebi Poto.
3. Kepala Suku Rajo Goa : 1) Ibrahim Remang Lantong,
2) A. Daeng
Maro.
4. Kepala Suku Tiwu Tasi : 1) Paulus Atu Gore,
2) Petrus Bhela.
5. Kepala Suku Gako Tasi : 1) Abubakar Sepi Reo,
2) Robertus
Dhae Beri.
Dan selanjutnya hingga saat-saat terakhir mulai menggunakan
nama suku yang sebenarnya adalah Rumah Adat / Sa’o Waja.
D. Penutup
Setelah memperhatikan urutan tempat tinggal di Ola Dhawe dari Ulu Ola Dhawe sampai Eko
Dhoa Kata dapat disimpulkan bahwa;
- Suku Dhawe terdiri dari 5 (lima)
keluarga besar dengan urutan sbb:
a.
Keluarga Dhawe.
b.
Keluarga Ana Kodha Goru.
c.
Keluarga Eko Ga’e.
d.
Keluarga Dhawe Wio.
e.
Keluarga Dhae Bhubhu.
- Dhawe hanya mengenal satu kesatuan
adat dan tanah Dhawe yang terdiri dari
5 (lima) fungsionaris adat dengan tugasnya masing-masing dan bukan terdiri
dari 5 (lima) suku.
3.
Nama Suku-suku Dhawe yang dikenal
sekarang ini adalah nama rumah adat , bukan
nama suku.
BAB V
SEJARAH TERBENTUKNYA IBU KOTA
KECAMATAN AESESA
A. Asal Mulanya Nama Danga
Danga
adalah sebuah dusun atau kampung yang diberi nama oleh Li Ema dari keluarga Dhima
Gamo sebagai orang pertama yang menghuni tempat ini. Nama ini diberi
menurut nama sejenis kayu yang sangat bermutu untuk bahan bangunan rumah. Nama Danga yang aslinya disebut “Danga Kapa” yang berarti hutan Danga yang
rimbun dan rindang daunnya.
Kemudian menyusul lagi dari keluarga No, yaitu Doy Bay, Wu Bay (Wu Bay kuburnya masih di Ola Dhawe di depan rumah Tongananga), Rae Sigi dan Danga Sigi. Dengan adanya kelompok kedua ini “Danga Kapa” dipecahkan lagi sehingga
menjadi 2 (dua) kampung, yaitu Dangawawo
tetap dihuni oleh keluarga Li Ema dan
Danga Au untuk keluarga Doy Bay, Wu
Bay, Rae Sigi dan Danga Sigi.
Pada masa Ngada Woga, Podi Woga, Bheo Woga, Ameka’e Pay, Fa Pay (=Fa Pay
tinggal bersama dengan Bapak kecilnya Li
Ema di Dangawawo), dan Busa Fe’a
menghuni tempat yang bernama “Todoboa”.
Nama ini diberikan demikian, karena di situ banyak hutan kapok. Jadi yang dimaksudkan
dengan “Danga” sebelum terbentuknya Kerajaan
Nagekeo adalah Dangawawo, Danga Au
dan Todoboa. Baik dari keluarga Dhima maupun keluarga No semuanya berasal dari Kampung “Ola Dhawe”, rumah Kelikisa dan Tongananga,
kemudian disusul lagi dari keluarga-keluarga di Ola Dhawe, seperti keluarga dari
rumah Gako Tasi, Aja Eko, dan Rajo Goa.
Selain keluarga dari Ola Dhawe sejak sebelum
kedatangan Belanda tahun 1904, ada pula keluarga dari suku tetangga, yaitu Lape dan Rendu berpindah tempat dan tinggal bersama-sama di Danga.
B. Danga
Sebagai Tempat Yang Strategis
Sejak kedatangan Belanda yang pertama tahun 1904 melalui
Riung dan dari Riung ke timur serta
berlabuh di pantai “PUTA” yang dipimpin
oleh Kapten Christoffel bersama
anggota-anggotanya yang dikenal, yaitu Spander,
Saragouw, Saymina, Letnan Van der Maulen (=oleh penduduk disebut “Tua Bhara”)
dan pengikut-pengikutnya yang oleh penduduk disebut “Tua Mite” atau Belanda
Hitam, seperti Lobo, Dida, Koro dan
lain-lain yang tidak dikenal nama oleh penduduk (Tua=Tuak karena warna kulitnya
seperti moke putih, Tua Bhara=Belanda Putih, Tua Mite=Belanda Hitam). Sebagai tempat
penyeberangan pada sebuah kolam dibuatkan jembatan yang disebut “Padha Lobo”, yaitu jembatan yang dikerjakan
oleh “Lobo” pengikut Belanda.
Dari situ mereka terus mencari
tempat yang tampan untuk di jadikan markas, yaitu di “Wolo Ebe” (sekarang disebut Gunung
Batu) tempat mana berada di antara Danga
Kapa (Dangawawo sebelum pindah tahun 1955) dan ”Wolo Makassar” (Kampung Mbay-Dam sekarang), yaitu tempat yang
pernah didiami oleh orang Makassar.
Kapten Christoffel menawarkan “Li
Ema” untuk menjadi raja tapi tawaran itu ditolak. Di Wolo Ebe Belanda merasa kurang aman karena
kedatangan mereka pertama disambut dengan dentuman meriam, apalagi pada saat kedatangan mereka
telah ada perbentengan (pagar batu) yang cukup kuat (bekasnya masih ada di Dangawawo, sekarang antara kandang
kerbau menuju arah Sungai Aesesa) dalam
persiapan menanti serangan “Roga Ngole” dari Boawae
(Nage).
Dari Wolo Ebe mereka pindah ke “Nggolo
Mbay” (Ola Bay) serta menawarkan “Lantong
Rimba” menjadi raja. Namun sama halnya dengan Li Ema tawaran Belanda ditolak.
Selama bermarkas di Nggolo Mbay (Ola Bay) Belanda melaksanakan tugas operasinya
ke Kampung “Natarale”. Di sana mereka disambut
penduduk dengan bunyi bedil sehingga terjadi perlawanan. Akhirnya penduduk Kampung
Natarale terpaksa menyingkir ke hutan. Pada saat itu kebetulan ada seorang
wanita yang tak sempat lari dan bersembunyi di atas pare - pare api. Wanita itu
bernama “Te’a Lodhu”, wanita itu
setelah diperkosa lalu dipaksa menunjukkan jalan tempat persembunyian penduduk,
yaitu di “Lowo Atu”. Penduduk yang
mati kena tembak, yaitu Moa isteri
dari Nuka Wuga bersama kedua anaknya
Tunga dan Teda. Sedangkan anggota pasukan Belanda yang mati sebanyak 2 (dua)
orang Belanda Hitam (Tua Mite) yang tak dikenal namanya.
Hanya beberapa bulan di Nggolo
Mbay, pasukan itu terus ke Malawona.
Dari Malawona pimpinan Belanda bersama anggotanya ke Boawae dan Bajawa. Di
Boawae Belanda berhasil menawarkan Roga
Ngole untuk menjadi raja.
C. Danga Sebagai Pusat Paroki dan Pengembangan
Agama Katolik
Wolo Ebe
yang menjadi pusat perhatian Belanda dapat dipilih oleh Pastor untuk menjadi
pusat Paroki di wilayah Kerajaan Nagekeo Bagian Utara, yang meliputi Hamente Dhawe,
Hamente Rendu, Hamente Nataia, Hamente Wolowae, dan sebagian Hamente Munde yang
menggunakan bahasa dengan dialek Ja’o/Nga’o, sedangkan Hamente Mbay dan sebagian
dari Hamente Munde (Cila, Mulu, Nggolonio, Towak, dan Nanganumba) yang
berdialek “Ghau” termasuk Paroki Wangka.
Untuk mendapat kepastian hak atas tanah,
Bapak Pastor P. Crouzen, SVD.
bersama anggota Kerkbestur / Dewan Gereja, Ande Denga Paru, Rudolfus Ru, Stanis
Mesi Padhi, Emanuel Lena, dan Hendi Raja memohon bantuan Suku Dhawe agar Wolo Ebe
diserahkan menjadi tanah Gereja, sehingga tanggal 1 Oktober 1941 Suku Dhawe
atas nama Dori Noe, Saparaja, Bao Busa dan Dhae Teze menyerahkan tanah untuk
Gereja secara tertulis atas segel Rp. 1,- (satu rupiah) dengan saksi-saksinya;
Agus Geju,Simon Mite, dan Tiba Mesa.
Kemudian dengan adanya kunjungan Wakil Presiden RI (Drs. Muhammad Hatta)
tanggal 26 April 1952 dengan pusat penerimaannya di Dangawawo, sehingga dapat
dibangun sebuah bendungan yang dikerjakan oleh CV. Flores My, maka pada tahun
1955 pusat paroki dipindahkan ke Bukit Wolo
Nagho atau sekarang disebut Tozupazo
dengan penyerahan dari Suku Dhawe tertanggal 6 Desember 1962 yang ditandatangani
/ cap jempol oleh Suku Dhawe; 1) Papu Rae, 2) Petrus Bhela, 3) Felix Bajo Sato,
4) Robert Dhae Beri, 5) (E. Dula Dori tidak hadir) dan diperbaharui lagi
tanggal 23 Mei 1973 yang ditandatangani oleh
E. Dula Dori, Ibrahim Remang, Kons Nitu, Petrus Bhela dan Abdulkadir
Sepi Lalo.
Berdasarkan penyerahan terakhir dinyatakan bahwa penyerahan tanggal
1 Oktober 1941 ditarik kembali dan diserahkan kembali kepada Suku Dhawe untuk
anggota-anggotanya yang telah memiliki tempat tersebut.
D. Danga Sebagai Pusat Hamente Dhawe
Sejak terbentuknya Kerajaan Nage dengan Roga
Ngole sebagai rajanya yang pertama, maka terbentuklah Hamente-Hamente (Gemeente)
diantaranya Hamente Dhawe dengan
pusatnya Danga, walaupun terdapat
perubahan-perubahan Struktur Pemerintah Kolonial seperti:
- Sejak terbentuknya Onder Afdeling Flores tahun 1906
dengan Crouveeur sebagai Kontroleur yang pertama, status
Hamente (Gemeente) Dhawe tetap berlangsung dengan Danga sebagai pusatnya.
- Terbentuknya Keresidenan Timor dengan ibu kotanya Kupang yang terdiri dari 3 (tiga) Afdeling dan 15 (lima belas) Onder Afdeling di antaranya Onder Afdeling Ngada dan 14 (empat belas) Swapraja di antaranya Swapraja Nagekeo berdasarkan Stbl/LN.
No. 331 Thn 1916, status Hamente Dhawe tetap berlangsung dengan Danga
sebagai pusatnya.
- Terbentuknya Sunda Kecil / Nusa Tenggara yang terdiri dari Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, Timor
dan pulau-pulaunya berdasarkan PP No. 21. LN No. 59 Thn 1950, status Hamente Dhawe tetap berlangsung
dengan Danga sebagai pusatnya.
- Sunda
Kecil dibagi menjadi 3 (tiga) Propinsi, yaitu Bali, NTB, dan NTT berdasarkan UU No. 54 Thn.
1958, status Hamente Dhawe tetap berlangsung dengan Danga sebagai
pusatnya.
- Terbentuknya Daerah Tingkat II di Propinsi
Nusa Tenggara Timur berdasarkan UU No. 69 Thn. 1959, LN. No. 1221.
Tambahan Lembaran Negara (TLN) No. 1655, status Hamente Dhawe tetap berlangsung dengan Danga
sebagai pusatnya.
- Sama halnya dengan Hamente lain,
untuk Swapraja Nagekeo, Hamente
Dhawe merupakan satu kesatuan masyarakat dan Hukum Adat yang sama dengan perbatasan
sbb:
Ø
Sebelah Utara dengan Laut Flores
Ø
Sebelah Selatan dengan Hamente Rendu
Ø
Sebelah Timur dengan Hamente Nataia
Ø
Sebelah Barat dengan Hamente Mbay /
Sungai Aesesa.
Hamente Dhawe terdiri dari 4 (empat) Kepala Kampung dan tiap-tiapnya dibantu
oleh seorang Mandor Kampung.
Kepala-kepala Kampung yang dikenal pada masa Jepang, yaitu:
Ø
Kepala Kampung Danga terdiri dari Kampung Dangawawo, Danga Au, dan Todoboa dengan Kepala
Kampungnya Phelipus Dhae Goa.
Ø
Kepala Kampung Ngaba terdiri dari Kampung Wolokoto / Boabe, Rata, dan Boarebhe
dengan Kepala Kampungnya Gerardus Goa
Dhalu.
Ø
Kepala Kampung Natarale terdiri dari Kampung Natarale dan Boasabi dengan Kepala Kampungnya
Hendrikus Raja Reso.
Ø
Kepala Kampung Rateule yang terdiri dari Kampung Boamuzi / Kotabaru dan Nagewajo
dengan Kepala Kampungnya Andreas Denga
Paru.
Selain dari Kepala Kampung, Kepala Hamente diperintahkan oleh Kepala Mere dengan dibantu oleh Mandor Mere, Mandor Mere pada masa
penjajahan Jepang ialah Martinus Mere
Beu. Kepala-kepala Hamente (Kepala Mere) sejak terbentuknya Hamente (Gemeente)
Dhawe adalah sebagai berikut:
1)
Li Ema =
dari tahun 1905 - tahun 1914
2)
Pone Poto = dari
tahun 1914 - tahun 1926
3)
Petrus Bebi Poto = dari tahun 1926 - tahun 1939
4)
Stanis Mesi Padhi = dari tahun 1939 - tahun 1952
5)
Pius Pinga Tonga = dari tahun 1952 - tahun 1962.
E. Danga Sebagai Pusat Pendidikan
- Sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI
17 Agustus 1945 di wilayah utara Swapraja Nagekeo telah dibangun SD (Sekolah Dasar) 3 (tiga) tahun
oleh Misi Katolik pada setiap Hamente,
yaitu:
v
SDK Mbay (sekarang SDK Dhawe) didirikan tgl 1-8-1914
v
SDK Nataia didirikan
tgl 1-8-1921
v
SDK Munde didirikan tgl 1-8-1924
v
SDK Rendu didirikan tgl 1-8-1927
v
SDK Dhawe (sekarang SDK Wolorae) didirikan tgl1-8-1928
v
SDK Wolowajo
didirikan tgl 1-8-1939
- Dalam pembangunan di bidang
pendidikan memegang kunci utama untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa
dan menanggulangi kemiskinan serta kemelaratan. Danga sebagai pusat Hamente
Dhawe dan pusat Paroki sesudah Proklamasi Kemerdekaan mendapat kesempatan
pertama untuk menjadi SR (Sekolah Rakyat) lengkap 6 (enam) tahun, yaitu
sejak tahun pelajaran 1950/1951, 1951/1952, 1952/1953 ditingkatkan menjadi
kelas IV, V, dan VI dan seterusnya sampai sekarang. Sekolah Rakyat (SR) kemudian
diubah menjadi Sekolah Dasar (SD). Sesudah dari itu berturut-turut
dibangun sekolah-sekolah, yaitu:
v
SMEPK Tozupazo Danga pada tanggal 1
Agustus 1957. Pada tahun 1968 SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) dari
status swasta 100% ditingkatkan menjadi status subsidi dari pemerintah. Kemudian
tahun 1977 diintegrasikan menjadi SMP dengan status diakui.
v
SMPK
Hanura Danga didirikan pada tanggal
1 Januari 1969
v
TKK
Kuntum Mekar didirikan pada tanggal 1 Januari 1975
v
SD
Inpres Danga didirikan pada tanggal 1 Agustus 1978
v
SMAK
Baleriwu Danga didirikan pada tanggal
1 Agustus 1982
v
TKK
Susteran St. Theresia Danga didirikan pada tanggal 1 Agustus 1990.
CATATAN :
SDK Mbay yang sekarang dirubah menjadi
SDK Dhawe, baik oleh Bapak Sakera
sebagai guru yang pertama pada sekolah ini, maupun Bapak Phelipus Dhae Goa sebagai murid yang pertama pada sekolah ini
menjelaskan bahwa SDK Mbay didirikan pada tanggal 1 Agustus 1914 bukan 1
Agustus 1916.
BAB
VI
PERANG
DHAWE MELAWAN PENJAJAHAN BELANDA
A.
Pendahuluan
Sejak kedatangan Belanda yang pertama tahun 1904 melalui
Riung dan dari Riung ke timur serta
berlabuh di pantai “Puta” (Dermaga Marapokot sekarang) yang
dipimpin oleh Kapten Christoffel
bersama-sama anggotanya yang dikenal, yaitu Spander, Saragouw, Saymina dan
Van der Maulen yang oleh penduduk disebut Tua Bhara (Tua = Tuak, Bhara = Putih karena warna kulit badannya
seperti tuak putih) dan pengikut-pengikut yang lain yang oleh penduduk disebut Tua Mite (Tua = tuak, Mite = hitam)
seperti Lobo, Dida, Koro dan
lain-lain yang tidak dikenal nama oleh penduduk.
Sebagai tempat penyeberangan pada
sebuah kolam dibuatkan jembatan yang disebut “PADHA LOBO”, yaitu jembatan yang dikerjakan oleh Lobo pengikut Belanda. Dari situ mereka
terus mencari tempat yang tampan untuk dijadikan markas, yaitu di “Wolo
Ebe” (sekarang disebut Gunung Batu)
tempat mana berada di antara Danga Kapa
(Dangawawo sebelum pindah tahun 1955)
dan Wolo Makassar (Kampung Mbay-Dam sekarang), yaitu
tempat yang pernah didiami oleh orang Makassar.
Kapten
Christoffel
menawarkan “Li Ema” untuk menjadi
raja, tapi tawaran itu ditolak. Di Wolo Ebe, Belanda merasa kurang aman karena
kedatangan mereka yang pertama diterima dengan dentuman meriam, apalagi saat
kedatangan mereka telah ada perbentengan (pagar batu) yang cukup kuat (bekasnya
masih ada di Dangawawo sekarang antara kandang kerbau menuju arah Sungai Aesesa) dalam persiapan menanti
serangan “Roga Ngole” dari Boawae (Nage). Dari Wolo Ebe mereka
pindah ke Nggolo Mbay (Ola Bay) serta menawarkan “Lantong Rimba” menjadi raja, namun sama halnya dengan Li Ema
tawaran Belanda ditolak.
Selama bermarkas di Nggolo Mbay (Ola Bay) Belanda melaksanakan tugas operasinya ke Kampung
“Natarale”. Di sana mereka disambut
oleh penduduk dengan bunyi bedil sehingga terjadi perlawanan. Akhirnya penduduk
Kampung Natarale terpaksa menyingkir ke hutan. Pada saat itu kebetulan ada
seorang wanita yang tak sempat lari dan bersembunyi di atas loteng (para-para
api). Wanita itu bernama “Te’a Lodhu”.
Wanita itu setelah diperkosa, lalu dipaksakan menunjukkan jalan tempat
persembunyian penduduk, yaitu di “Lowo Atu”. Penduduk yang mati kena
tembak, yaitu “Moa” isteri dari Nuka Wuga bersama kedua anaknya Tunga dan Teda. Sedangkan anggota yang mati 2 (dua) orang Belanda Hitam (Tua
Mite) yang tak dikenal namanya.
Jadi berbeda dengan kedatangan
suku-suku yang datang ke tanah Dhawe
sebelum kedatangan bangsa Belanda, seperti Dhae
Wio dari Wio (Sumba), Ana Kodha Goru
dari Goa – Makassar, Eko Ga’e dari Soa, Dhae Bhubhu dari Bugis – Makassar, Suku Mbay dan
lain-lain disambut dengan ramah dengan kedatangan bangsa kulit putih ini.
Hanya beberapa bulan di Nggola Mbay,
pasukan itu terus ke Malawona. Dari
Malawona pimpinan Belanda bersama anggotanya ke Boawae. Di sana Belanda
berhasil menawarkan “Roga Ngole” untuk
menjadi raja. Dari Boawae akhirnya terus ke Bajawa.
B.
Sebab-Sebab Timbulnya Peperangan
Sejak Belanda masuk pertama telah
terasa kecurigaan terhadap kedatangannya. Dengan tipu daya mereka membujuk
pemuka-pemuka masyarakat untuk menjadi raja dan menjadi Kepala Hamente. Tetapi
setelah terbentuknya suatu sistem pemerintahan untuk memeras rakyat melalui pemuka-pemukanya,
maka kecurigaan itu terasa benar dan tepat.
Adapun sebab-sebab seluruh masyarakat
Hamente Dhawe turut berperang membantu “Nipa
Do” ialah:
- Mendukung ide Nipa Do karena
terdapat pemerasan bayar pajak dan kerja rodi.
- Masyarakat Dhawe tidak suka
dijajah oleh Belanda sejak kedatangan Belanda yang pertama.
- Perasaan dendam yang belum
terpulih, tertembaknya “Ngoba”
salah seorang pemuka Dhawe
waktu perang membantu Rendu
yang dilakukan oleh Roga Ngole
sebelum kedatangan Belanda untuk memperluas wilayahnya ke utara.
- Perasaan dendam terhadap Belanda
karena mengumpulkan sebagian bedil dan kebal dari pemuka masyarakat dan
dikuburkan di Malawona pada tempat yang tidak diketahui.
- Masyarakat Dhawe masih merasa
cukup kuat dengan bedil dan kebal yang dimiliki untuk melawan Belanda.
- Masyarakat Dhawe rela membantu Nipa
Do karena rasa persaudaraan, senasib, sebangsa dan setanah air.
C.
Jalannya Peperangan
Sekalipun tidak terlaksana perkawinan
antara “Tiba” anak laki-laki dari Nipa Do dengan “Tuwa Upa” puteri dari Rae
Sape, namun hubungan antara kedua keluarga tersebut tetap terjalin baik
serta saling melahirkan dengki terhadap bangsa Cina yang menurut anggapan mereka turut melakukan penjajahan
bersama Belanda atas rakyat sependerita. Ketika Nipa Do dalam keadaan panik
menyediakan peperangan melawan Belanda, maka disuruhnya seorang lelaki bernama “Ruja Gene” mendapatkan Rae Sape di Danga untuk menyampaikan ide peperangan
yang harus dilakukan bersama. Kemudian setelah ide ini disetujui oleh Rae Sape
dan direstui pula oleh Pone Poto (Kepala
Hamente Dhawe), maka Pone Poto memerintahkan seluruh rakyat Hamente Dhawe untuk
bersama Rae Sape membantu Nipo Do.
Setelah Belanda mengalami kekalahan
besar pada beberapa tempat di Wolowae
Selatan lalu mundur diri dan diperkuatkan kembali serta berangkat menuju Kampung
Soba untuk mengadakan
perbentengannya di sana. Setelah di dengar kabar bahwa Watu Api akan diserang oleh Belanda dengan menempuh jalan Soba, Nataia, Aeramo dan terus ke Watu Api, lalu dikerahkan tenaga
bantuan dari Rae Sape dan Dhedhu Wati untuk mengadakan pertahanan
bersama pada tempat yang bernama “Teokodo”.
Kira-kira bulan September muda tahun 1916 jam 07.00 pagi, Rae Sape berangkat
dari Danga bersama pasukannya ke Teokodo untuk pertahanan bersama Nipa Do.
Pasukan itu sebanyak 100 (seratus) orang.
Kemudian benteng itu disergap oleh
pasukan Rae Sape, Nipa Do dan Dhedhu Wati secara serentak pada malam hari pada
waktu tentara Belanda sedang makan, sehingga mengakibatkan kematian kurang
lebih 30 (tiga puluh) orang ditambah dengan 15 (lima belas) orang lainnya
luka-luka. Di antaranya yang dikenal Kobus,
Tinus dan Dida, dari pihak
rakyat mengalami 2 (dua) nyawa tewas bernama Sadha Suta dan Bhongo Bongu.
Adapun anggota-anggota pasukan Rae Sape, yaitu Ja Aja, Mona Rasa, Mile Kewa, Laga
Tawa, Tero Tawa, Bhadho Kase, Wegu Sena, Taumai Sena, Lepa Tiu, Bheo Woga, Podi
Woga, Doy Lako, Laki Jawa, Doy Noi, Lila Kewa, Danga Sigi, Doi Bai, Dhae Dhajo,
Sa Bay, Doa Mau, Usu Rupa, Dhae Tema, Dala Lotu, Bao Busa, Pi Moke, Pone Poto
(Kepala Hamente Dhawe), Lodhu Ea, Turu Gaga, Pelo Lodhu, Lebi Ea, Moni Tawa,
Sebo Tawa, Go Gena, Mu Owa, Adha Tey, Je Pano, Leza Muku, Dedhi Busa, Paso
Tato, Giri Ngida, Silaja Ngida, Rada Bara, Jogo Bara, Lena Loda, Mada Masi,
Ngada Pango, Leba Noe, Mena Dhano, Dhosa Pija, Jogo Pija, Ledhi Lo’a, Abo Lama,
Dedhi Dhue, Dedhi Musa, Ngaji Upa, Gili Doy, Maku Beku, Bhidi Pau, Dhalu Ngaju,
Gu Bara, Hubha Dhibi, Pati Wea, Maku Wea, Ahu Bunge, Dhae Goa, Sare Bako, Fao
Noe, Talo Tawa, Beri Soro, Sera Tija, Sabu Aja, Roni Dhajo, Nusa Upa, Fao Giri,
Ela Dhenga, Tiba Mesa, Dhae Dhengi, Rupi Dhajo, Goa Dhajo, Lasa No’a, No Bara,
Dhae Gega, Feke Nango, Ela Nango, Tele Dhenga, Papu Dhenga, Lena Dhenga, Lao
Tina, Radu Dadi, Loy Wula, Weka Wati, Saparaja, dan lain-lain yang
tidak diingat lagi namanya oleh Bapak
Dhae Goa.
Setelah penyerangan Teokodo, pasukan
kembali ke tempatnya masing-masing untuk mempersiapkan pasukan agar dapat
memberikan bantuan bilamana diperlukan lagi. Setelah beberapa minggu kemudian
terdengar pula kabar tentara Belanda akan meneruskan perjalanannya ke Watu Api
melalui Aeramo. Pasukan Rae Sape segera membantu Nipa Do di Watu Api tetapi
terhalang di Aeramo dan akhirnya terpaksa pasukan Rae Sape kembali dan tetap
utuh.
Bulan Februari tahun 1917 dini hari,
kebun Rae Sape di Nua Kutu disergap
oleh tentara Belanda. Semua hasil kebun dan hewan-hewan dimusnahkan,
lumbung-lumbung makanan dibakar. Sehari sebelum pengepungan Belanda, Rae Sape
telah mengungsi ke Ola Dhawe. Tentara
Belanda meneruskan perjalanan mereka dan bermarkas di Nggolo Mbay (Ola Bay).
D. Pengejaran
Belanda Terhadap Rae Sape ke Ola Dhawe
Atas usaha keras dari mata-mata
Belanda sehingga pada petang harinya Belanda
memperoleh berita bahwa Rae Sape
bersama pasukannya telah berangkat ke Ola
Dhawe guna menyusun kekuatan dan mengatur jalannya peperangan. Sesudah
makan malam pasukan Belanda berangkat ke Ola Dhawe, tetapi terpaksa kembali dan
bermalam di Boasabi karena Sungai Ae Mau tak dapat dilalui sebab
banjir besar. Sedang tentara Belanda bermalam di Boasabi, datanglah ke Ola
Dhawe beberapa pemuka rakyat dari Mboaloing
untuk menemui Rae Sape dan mengajak Rae Sape agar pasukannya diberangkatkan ke Kampung
Sanding (dekat Mboaloing) untuk
dipersatukan dengan pasukan di bawah pimpinan Gago Rembo agar bertahan bersama di Ekotadho.
Nama-nama pemuka rakyat yang datang ke
Ola Dhawe sebanyak 10 (sepuluh) orang di antaranya Gago Rembo, Jogo Meluk, Neko
Reso, Remang Aja, dan Lera Jawa. Malam itu juga berangkatlah Rae Sape dengan pasukannya kurang lebih
50 (lima puluh) orang (lainnya telah menyerah dan mengundurkan diri) bersama
isterinya Upa Loda, seorang anak
laki-laki bernama Papu Upa (Papu Rae),
seorang anak wanita bernama Supa Aning
(Supa Rae) dan 2 (dua) orang pembantu bernama Wula Ngongo dan Uta Aning
menuju Sanding.
Keesokan harinya pagi-pagi benar
setelah banjir telah surut, berangkatlah pasukan Belanda ke Ola Dhawe. Setelah
masuk Kampung Ola Dhawe, kampung tersebut dikepung serta dilakukan
tembak-tembakan. Walaupun demikian hanya beberapa lelaki saja tetap tenang.
Pemuka-pemuka yang ditangkap Belanda serta dijadikan tawanan antara lain; Saparaja,
Lasa No’a, dan Rupi Dhajo. Tawanan ini dibawa ke Kampung Nggolo Mbay
diperiksa dan disiksa untuk memberitahukan dimana Rae Sape bersembunyi.
Walaupun disiksa tetapi mereka tetap menutup rahasia kemana Rae Sape pergi.
E. Pertempuran
Malabay
Setelah mendengar kabar bahwa pasukan
Belanda yang dari Bajawa sudah
berada di Munde dengan tujuan untuk
menaklukkan Ekotadho, maka
berniatlah Rae Sape dan Gago Rembo untuk melakukan pertempuran
di luar perbentengan. Oleh karena itu, mereka harus berangkat menyongsong
kedatangan Belanda dimana saja pertempuran terjadi.
Setelah tiba di “Malabay”, kedua pasukan mengambil keputusan agar tempat
pertempuran pada perhentian mereka di Malabay. Tidak lama mereka beristirahat
datanglah tentara Belanda sehingga di situlah terjadi pertempuran. Dari pihak
pasukan rakyat yang mati, yaitu Laki Jawa sedangkan yang luka-luka, yaitu
Lepa
Tiu. Keduanya adalah anggota
pasukan Rae Sape. Sedangkan dari pasukan Gago Rembo yang mati, yaitu Gago
Rembo sendiri, Remang Tara, Naik Nuru, Noni Gego dan Pata.
Dari pasukan Belanda yang tewas 5 (lima) orang dan yang luka-luka tidak
diketahui banyaknya. Kekalahan pasukan Belanda di Malabay memberikan
perhitungan bahwa pasukannya harus diperkuat kembali. Lalu semua anggota
pasukan Belanda bersama Gezagheber
Bajawa kembali menuju Nggola Mbay.
Walaupun dari pihak pasukan masyarakat
memperoleh kemenangan, tetapi pasukan Rae Sape tidak berdiam lebih lama di Ekotadho
karena kekurangan makanan dan sebagian besar pasukannya telah pulang ke Dhawe.
Akhirnya Rae Sape bersama keluarganya mengungsi ke Kojakeru dalam wilayah Hamente Tadho.
Pengungsian tersebut diketahui dan dibantu oleh Kepala Hamente Lengkosambi yang bernama “Daeng Pirani”, Kepala Hamente Tadho yang bernama “Padhang Sadhang”, dan Kepala Kampung Bekek bernama “Leo Nembo”.
Walaupun pengungsian Rae Sape sangat dirahasiakan namun tercium juga oleh
mata-mata Belanda.
F. Pertempuran
Ekotadho
Berhubung dengan petunjuk “KUTIKA” dari Muka Teang dan dengan persetujuan semua anggota pasukan bahwa Muka
Teang sendiri harus memimpin pertahanan dan menetap bersama anggota pasukannya
di Ekotadho untuk menantikan
serangan Belanda selanjutnya. Dalam peperangan, pintu Kampung Ekotadho bagian
selatan harus dijaga secara ketat karena dalam perhitungan penyerangan musuh
hanya dari arah selatan sehingga jalan masuk atau pintu masuk dari utara Kampung
Ekotadho tidak diawasi.
Setelah seminggu kemudian datanglah
tentara Belanda dari Mbay yang bermarkas di Nggolo Mbay menuju Munde untuk
menaklukkan Kampung Ekotadho dengan anggota pasukan sebanyak kurang lebih 150
(seratus lima puluh) orang. Setibanya di Munde atas siasat bersama dari tentara
Belanda dan Dhae Gamo (Kepala
Hamente Munde) agar pasukan mereka dibagi 2 (dua) bagian dengan tujuan:
- Pasukan pertama sebanyak kurang
lebih 30 (tiga puluh) orang di bawah pimpinan Gezagheber Bajawa menuju Kampung
Ekotadho melalui jalan pintu masuk bagian selatan.
- Pasukan kedua, dengan pasukan
sebagai penunjuk jalan Kepala Hamente Munde bernama Dhae Gamo melalui Kampung Sanding lalu naik kembali ke Kampung
Ekotadho untuk menyerang dari pintu masuk bagian utara.
Tugas yang diberikan kepada pasukan
Belanda di bawah pimpinan Gezagheber Bajawa bertujuan untuk mengadakan penyerangan
gangguan agar pasukan rakyat dapat dikerahkan sebanyak mungkin untuk keluar
dari Kampung Ekotadho serta mengadakan serangan balasan agar kampung tersebut
dapat dikosongkan, sehingga mudah untuk diserang oleh pasukan bagian utara.
Setibanya Gezagheber di Kampung Ekotadho,
dengan tiba-tiba Gezagheber ditikam dengan sebilah bambu runcing bagian kiri
sehingga lengan atasnya luka parah. Tikaman ini berasal dari seorang pasukan
rakyat yang bernama “Bhana Gawa”.
Setelah penikaman atas diri Gezagheber, Bhana Gawa merebahkan diri dan
bersembunyi di balik batu besar. Kemudian muncul lagi “Sina Sera” untuk menikam Gezagheber tetapi malang baginya, sebelum
menikam, Gezagheber menembaknya dan tewas. Setelah tertembaknya Sina Sera,
segera “Soro Mbeo” memotong tali
batu gulingan sehingga pasukan Belanda dipukul mundur.
Pengunduran pasukan Belanda di bawah
pimpinan Gezagheber mendapat kesempatan baik bagi pasukan Belanda yang
menyerang dari arah pintu masuk bagian utara Kampung Ekotadho, karena setelah
mendengar bunyi bedil, semua anggota pasukan yang sedang bernanti dalam kampung
dikerahkan keluar menyerang tentara Belanda yang kurang lebih 3
kilometer jauhnya dari Ekotadho. Setelah anggota pasukan Muka Teang keluar, masuklah tentara Belanda dari jurusan utara yang
dikawali oleh “Dhae Gamo”. Segera Kampung
Ekotadho diduduki tanpa perlawanan sedikitpun serta dilancarkan pembakaran
rumah-rumah serta lumbung persediaan makanan, semua wanita dan anak-anak lari
tak berketentuan arah.
Ketika melihat Kampung Ekotadho terbakar,
Muka Teang memerintahkan pasukannya untuk membebaskan kembali kampung dan
perbentengannya, tetapi sia-sia karena seluruh persiapan makanan dan senjata
turut terbakar. Malahan persiapan batu guling di tepi kampung digunakan untuk
memusnahkan pasukan Muka Teang yang kembali masuk kampung.
Walaupun demikian pertempuran sengit
tetap berlangsung beberapa waktu lamanya, tetapi karena kekuatan pasukan
Belanda lebih kuat, akhirnya pasukan Muka Teang terpaksa mengundurkan diri.
Akibat dari pertempuran tersebut, pihak tentara Belanda tak ada yang tewas,
hanya beberapa yang mendapat luka-luka, tetapi dari pasukan rakyat yang mati
antara lain; Lendong Ulo, Sue Wese, Limang Runung, Wawo Lila, dan Asa Peja (=
Asa Peja pada waktu itu berkedudukan sebagai Kepala Kampung Dheru). Muka Teang lalu mengungsi ke Gunung Somat, dalam hal mana pertahanan
tak dapat dipersiapkan lagi.
Dengan terpukulnya pasukan Muka Teang
sebagian tentara Belanda yang berjumlah 50 (lima puluh) orang berangkat ke Mboarajong dan bermarkas disana dan yang
lain kembali ke Munde serta membakar
rumah Kepala Kampung Wundu yang
bernama Rae Rona, serta pada malam
itu juga mereka bermalam di Kampung Munde bersama Dhae Gamo (Kepala Hamente
Munde).
Dari anggota-anggota pasukan Muka Teang
yang ditawan, seperti Rai Baju, Bhana Gawa, Dhasa Gawa, Miri Lino,
Neka Resok, Pita Ndeku, No Dhima, Laki Kasi, Sembo Munde, Paga Sila, Sela Nia,
Bhani Dhua, Leba Nia, Lobo Wonga, Nu Muku (Kepala Kampung Nggoloniok), Naga
Koba, Nuwa Sato, Tata Ndeku, dan Jo Ngole
yang kesemuanya telah direncanakan oleh Belanda untuk dibunuh bila belum tertangkapnya
Rae Sape, Muka Teang dan Jogo Meluk.
Anggota masyarakat lainnya yang turut
tertangkap karena memberi bantuan makanan dan penginapan kepada anggota pasukan
rakyat, yaitu Jo Boro dari Mboaloing yang memberikan jaminan
penginapan beberapa waktu kepada Lodhu
Ea anggota Rae Sape dari Dhawe.
G.
Akhirnya Masa Hidup Muka Teang dan
Jogo Meluk
Atas kerja keras dari mata-mata Belanda sehingga
kurang lebih tiga minggu kemudian tertangkaplah Jogo Meluk dan dibawa menghadap kepada pembesar Belanda yang
bermarkas di Nggolo Mbay. Pemeriksaan atas diri yang bersangkutan sama sekali
tidak memakan waktu lama, karena keterangan dalam menjawab pertanyaan pimpinan
Belanda bahwa baginya adalah lebih baik mati dari pada hidup seolah-olah
direndam dalam suatu kolam penderitaan penjajahan Belanda dan pemerintahannya.
Keputusan terakhir, ditembak mati dengan sengsara di Wolokoto (dekat Kampung Boabe).
Ketika Muka Teang mendengar akan kematian Jogo Meluk, maka berangkatlah ia menuju markas Belanda di Mboarajong dengan tujuan untuk
menyatakan damai. Dalam perjalanan bertemulah ia dengan dua orang mata-mata
Belanda yang bernama Wara Wea dan Menang Mau, lalu menyatakan bahwa
tujuan perjalanan keduanya ialah mencari Muka Teang serta menyampaikan pesanan
pimpinan tentara Belanda dari Mboarajong: “Apakah Muka Teang harus menghadap
Belanda atau sebaliknya?”
Setelah Muka Teang menyatakan bahwa
tentara Belanda harus menghadap beliau, Wara Wea menyatakan lebih baik Muka Teang
harus berpindah dari Watuwula
(tempat mereka bertemu) ke Mbatasiok
dan keduanya akan menanti pada tempat tersebut untuk menanti kedatangannya
bersama tentara Belanda. Pendapat ini disetujui oleh Muka Teang.
Ketika sampai pada waktu yang
ditentukan, Wara Wea bersama 5 (lima) orang anggota tentara Belanda ke
Mboasiok. Setelah menemui jarak pertemuan kedua belah pihak kurang lebih 5
meter segera Menang Mau memberikan isyarat kepada tentara Belanda dengan
menunjukkan jarinya disebelah belakang Muka Teang sebagai tanda perkenalan
bahwa itu adalah Muka Teang yang dicari-cari. Pada kesempatan itu juga Muka Teang
dibunuh dan dicincang sampai hancur. Peristiwa ini terjadi pada bulan Maret
tahun 1917.
H.
Tertangkapnya Rae Sape
Berhubung dengan kehilangan Muka Teang dan Jogo Meluk, perhatian tentara Belanda hanya tertuju kepada Rae Sape serta pengikut-pengikutnya.
Berkat lihainya mata-mata Belanda, maka pimpinan Belanda yang bermarkas di
Nggolo Mbay mengirimkan anggota pasukan sebanyak 125 orang, semuanya berkuda
dengan Kepala Hamente Mbay yang
bernama Mane Tima sebagai penunjuk
jalan ke “Kojakeru” dengan menempuh
jalan Nage Togu, Nanganumba, dan Ulujarang. Sebelum ke Kojakeru, tentara
Belanda bersama pengikut-pengikutnya mendapatkan Dhalu Lengkosambi yang bernama “Daeng Pirani”, Dhalu Tadho
yang bernama “Padha Sadhang”, dan
Kepala Kampung Bekek yang bernama “Leo Nembo” untuk menunjukkan tempat
pengungsian Rae Sape.
Meskipun Daeng Pirani maupun Padhang
Sadhang dan Kepala Kampung Bekek yang bernama Leo Nembo, yang tadi-tadinya
sebagai sahabat akrab Rae Sape dalam menjamin keselamatan hidup Rae Sape
bersama keluarganya, tetapi setelah kedatangan Belanda ini menunjukkan jalan
untuk menangkap Rae Sape. Meskipun Rae Sape dapat mempertahankan dan dapat
meloloskan dirinya, tetapi keluarganya tertangkap. Isteri Rae Sape yang bernama
Upa Loda dengan kedua anaknya yang bernama Papu Upa dan Supa Aning diikat
dengan tali pancing pada tangan mereka dan dibawa ke Bekek serta diteruskan ke
Nanganumba dengan tidak memperdulikan akibat tembakan atas mayatnya. Wula
Ngongo dan Uta Aning yang menderita luka
berat. Keluarga Rae Sape selanjutnya dibawa ke Nggolo Mbay serta direncanakan
untuk dibunuh jika Rae Sape tidak menyerah.
Ketika didengar oleh Rae Sape bahwa keluarganya
telah ditawan dan direncanakan oleh tentara Belanda supaya dibunuh, maka
ditetapkan niatnya untuk menebus keluarganya dengan jalan menyerah diri. Lima
hari sesudah terjadinya peristiwa Kojakeru, berangkatlah Rae Sape menemui Dhalu (Kepala
Hamente) Lengkosambi untuk bersama-sama menuju Nanganumba, dimana tempat
keluarganya ditawan. Permintaan ini dikabulkan dan keduanya pergi menghadap
tentara Belanda. Tentara Belanda menerimanya lalu ditawan.
Pemeriksaan terhadap diri Rae Sape
tidak memakan waktu lama, karena Rae Sape tetap tenang menjawab pertanyaan
Belanda bahwa beliau benar-benar pimpinan perang membantu Nipa Do serta rela
dihukum dengan cara apapun asal anak isterinya dibebaskan dari tawanan. Anggota-anggota
pasukan rakyat yang ditawan antara lain:
1.
Dari
pihak anggota Rae Sape, yakni: Rae
Sape, Danga Sigi, Lepa Tiu, Taumai Sena, Mona Rasa, Dhae Dhajo, Bhadho Kase,
Laga Tawa, dan Tero Tawa.
2.
Dari
pihak anggota Muka Teang, yakni: Rai
Baju, Bhana Gowa, Dhasa Gowa, Miri Lino, Neka Resok, Tata Ndeku, No Dhima, Laki
Kasi, Sembo Munde, Paga Sila, Sela Nia, Bhani Dhua, Leba Nia, Lobo Wonga, Nu
Muku, Naga Koba, Nuwa Sato, dan Jo Ngole.
Mereka ini dibawa ke Bajawa untuk
diperiksa lagi melalui jalan Nanganumba, Wundu, Munde, Soa dan terus ke Bajawa.
Bagi tawanan yang mendapat hukuman berat dibuang ke Kupang, yaitu Rae Sape, Lepa Tiu, Taumai Sena, dan
Danga Sigi.
Dengan berakhirnya perang Rae Sape
pada bulan April 1917, maka berakhirlah pula kerusuhan di bagian utara Onder Afdeling Ngada dan segala pos-pos
tentara Belanda kembali ke Ende.
I.
Penutup
Perang
Rae Sape disebut juga
Perang Dhawe karena secara rahasia
atas komando Pone Poto sebagai Kepala
Hamente Dhawe, seluruh masyarakat dalam wilayah kekuasaannya ikut aktif dalam
perang melawan penjajahan kolonial Belanda.
DAFTAR
GAMBAR


PEO









SANGABENGA