Minggu, 29 Mei 2016

SEJARAH SUKU DHAWE

BAB I
PENDAHULUAN

Guna melayani kebutuhan generasi muda untuk mengenal, mencintai, serta penelitian lebih lanjut, penulis ingin memperkenalkan Sejarah Dhawe yang bersumberkan pada:
1.    Sejarah terjadinya Ola Dhawe dan keturunan Dhawe sampai dengan Ana Kodha Goru dan Wegu Ana Ralo.
  1. Catatan tertulis dari Bapak Agustinus Gedju, yang diceritakan oleh Bapak Saparaja tahun 1940 atas permintaan Pater Paul Arndt, SVD. sebagai data penyelidikan Antropologi Budaya dan disalin lagi oleh penulis atas permintaan Bapak Alfons Woso Kepala Kantor Pembinaan Kebudayaan Kabupaten Ngada pada tanggal 25 Oktober 1967.
  2. Catatan tertulis dalam bahasa daerah oleh penulis (sejak kelas II SMP) yang diceritakan oleh Bapak Phelipus Dhae Goa, Bapak Papu Rae, dan Bapak Dhae Teze tahun 1957 atas permintaan Pater Karel van Trier, SVD. sebagai data penyelidikan ilmu bahasa.
  3. Rangkuman sejarah terjadinya Ola Dhawe dari keturunan Dhawe tahun 1940 dan tahun 1957 atas permintaan Bapak Niko Ladja Penilik Kebudayaan pada Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Aesesa dan KKN UNIKA ATMAJAYA pada tanggal 1 September 1978.
  4. Catatan tertulis dari Bapak Zakarias Lasa (Siswa SPG) di Lailewa bulan Juli 1969, yang dilagukan oleh Bapak Kosmas Laha Mau, Bapak Petrus Bhela, dan Bapak Dominikus Seta Labha mengenai Pata Fera, Pata Rido, dan Pata Eko Etu.
2.    Sejarah Singkat Suku Dhawe.
a.    Catatan tertulis oleh penulis yang diceritakan oleh Bapak Phelipus Dhae Goa dan Bapak Papu Rae tahun 1957.
b.    Silsilah keluarga Eko Ga’e dari Rumah Kelikisa, yang diceritakan oleh Bapak Papu Rae, Bapak Sape Welawaru tahun 1964, dan Bapak Bhedja Ebu tahun 1968.
c.    Salinan/arsip/fotocopy pernyataan-pernyataan penyerahan tanah sejak tahun 1941 sampai tahun 1989.
d.    Pengamatan langsung oleh penulis mengenai urutan lokasi di Ola Dhawe dari Ulu Ola Dhawe sampai Eko Dhoa Kata dan pelaksanaan Seremoni Adat Dhawe sebagai bandingan dengan data yang diceritakan oleh Bapak Phelipus Dhae Goa dan Bapak Papu Rae.
3.    Sejarah Terbentuknya Ibu Kota Kecamatan Aesesa dan Desa Danga.
a.    Asal mulanya Kampung Danga dari catatan penulis yang diceritakan oleh Bapak Phelipus Dhae Goa pada tanggal 3 Juni 1967 dan Bapak Papu Rae pada tanggal 3 Maret 1965, Bapak Stanis Mesi Padhi pada tanggal 10 Maret 1965.
b.    Sejarah terbentuknya ibu kota Kecamatan Aesesa dan Desa Danga, catatan dari Memori Camat Aesesa (Bapak Paulus Lewa) tahun 1976 – 1979.
c.    Penyerahan tanah secara adat oleh Bapak Matheus Mite Mude (Camat Aesesa yang pertama), Bapak Phelipus Dhae Goa dan Bapak Papu Rae pada tanggal 25 Juli 1964.
d.    Penyerahan tertulis dari Suku Dhawe tertanggal 7 Januari 1979 dan diperbaharui lagi dengan penyerahan 14 Mei 1987.

4.    Perang Dhawe Melawan Penjajahan Belanda.
a.    Bagian pendahuluan dari catatan penulis yang diceritakan oleh Bapak Phelipus Dhae Goa, Bapak Papu Rae, Bapak Pius Ma’u Gela tahun 1968 dan Bapak Redha Gale pada tanggal 20 Juni 1985.
b.    Perang Rae Sape secara khusus dicatat oleh Bapak Alfons Woso Kepala Kantor Pembinaan Kebudayaan Kabupaten Ngada, yang diceritakan oleh Bapak Phelipus Dhae Goa, (anggota pasukan yang ikut perang), Bapak Papu Rae dan Mama Supa Aning (kedua anak dari Rae Sape yang turut mengungsi bersama ayahnya) pada tanggal 5 Juli 1968 di Danga Au.
c.    Perang Muka Teang dalam membantu Rae Sape secara khusus diceritakan oleh Bapak Taga Wulang dari Kampung Nunuk, dibantu oleh Bapak Blas Bima sebagai juru bicara dalam menterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada tanggal 9 Juli 1968.
d.    Perang Nipa Do atau Perang Watu Api dengan informan-informan sebagaimana tercantum dalam kata pengantar secara keseluruhan telah dihimpunkan dengan perang Rae Sape dan Muka Teang oleh Bapak Alfons Woso Kepala Kantor Pembinaan Kebudayaan Kabupaten Ngada pada tanggal 19 Januari 1974.
e.    Perang Dhawe melawan suku tetangga diceritakan oleh Bapak Phelipus Dhae Goa dan Bapak Papu Rae tahun 1957, Bapak Kosmas Laha Mau dan Bapak Andreas Dhae Adja tahun 1967.
5.    Tujuan Penulisan.
a.    Tujuan Umum.
Tujuan umum yang ingin disampaikan penulis untuk memperkenalkan:
1)      Sejarah Dhawe serta nama-nama rumah adat (Sa’o Waja) yang sekarang masih ada di Ola Dhawe, beserta benda-benda peninggalannya sejak zaman dahulu.
2)      Urutan Suku Dhawe serta hak dan kewajibannya dalam pelaksanaan seremoni adat dari setiap keluarga.
3)      Kebudayaan dan kesenian yang berhubungan dengan Gua Ru sampai Gua Leza yang merupakan kalender kerja adat Dhawe.
4)      Asal mulanya nama kecamatan dan ibu kota Kecamatan Aesesa dan pembentukan Desa Danga dalam ibu kota Kecamatan Aesesa sebagai pemekaran dari Desa Dhawe yang merupakan satu kesatuan hukum adat.
5)      Perjuangan Suku Dhawe dalam menentang penjajahan Belanda.
b.    Tujuan Khusus.
Tujuan khusus yang ingin dicapai oleh penulis, yaitu:
1)    Untuk menyelamatkan kebudayaan dan Sejarah Dhawe, yang kenyataannya mulai berangsur-angsur lenyap karena perkembangan pendidikan, agama dan teknik modern.
2)    Sebagai dokumen suku karena pada suatu saat tidak ada generasi muda untuk menggantikan generasi tua.
3)    Sebagai dasar penyelidikan lebih lanjut bagi generasi muda yang ingin menggali kembali kebudayaan aslinya, sesuai dengan peninggalan-peninggalan yang masih ada.




BAB II
SEJARAH TERJADINYA OLA DHAWE

A.   Asal Mulanya
Asal mulanya Dhawe dari dua orang bersaudara, yang seorang laki-laki bernama “Dhawe” dan seorang saudara wanitanya bernama “Dhengi”. Keduanya adalah anak yatim piatu, hidup bersama dengan orang-orang sekampung. Sebagai seorang petani keduanya mengerjakan kebun yang jauh letaknya dari orang lain. Pada saat jagung di kebun mereka masak dan hampir kering setiap malam datanglah kawanan babi memakan jagung. Akhirnya Dhawe sendirian bersama anjingnya yang bernama “Ebo Rua” menjagai kebun. Malamnya datanglah babi-babi memakan jagung, lalu Dhawe memberi isyarat kepada anjingnya Ebo Rua untuk mengejar babi. Ebo Rua mengejar babi hanya ditujukan kepada seekor babi betina. Akhirnya sampai ke sebuah gua, yaitu sarang babi itu. Dhawe menyusul terus dengan tombaknya kemana saja anjing Ebo Rua itu gonggong.
Ketika sampai ke gua itu, sangatlah herannya tatkala anjing dan babi bercakap-cakap. Babi mulai menceritakan kepada anjing Ebo Rua apa sebabnya mereka harus mencari makanan untuk makan sampai puas. Kata babi: “Hai anjing! Jangan buru kami. Kami mau makan sepuasnya bersama anak-anak kami, karena lagi tujuh hari air laut akan memenuhi isi bumi ini. Kita semua pasti akan mati. Juga semua manusia. Tuhan sangat marah dengan perbuatan manusia sangat biadab. Sudah dua kali Tuhan (Ga’e Bapu = Tuhan Semesta) menyiksa perbuatan manusia, yaitu:
Pertama, dahulu perhubungan antara manusia sangat akrab. Tumbuhan “balang” sebagai jembatan, jika ketiadaan api manusia bisa ambil di langit dimana tempat Tuhan (Ga’e Bapu) tinggal. Tumbuhan “balang” berada dimana-mana pada tempat manusia tinggal. Manusia tidak takut kepada Tuhan tetapi lebih percaya dan taat kepada setan (polo dalam bahasa Dhawe). Akhirnya Tuhan memutuskan semua tali balang pada permukaan bumi ini sehingga terputuslah hubungan langit dan bumi atau antara Tuhan (Ga’e Bapu) dengan manusia.
Kedua, meskipun telah putus hubungan antara Tuhan dengan manusia, tetapi Tuhan tetap menyayangi manusia. Tuhan tetap memberikan hujan yang teratur, agar manusia dapat hidup dengan baik. Tak perlu takut akan kekurangan makanan karena hujan dan panas yang teratur pula. Tetapi makin lama manusia tidak taat lagi kepada Tuhan. Manusia memotong kayu-kayu besar, dimana Tuhan (Ga’e Bapu) tinggal. Hutan belukar dan rumput-rumput dibakar, seolah-olah mengusir Tuhan (Ga’e Bapu), lalu Tuhan menyiksa manusia dengan tidak menurunkan hujan dari langit.
Manusia menjadi panik karena sudah dua tahun tidak hujan. Padi dan jagung telah dimakan habis. Ubi-ubi hutanpun semuanya harus digali. Akhirnya mereka membagi-bagi kelompok untuk mencari air hujan. Setelah berhari-hari mencari air hujan akhirnya ditemukan sebuah kolam kecil dengan air di dalamnya. Sekitar kolam itu bertumbuhlah rumput-rumput yang sangat hijau dan hutan belukar. Setelah diamati dengan teliti tampak seorang tua duduk termenung dalam hutan belukar. Banyak orang mengerumuni orang tua itu untuk menanyakan dari mana dia menemukan kolam dengan airnya yang sangat jernih serta rumput-rumput hijau sekitar.
Orang tua ini lalu menceritakan mengenai apa sebab hujan sudah dua tahun tidak turun dan banyak orang mati kelaparan. Kata orang tua itu: “Akulah Tuhan (Ga’e Bapu) yang kamu aniaya. Lihatlah! Tubuhku penuh luka, akibat kamu potong kayu-kayu besar. Karena dalam kayu besar itulah aku tinggal. Lihatlah! Kepalaku tidak mempunyai rambut, karena kamu membakar rumput-rumput. Dalam rumput-rumput itulah juga aku tinggal. Seluruh tubuhku penuh kotoran manusia karena manusia membuang kotoran pada batu-batu, pada pohon-pohon besar dimana aku tinggal. Aku akan memberi kamu hujan jika kamu berjanji tidak lagi menebang hutan, membakar rumput, dan membuang kotoran di samping batu-batu besar atau pohon-pohon besar.” Semua yang menemukan orang tua ini berjanji dan bersumpah untuk tidak melakukan hal-hal demikian. Sejak saat itu turunlah hujan lebat sehingga orang-orang mulai menanami kebun ladangnya.
Ketiga, janji dan sumpah yang diucapkan oleh orang-orang yang menemui Ga’e Bapu (=Tuhan Semesta) beberapa generasi kemudian melupakannya. Perbuatan yang sama diulangi lagi. Sekarang Tuhan (Ga’e Bapu) mau menyiksakan lagi manusia dengan air bah dalam waktu tujuh hari lagi.” Demikianlah kata babi itu kepada Ebo Rua.

B.   Dhawe dan Dhengi Menyiapkan Perahu Besar
Setelah selesai percakapan antara babi dan anjing yang dapat didengar oleh Dhawe, maka pulanglah ia ke kebunnya bersama anjing Ebo Rua. Dalam waktu tujuh hari, kedua bersaudara membuatkan sebuah perahu besar dan mempersiapkan makanan untuk perbekalan. Pada hari keenam perahu telah selesai dikerjakan, mulailah hujan rintik-rintik disusul dengan hujan lebat selama empat puluh hari empat puluh malam. Pada hari yang ketujuh air sudah memenuhi permukaan bumi. Kedua bersaudara masuk ke dalam perahu dengan segala perbekalannya. Juga mereka siapkan enam sokal tanah, enam sokal abu dapur dan enam sokal arang. Keadaan sekitarnya sunyi senyap. Air sudah melewati pohon-pohon dan gunung-gunung yang tinggi. Meskipun hujan sudah redah tetapi air belum juga surut. Setelah mendapat petunjuk dari Tuhan (=Ga’e Bapu) mereka mengambil sesokal tanah, abu dapur, dan arang serta menghamburi ke arah matahari terbit dan ke arah matahari terbenam. Akhirnya air berangsur-angsur surut, abu menjadi tanah, abu dapur menjadi pasir, dan arang menjadi batu. Perahu mereka terdampar di tempat yang terus dinamakan “Ola Dhawe” (Ola = kampung, Dhawe menurut nama orangnya). Rumahnya diberi nama “Kowa Dhawe” (Kowa = perahu besar) hingga sekarang ini.

C.   Dhawe dan Dhengi Mengambil Api di Bukit Ratu Api
Mereka tidak memasak makanan karena tidak ada api. Dari Ola Dhawe mereka melihat bunga-bunga api di Bukit Ratu Api (=Munde). Keduanya pergi mengambil api tetapi sampai disana tidak kelihatan api. Keduanya kembali ke Ola Dhawe. Dari Ola Dhawe tetap kelihatan api. Akhirnya kedua bersaudara itu pergi sekali lagi ke Ratu Api. Di Ratu Api ada himpunan-himpunan bambu. Dari himpunan bambu itu mereka dengar bunyi: “OPE-OPE ZAZI”. Sementara bunyi suara itu, bambu bergesek-gesek karena ditiup angin. Mereka mengerti akan perkataan “OPE-OPE ZAZI” artinya “ZOZE-ZOZE API”. Dengan parang dipotongnya bambu itu lalu digesek-gesek dan ditiup, maka terjadilah api. Dari situ keduanya kembali ke Ola Dhawe dengan membawa api.

D.   Keturunan Dhawe dan Dhengi
Untuk mendapat keturunan, Dhawe kawin dengan saudarinya Dhengi dan mendapat anak kembar, yaitu:
  1. Mogo (laki-laki) dan Togo (perempuan)             = Togo – Mogo
  2. Te       (laki-laki) dan Jere   (perempuan)             = Te – Jere
  3. Dhae  (laki-laki) dan Tey    (perempuan)             = Dhae – Tey
  4. Bale    (laki-laki) dan Be’o  (perempuan)             = Bale – Be’o
Setelah anak kembar ini telah dewasa, datang seekor burung Pergam dan berkata: “SA BO’A GA’E LIMA ZUA, ZUA BUTU TA POLO,” artinya dalam sekampung ada tujuh orang yang baik, kedelapan yang suanggi. Ada tujuh orang yang baik sedangkan Be’o yang suanggi. Berkata terus pergam, “SA LI’E BENU BHISE, SA ROPO BENU PODO, RAWI MA’E GORE MO, TORO MITE MEMA,” artinya sebiji penuh tembikar, sepotong penuh periuk. Mereka tidak perlu susah payah semuanya serba ada. “RAWI MA’E GORE MO, TORO MITE MEMA, JEKA PATA MEMA,” artinya benang tak perlu bersusah payah pengolahannya dari kapas ke benang, dengan sendirinya menjadi warna merah, putih serta menjadi kain. “GURU SA BUKU TOLO LOBO, SA BUKU ZALE PU’U,” artinya bambu tidak perlu memerlukan buku atau ruas, hanya seruas bagian pucuk dan seruas bagian pangkal. “KOBE SA RIWA, LEZA SA RIWA, RU SA RIWA, NUA LEZA SA RIWA,” artinya malam setahun, siang setahun, hujan setahun, panas setahun, yaitu pembagian waktu siang, malam, hujan dan panas masing-masingnya selama satu tahun.
Dengan perkataan tadi tentu manusia tetap delapan orang, maka datanglah burung Kakoa dan berkata: “IKO AKO - IKO AKO, MATA DHOA LAU DIA MAI DHADHI WALI,” artinya mati boleh buang disini lahir lagi. Tentu tidak selamanya manusia itu hidup. Ada yang mati tetapi ada pula yang lahir.
Berkata lagi burung Kakoa: “ZELE WOLO NGUSA MO, ZILI MESI NGUSA GELI, NGUSA MO - MO, MO’O TEI RAKA NO’E,” artinya untuk mendapatkan sesuatu harus bekerja keras, harus mengeluarkan keringat, harus berjeri-payah tidak dengan sendirinya ada, harus menemui kesulitan untuk mendapatkan sesuatu.
Berkata lagi burung Kakoa untuk waktu: “KOBE OMI - OMI, LEZA OMI - OMI, NUA LEZA OMI – OMI,” artinya ada pembagian waktu siang dan malam yang singkat. Sebulan untuk tiga puluh hari dan setahun untuk duabelas bulan. Berkata lagi untuk bambu: “BUKU REKI - BUKU REKI,” dengan demikian bambu menjadi banyak ruas.

E.   Dhawe dan Dhengi Beserta Anak - Anak Lainnya Mencari Tempat Tinggal Baru
Kemudian Dhawe dan Dhengi berpesan kepada anaknya Togo dan Mogo: “Kamu berdua tinggal disini Ola Dhawe dan tetap tinggal di rumah “Kowa Dhawe” (Kowa=perahu besar) serta bangunkan lagi sebuah rumah dan diberi nama “Dhengi Dhawe” sebagai kenang-kenangan kepada orang tuamu. Kami bersama-sama adikmu membawa 5 (lima) sokal tanah yang sisa untuk mencari tanah baru.”
Lalu berangkatlah mereka mencari tanah baru dan melepaskan tanah itu sesokal demi sesokal sehingga terbentuklah:
  1. NANGA DHAWE : tempat tinggalnya Dhawe dan Dhengi.
  2. WATU DOA : tempat tinggalnya dua bersaudara Doa dan Lae.
  3. WOLO PUTA : tempat tinggalnya dua bersaudara Dhae dan Tey.
  4. NGALU WATU : tempat tinggalnya dua bersaudara Te dan Jere.
  5. KI NGETA LAI BHARA : tempat tinggalnya dua bersaudara Bale dan Be’o.
Sebelum berangkat berpesanlah Dhawe kepada anaknya Togo dan Mogo: “Supaya kamu tetap mempunyai hubungan dengan kami, jika pada musim hujan kekurangan hujan datanglah ke Watu Doa, ambillah air laut dari Nanga Dhawe dan sebuah batu dari Watu Doa bawalah ke Ola Dhawe, nanti akan turun hujan.”
Sampai sekarang kalau ketiadaan hujan pada musim hujan orang Dhawe membuatkan upacara adat yang dalam bahasa Dhawe disebut “KAI RAGO ANA WATU DOA” dengan caranya sebagai berikut:
Kami mai mo’o ka’o Ana Watu Doa
Kami dia ne mona uza
Kami ka’o kau Ebu Doa
Mo’o kami ti’i tuka, pati foko
Ana ebu kami
Uzu ka ae kami mata peka.
Air laut itu disimpan dalam tabungan bambu bersama batu dari Watu Doa ditaruh di Napu Wedhu (tempat antara Kampung Todo Meze dengan Kampung Natarale sekarang). Kebiasaan setiap kali melaksanakan upacara tersebut maka terjadilah hujan lebat. Bila telah selesai musim panen dibuatlah perahu kecil, batu dan air laut tersebut lalu diantar ke Sungai Aesesa dihanyutkan ke laut bersama perahu tadi.
Di samping itu juga ada bekas akar balang dari Ola Dhawe sampai Watu Doa. Oleh karena akar balang itu telah hancur dan kering sehingga terjadilah lubang dari Watu Doa sampai Ola Dhawe. Bila terjadi angin laut, maka angin itu melalui lubang dan tembus ke Ola Dhawe. Lubang itu oleh masyarakat disebut “Lubang Angin” atau “Pusat Angin”. Lubang itu sekarang ditutup dengan batu besar yang terletak di “Ulu Ola Dhawe” (beberapa meter ke selatan dari rumah Sa’o Waja Dhengi Dhawe).

F.    Keturunan TOGO dan MOGO
Togo dan Mogo tetap tinggal di Ola Dhawe dan mendapat anak kembar yang diberi nama Doa (laki-laki) dan Lae (wanita). Kemudian Ridu tempat tinggalnya di Lia Ridu. Ridu memperanakkan “Rao” bertempat di Lia Rao, Rao memperanakkan “Sue” tempatnya di Lia Sue, Sue memperanakkan “Waka” bertempat di Malawaka, Waka memperanakkan “Dhengi Jei”, Dhengi Jei memperanakkan “Kopu Tana Kore”, Kopu Tana Kore memperanakkan “Nitu Noi”, Nitu Noi memperanakkan “Woi Mai”, Woi Mai memperanakkan “Lelu Wela”, Lelu Wela memperanakkan “Wula Molo”, Wula Molo memperanakkan “Ko”, Ko memperanakkan “Nio”, Nio memperanakkan “Bawa Rani”, Bawa Rani memperanakkan “Lado Leza”, Lado Leza memperanakkan  “Dheki”, Dheki memperanakkan “Dhawe”, Dhawe memperanakkan “Dori”, Dori memperanakkan “Kumi”, Kumi memperanakkan “Nila”, Nila memperanakkan “Tebe”, Tebe memperanakkan “Riga”, Riga memperanakkan “Paga”, Paga memperanakkan “Ede”, Ede memperanakkan “Kapi”, Kapi memperanakkan “Judha”, Judha memperanakkan “Tana”, Tana memperanakkan “Kisa Gego”, dan selanjutnya Kisa Gego sampai anak cucunya sekarang.

G. Penutup
Setelah membaca sejarah terjadinya Ola Dhawe dan keturunan Dhawe dan Dhengi dapat disimpulkan bahwa:
1.    Cerita mengenai air bah adalah benar-benar terjadi hanya jalan ceritanya bersifat khayalan.
2.    Cerita mengenai turunan Dhawe adalah benar dibuktikan dengan nama tempat atau gua dimana mereka tinggal disekitar Ola Dhawe.

BAB III
ANA KODHA GORU DAN WEGU ANA RALO

A.    Pendahuluan
Suatu ketika di zaman dahulu Ana Kodha Goru seorang pelaut yang berasal dari Goa - Makassar berlabuh dengan perahunya yang bertiga tiang di Watu Doa, pantai utara Flores di sebelah barat Sungai Aesesa. Peristiwa ini diketahui oleh penduduk Ola Dhawe dan ramai-ramailah penduduk mengunjungi tempat tersebut untuk melihat mungkin ada barang-barang dagangan, seperti bedil dan lain-lain yang dapat dipertukarkan dengan budak.
Setelah melihat banyak orang datang Ana Kodha Goru (Ana Kodha=Nahkoda) terpikat hatinya dengan seorang gadis yang bernama “Tawa” keturunan “Togo dan Mogo”. Percintaan antara Ana Kodha Goru dengan Tawa dapat terjalin jika Ana Kodha Goru mau tinggal di Ola Dhawe. Setelah terdapat kata sepakat maka Ana Kodha Goru terus tinggal menetap di Ola Dhawe dan diserahi tugas sebagai pemimpin perang untuk menjaga keamanan di laut dan darat (Mosa Sike, Laki Bani).
Dari perkawinan dengan Tawa, Ana Kodha Goru dikaruniai banyak anak, diantaranya seorang yang bernama “Wegu”. Sedangkan kakaknya bernama Tadi, karena sudah berkeluarga tinggal terpisah dengan Wegu.
Karena Wegu tak mempunyai orang tua dan sanak saudara, maka oleh orang Dhawe, Wegu dipanggil “Wegu Ana Ralo” yang berarti Wegu anak yatim piatu. Wegu Ana Ralo hidup sebatang kara, hidupnya merana dan melarat penuh dengan penderitaan hidup, mukanya jelek dan bopeng, tubuhnya penuh dengan borok luka.

B.   Wegu Ana Ralo
    Setelah meninggalnya Ana Kodha Goru dan Tawa, hidup Wegu sangat sengsara. Pekerjaannya sehari-hari dengan mengusahakan ladang dan mengiris moke (tuak). Jika ada pesta, semua penduduk Ola Dhawe dan kaum bangsawan (=mosalaki) mendapat bagian yang terbaik, sedangkan Wegu Ana Ralo diberi kerak nasi dan tulang daging. Kesemuanya itu diterimanya dengan tabah serta sisa-sisa tulang daging dan kerak nasi ditampungnya dalam bambu sebagai kenang-kenangan dari pemberian mosalaki.

C.   Penu Ga’e
Pada suatu ketika tersebarlah berita bahwa ada seorang gadis Soa yang berasal dari Kampung Wuli Lade telah terjun ke dalam sungai dan menjelma menjadi ikan, pada tempat yang sejak saat itu sampai sekarang disebut “KOLU PENU”. Penu Ga’e begitu nekat membuang diri dan terjun ke dalam sungai karena merasa malu dituduh berzinah dengan salah seorang saudaranya. Barang siapa menemukannya, akan hidup bahagia. Mendengar berita ini ramai-ramailah penduduk Ola Dhawe pergi memasang lukah (=dalam bahasa daerah disebut “Sosa”) di tempat yang bernama “RABA NOKA”, yaitu tempat antara Kampung Rata dan Malawaka. Wegu Ana Ralo pun tak ketinggalan ikut memasang lukah di “Raba Noka”. Tetapi nasibnya sangat malang, setiap kali memasang lukahnya para bangsawan (=mosalaki) selalu membuang lukahnya serta menyuruh Wegu Ana Ralo memasang lukahnya di darat agar bisa mendapat biji kacang atau biji jagung. Demikianlah kata-kata para mosalaki (kaum bangsawan) yang sangat menyakiti hati Wegu Ana Ralo.
Di luar perhitungan Wegu Ana Ralo, di waktu pagi hari, sedang bulan purnama raya malamnya pasang naik sehingga daratan tempat Wegu Ana Ralo memasang lukah (Sosa) di Raba Noka dapat digenangi air. (Hubungkan dengan perang air laut dan air Sesa dalam cerita dongeng rakyat). Dan dalam lukahnya terdapat seekor ikan sebesar betis (=dalam bahasa Dhawe disebut ikan “Ngare”). Segera ia kembali ke rumahnya (Rumah Rajo Goa) agar tidak diketahui oleh para bangsawan (mosalaki). Sesampainya di rumah, ikan itu ditaruhnya di lumbung yang terletak di belakang rumah Rajo Goa. Lalu Wegu Ana Ralo pergi mengiris moke serta mencari daun asam muda untuk rempah-rempah.
Namun setelah ia kembali ke rumahnya didapatinya tempat menyimpan ikan tadi telah kosong. Sedangkan daun pembungkusnya, ia temukan di bawah kolong lumbung di belakang rumahnya. Ia lalu berpikir ikan tersebut pasti telah kembali diambil oleh mosalaki dalam kampung tersebut.
Wegu duduk sendirian sambil menangis terisak-isak, tiba-tiba terdengarlah suara dari dalam lumbung. Rasa ingin tahunya mendorong dia untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Melalui celah dinding lumbung diintipnya dan tampaklah seorang gadis cantik berambut panjang duduk di dalam lumbung. Melihat itu Wegu Ana Ralo menjadi takut bercampur gembira. Wegu pura-pura mencari terus ikannya yang hilang tadi. Lalu gadis dari dalam lumbung tadi bertanya dan bercakap-cakap dengan Wegu Ana Ralo:
Penu Ga’e   :  Engkau mencari apa?
Wegu           : Sedang mencari sesuatu yang hilang.
Penu Ga’e   :  Kemari dekat padaku. Aku akan memberitahukan siapa yang mengambil barangmu.
Wegu           :  Maaf, aku tak berani mendekatimu, sebab aku tahu engkau anak dari mosalaki.
Penu Ga’e   :  Jika engkau tak mau masuk kesini, maka sampai matipun tak akan menemukan barangmu yang hilang.
Wegu           : (Mendengar itu Wegu pun masuk ke dalam lumbung mendekati gadis cantik itu).
Penu Ga’e   :  Engkau tidak perlu mencari barangmu yang hilang. Aku inilah Bu’e Jawa yang engkau cari itu (Nama Penu Ga’e yang asli setelah sampai di Ola Dhawe berubah menjadi Bu’e Jawa yang berarti Gadis Jawa).
Wegu           :  Jika benar-benar engkau Bu’e Jawa, maka aku akan menjadi sedih dan susah. Sebab jika diketahui orang-orang mosalaki, pasti aku akan dipukul atau dibunuh oleh mereka.
Bu’e Jawa   :  Engkau tak perlu takut, nanti kita akan mencari tempat untuk bersembunyi dan berlindung.
Wegu           :  Jika betul engkau Bu’e Jawa, maka engkau tak mungkin tinggal bersama aku, karena aku tak punya apa-apa untuk makan.
Bu’e Jawa   :  Tak usah kuatir, makanan kita berkelimpahan. (Lalu diambilnya tempat sirih dengan sebuah periuk penuh berisi daging dan sebuah periuk lagi penuh berisi nasi, lalu makanlah keduanya bersama-sama).
Wegu           :  (Sambil makan Wegu menangis dan berkata), Aku ini seorang anak yatim-piatu, bagaimana engkau bisa memberi aku makan nasi dan daging? Seandainya orang-orang mosalaki tahu bahwa engkau Bu’e Jawa ada disini, pasti aku akan dibunuh oleh mereka.
Bu’e Jawa   :  (Sambil mengintip melalui celah dinding, ia mengajak Wegu untuk mengantarkannya ke bukit sana, sambil menunjuk ke arah bukit “NABE”).
Wegu           :  Bukit itu bernama NABE. (Lalu berangkatlah mereka kesana. Setiba disana Wegu lalu membuat sebuah pondok kecil untuk Bu’e Jawa dan tinggal beberapa hari lamanya, sehingga ia tidak kelihatan lagi di Kampung Ola Dhawe).

D.   Musim Hujan Hampir Tiba
Bintang sebagai pedoman masyarakat yang dalam bahasa Dhawe disebut “NIO”. Pada saat setelah Matahari terbenam telah condong ke arah selatan yang menunjukkan bahwa musim hujan hampir tiba, yang tak lama kemudian disusul dengan bunyi guntur pertama (dalam bahasa Dhawe disebut “GU POLU”).
    Menyadari keadaan itu, Bu’e Jawa menyuruh Wegu menebang dan membakar dua pohon asam besar yang berada di dekat bukit itu. Setelah kedua pohon itu roboh lalu dibakarnya, maka terjadilah tanda ajaib, dimana seluruh padang “Bhunga Roda” berubah menjadi kebun yang besar.
Melihat itu orang-orang Dhawe yang pergi mengambil garam di “Nanga Dhawe” terus menyindir Wegu dengan kata-kata: “Kami di Ola Dhawe saja belum menyiapkan kebun. Wegu telah menyiapkan kebun yang begitu luas. Kenyataan untuk makanpun tak ada sebiji jagung dan padi. Mungkin kebunmu yang begitu luas nanti ditanam dengan biji batu. Pasti setelah panen engkau akan membawa hasil panenan dan kawanan kerbau yang diperoleh secara ajaib dari Watu Doa.” Demikianlah sindiran mosalaki dari Ola Dhawe yang melihatnya. Kesemuanya itu diterimanya dengan tabah tanpa menaruh dendam.
Setelah hujan turun, Wegu menyampaikan kepada Bu’e Jawa bahwa kebun sudah disiapkan dan akan ditanam. Bu’e Jawa mengambil tempat sirihnya untuk mengambil bibit. Bu’e Jawa mengambil lima biji labu (dalam bahasa Dhawe disebut “Kula” yang biasanya digunakan sebagai tempat simpan makanan). Biji labu (kula) itu adalah penjelmaan dari sisik ikan “Ngare”. Kelima biji labu itu disuruhnya tanam masing-masing biji pada 4 (empat) sudut kebun dan sebiji pada pertengahan kebun. Biji labu itu bertumbuh dengan segar dan subur, sehingga dapat menjalar keseluruh kebun. Waktu orang-orang Dhawe pergi ke Nanga Dhawe untuk menangkap ikan, kelihatan kebun Wegu penuh dengan tanaman labu (=kula). Mereka heran lalu menyindirnya dengan kata-kata: “Kami kira kebun ini ditanami dengan padi dan jagung, padahalnya hanya labu. Tentu kalau biji labu ini telah tua, jika dibelah nanti penuh berisi daging dan nasi. Pasti kami seisi kampung akan diundang makan bersama dari hasil karya Wegu.” Wegu diam saja serta tidak menjawab sepatah katapun.
Anehnya, waktu padi dan jagung di kebun-kebun orang Dhawe mulai berbunga, labu dkebunnya berbunga juga, demikian seterusnya. Wegu setiap pagi mengamati tanaman labu yang telah berbunga dan ada pula yang telah berbuah. Bu’e Jawa menyuruh Wegu mencari beberapa buah labu yang telah masak dan kering agar dibawa ke  pondok. Wegu mengambil beberapa biji labu yang telah tua serta dibawanya ke pondok. Bu’e Jawa menyuruh Wegu membelahnya dan di dalamnya penuh berisi padi. Biarlah orang mencela dan mengejek usahamu, namun engkau tak perlu kecewa. Lihatlah, labu yang engkau tanam penuh berisi padi. Demikianlah hasil labu begitu lebat bagaikan batu di kali.
Selanjutnya Bu’e Jawa menyuruh Wegu mencari pucuk gebang untuk menganyam tempat padi sebanyak 1000 buah, masing-masingnya sebesar lumbung warisan ayah Wegu Ana Ralo di Ola Dhawe.
     Ketika orang-orang Dhawe mulai panen padi di kebun mereka, Wegu pun mulai melakukan hal yang sama, memetik labu di kebunnya. Labu-labu yang telah dipetik, dibelahnya serta isinya disimpan dalam tempat yang telah disiapkan (tempat tersebut dalam bahasa Dhawe di sebut NOZA). Karena hujan turun terus-menerus secara teratur, labu-labu itupun bertunas dan berbuah terus, sehingga hasilnya berlimpah-limpah dan dapat mengisi tempat-tempat (Noza) yang telah disiapkan. Pada suatu pagi, Wegu melihat bahwa daun-daun labu itu ada yang dimakan binatang, namun tak dapat dipastikan binatang apa yang memakannya. Karena di situ tak ada binatang liar seekorpun. Hal ini disampaikan kepada isterinya Bu’e Jawa. Bu’e Jawa menyuruh Wegu menyiapkan bambu runcing (dalam bahasa Dhawe disebut “tuba saba”) untuk menikami binatang yang memakan tanaman mereka.
Anjuran Bu’e Jawa dilaksanakan oleh Wegu. Setiap malam Wegu selalu siap mengawasi kebunnya untuk menikam binatang tersebut. Setelah beberapa malam berjaga dan pada malam kelima terdengar bunyi rumput dan tanaman labu seperti diinjak oleh kawanan kerbau. Ternyata yang ada hanya seekor ular besar (Nipa Meze). Ular besar itu lalu ditikamnya dengan tombak dari bambu runcing yang telah disiapkannya. Semua peristiwa malam itu diceritakan kepada Bu’e Jawa.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi benar Bu’e Jawa menyuruh Wegu pergi melihat binatang yang ditikamnya tadi malam. Wegu melaksanakannya dan pergi mencari binatang yang telah ditikamnya itu.  Didapatinya seekor ular besar (Nipa Meze) di luar kebun pada sebuah kubangan. Lalu hal ini disampaikan kepada isterinya Bu’e Jawa. Bu’e Jawa menyuruh Wegu memagari keliling kubangan tempat ular besar itu mati dengan pagar duri (=duri bidara) dan setiap pagi engkau harus memeriksanya, sehingga dapat mengetahui apa yang terjadi selanjutnya. Semua anjuran Bu’e Jawa dilaksanakan oleh Wegu. Demikianlah setiap pagi Wegu memberi laporan hasil pengamatannya kepada Bu’e Jawa berturut-turut dari hari pertama sampai hari ketujuh, antara lain sebagai berikut:
1.     Hari pertama  :  di kubangan sudah penuh ulat.
2.     Hari kedua     :  ulat-ulat sudah sebesar jari kaki.
3.     Hari ketiga      :  ulat-ulat sudah sebesar betis dan berkaki.
4.     Hari keempat :  ulat-ulat sudah sebesar anak kerbau.
5.     Hari kelima     :  ada kawanan kerbau, kuda, babi, kambing, domba, ayam dan anjing.
6.     Hari Keenam    :       ada seekor anjing jantan yang besar bernama “JEBO”.
7.     Hari ketujuh   :  ada dua orang laki-laki bernama “Nge dan Ngobo” untuk gembala kerbau.

Setelah mendapat laporan terakhir pada hari ketujuh, Bu’e Jawa menyuruh Wegu memanggil “Nge dan Ngobo” untuk ke pondok tinggal bersama mereka, lalu Bu’e Jawa menyuruh Wegu ke Ola Dhawe menyampaikan kepada seluruh penduduk serta para mosalaki di Ola Dhawe untuk menopang tiang-tiang rumah mereka agar jangan rusak ditabrak kerbau, karena lagi tujuh hari Wegu bersama isterinya dengan kawanan kerbau dan hewan-hewan lainnya akan masuk Ola Dhawe.
Demikian Wegu melakukan semua apa yang telah dikatakan Bu’e Jawa. Pada keesokan harinya, Wegu pergi ke Kampung Ola Dhawe untuk menyampaikan bahwa lagi tujuh hari ia akan masuk Kampung Ola Dhawe bersama isterinya Bu’e Jawa beserta kawanan kerbau dan hewan-hewan lainnya. Tetapi penyampaian ini tidak dihiraukan oleh penduduk dan mosalaki di Ola Dhawe, malahan diterima dengan kata-kata fitnahan yang sangat menyakitkan hati Wegu. Yang patuh pada penyampaian Wegu hanya seorang janda miskin dan karena janda itu tak mempunyai anak dan pembantunya terpaksa dia meminta bantuan Wegu menopang rumahnya dengan sebatang damar.
Sebelum kembali ke “Nabe”, sekali lagi Wegu menyampaikan kepada penduduk Kampung Ola Dhawe: “Sungguh aku beritahukan kepada kamu, bahwa lagi tujuh hari aku bersama isteriku Bu’e Jawa akan masuk Kampung Ola Dhawe bersama kawanan kerbau dan hewan-hewan lainnya, tetapi kamu akan saksikan sendiri, pada hari ketujuh nanti ke arah Nabe dan Watu Doa sebelum matahari terbit, kamu akan lihat kepulan debu abu yang membumbung tinggi ke angkasa, bahwa apa yang saya katakan ini adalah benar.”

E.   Wegu Ana Ralo Bersama Bu’e Jawa Masuk Kampung Ola Dhawe
Setelah hari ketujuh semua penduduk Ola Dhawe mau menyaksikan apa yang telah dikatakan Wegu. Pagi hari sebelum matahari terbit dari arah Watu Doa dan Nabe, kelihatan debu mengepul ke udara, karena Wegu bersama kawanan kerbau dan hewan-hewan lainnya memasuki Kampung Ola Dhawe.
     Sebelum berangkat Wegu memerintahkan kepada kerbaunya yang terbesar (kerbau jantan): “Keluarlah “Taso Pesa” dan “Mai Wali”, kamu berjalan di depan mendahului kami bersama kawanan hewan yang lain dan menantikan kami di Malawaka.” Lalu keluarlah Taso Pesa dan Mai Wali berjalan di depan disusul oleh kawanan kerbau, kuda penuh dengan muatan padi dan kawanan hewan lain, sedangkan Wegu Ana Ralo menggoncengi Bu’e Jawa dengan seekor kuda yang gagah perkasa menyusul dari belakang.
     Melihat kepulan debu makin dekat Ola Dhawe, semua penduduk Ola Dhawe lari, separuh ke arah Sungai Aesesa dan separuh ke arah  Sungai Ae Mau. Setelah Wegu Ana Ralo bersama rombongan masuk Ola Dhawe menuju rumah Rajo Goa, sedangkan kawanan kerbau langsung ke kandang yang bernama “Kopo Tana” (Kopo Tana = kandang alam). Setelah seluruh muatan diturunkan dari kuda, barulah Wegu Ana Ralo memanggil semua penghuni Ola Dhawe yang lari ketakutan bercampur malu kembali ke Ola Dhawe. Semua rumah di Ola Dhawe dalam keadaan rusak berat kecuali rumah Rajo Goa dan rumah seorang janda miskin.
     Begitu semua mosalaki sudah berada di Ola Dhawe, Wegu Ana Ralo mengambil seekor kerbau induk dan seekor kerbau jantan membuat pesta dan semua penduduk Ola Dhawe diundang. Acara makan telah disiapkan dan hidangan dilaksanakan dengan penuh ramah-tamah di halaman rumah Rajo Goa. Selesai makan Wegu Ana Ralo mengambil dua tabungan bambu, satu tabungan bambu berisi tulang daging dan satu tabungan bambu lagi berisi kerak nasi. Tulang dan kerak nasi itu dituangkan dihadapan mosalaki sambil berkata:
“Inilah tulang daging dan kerak nasi yang pernah diberikan kepadaku dahulu. Tetapi saya memberi kamu daging dan nasi dengan hidangan yang paling baik. Saya tidak marah dan tidak menaruh dendam kepada kamu. Jika saya berbuat seperti apa yang kamu lakukan kepada saya, saya takut Tuhan (Ga’e Bapu = Tuhan Semesta) akan mengutuk saya. Tidak usah kuatir bahwa saya akan membalas dendam.”
Mendengar dan melihat semua itu, mosalaki-mosalaki menangis menyesali perbuatan mereka. Sesudahnya dilanjutkan lagi dengan musyawarah bersama untuk memperbaiki rumah-rumah di Ola Dhawe serta perencanaan “POGO PEO”, “MULA PEO”, dan “PARA PEO”.

F.    Pogo Peo dan Para Peo
Setelah direncanakan dengan matang oleh Wegu Ana Ralo bersama isterinya Bu’e Jawa dengan mosalaki-mosalaki Ola Dhawe, upacara “Pogo Peo” diselenggarakan. Berhari-hari penduduk Ola Dhawe mencari kayu yang akan dijadikan Peo tidak ditemui. Akhirnya baru ditemukan Kayu Rebu di Pau Lowa yang dihanyutkan dari Soa. Lalu dilanjutkan lagi dengan acara “Bhei Peo” (=Pikul Peo). Waktu Bhei Peo, Wegu berkata: “Miu saka pu’u, nga’o saka lobo” (artinya: kamu naik bagian pangkal, saya naik bagian ujung). Waktu Bhei Peo, salah seorang mosalaki Dhawe naik bagian pangkal (depan), sedangkan Wegu naik pada bagian ujung (belakang). Dengan demikian Wegu Ana Ralo tetap mengakui hak keturunan  Dhawe yang asli, walaupun pengembangan dan perluasan tanah Dhawe baru pada masa Wegu Ana Ralo.
Setibanya di Ola Dhawe barulah mulai dilangsungkan upacara “Mula Peo dan Para Peo”. Semua anggaran ditanggung oleh Wegu Ana Ralo dan Bu’e Jawa. Untuk meriah-ramaikan pesta itu, maka diisi acara-acara kesenian tarian dan tandak siang malam. Banyak orang yang datang menonton dari segala penjuru.
Upacara “Para Peo” sebagai upacara inti ditunda terus selama lima hari lima malam. Pada hari keenam, sementara Bu’e Jawa menari di halaman rumah, datanglah seekor anjing jantan merah menjilat-jilat kaki Bu’e Jawa. Bu’e Jawa tahu bahwa itu adalah anjing saudaranya dari Soa. Tak lama kemudian datanglah ketujuh saudaranya dari Soa berturut-turut dari yang tersulung sampai kepada yang bungsu yang dikawali oleh sekelompok orang Talukan dari Poma (Ana Bhui Mara = orang Talukan). Ketujuh orang saudara  Bu’e Jawa dari yang tersulung sampai kepada yang terbungsu yang datang ke Ola Dhawe adalah Lape Ga’e, Tade Ga’e, Gaja Ga’e, Gewo Ga’e, Gera Ga’e, Oba Ga’e dan Eko Ga’e.
Akhirnya Bu’e Jawa berhenti menari dan kembali ke rumahnya. Anjing jantan menyusul ke arah Bu’e Jawa jalan dan tamu-tamu yang datang menyusul kemana anjing itu berjalan. Setelah sampai di rumah Wegu Ana Ralo dan Bu’e Jawa, mereka berhenti dan duduk di halaman rumah. Yang paling sulung meminta air minum, Bu’e Jawa menyuruh seorang gadis membawa air minum, tetapi pelayanan dari gadis itu tidak diterima. Kemudian saudara yang kedua minta air minum, Bu’e Jawa menyuruh seorang gadis yang lain membawa air minum. Namun halnya sama sampai pada saudara yang keenam. Terakhir saudara ketujuh meminta air minum. Untuk kali yang terakhir Bu’e Jawa sendiri yang membawa air minum, Bu’e Jawa lebih dahulu kemudian tujuh orang gadis masing-masing membawa air sekendi dan nyiru.
Pada saat Bu’e Jawa turun, orang-orang Talukan (Ana Bhui Mara) dari “Poma” membentang kaki sehingga Bu’e Jawa berjalan di atas paha mereka. Pelayanan baru diterima dan sebelum minum air ketujuh saudaranya menuangkan perhiasan emas di atas nyiru. Jadi, ketujuh nyiru dituangkan dengan perhiasan emas tujuh gebhe (gebhe = tas tradisional yang diberi tutupan di atasnya yang dianyam dari daun atau kulit bambu).
Bu’e Jawa duduk dan melihat wajah saudara-saudaranya, maka ia duduk sambil menangis seraya berkata: “Miu teo nga’o ne’e riru wigu, bholo ko mo’o dhoko nga’o laza logo. Miu bae nga’o ne’e rara kasa, bholo mo’o su’u nga’o laza ulu” (artinya: kamu gantung saya dengan emas sampai kena bahu, tapi untuk memikulnya saya sakit belakang. Kamu gantung saya dengan perhiasan tetapi untuk menjunjung saya sakit kepala). Saudara-saudaranya mengerti bahwa ucapan-ucapan yang berupa kiasan itu untuk meminta tenaga bantu, karena Bu’e Jawa tidak ada anak.
Upacara Para Peo yang merupakan acara inti baru dilaksanakan setelah Bu’e Jawa mengantar saudara-saudaranya ke  penginapan, masing-masing sebuah panggung. Peo ditanam di depan rumah Rajo Goa dan sejak itu sampai sekarang lokasi tempat rumah Wegu Ana Ralo disebut “ANA WEGU”.
Selesai upacara “Para Peo” ketujuh saudara Bu’e Jawa memohon diri kembali ke Soa, tetapi Wegu Ana Ralo dan Bu’e Jawa meminta kesediaan mereka agar seorang putera bungsu tetap tinggal di Ola Dhawe sebagai ahli waris karena Wegu Ana Ralo dan Bu’e Jawa sendiri tidak mempunyai anak. Akhirnya Eko Ga’e tetap tinggal di Ola Dhawe dan diantarkan ke Au Radu, di rumah yang bernama “KELIKISA”. Eko Ga’e diserahkan hak adat sebagai: “Tugu-Tugu Laba Jawa, Ku Ulu Enga Eko” (Tugu-tugu = bendera, Laba Jawa = gendang, Ku Ulu Enga Eko = komando).

G.   Saudara-Saudara dari Bu’e Jawa Kembali ke Soa
Eko Ga’e tetap tinggal di Ola Dhawe sedangkan keenam saudara dari Bu’e Jawa kembali ke Soa dengan membawa seratus ekor kerbau yang terpilih dan garam. Pesan Bu’e Jawa: “Setiba di Soa kamu kerjakan lumbung di tengah kampung, lalu bakar dan nanti akan menjadi batu di tengah kampung. Batu itu untuk menjadi kenang-kenangan sampai turun-temurun.”
Keenam saudara bersama pengikutnya kembali ke Soa serta melaksanakan apa yang telah dipesan oleh Bu’e Jawa. Sebagai kenang-kenangan, kampung “Wuli Lade”, kampung asal Bu’e Jawa masih terdapat  tumpukan atau bukit garam di tengah kampung yang jaraknya kurang lebih 5 (lima) km  dari “Kolu Penu”.


H.   Fera Dhawe
Yang bertugas menggembalakan kerbau Wegu Ana Ralo dan Bu’e Jawa ialah “Nge dan Ngobo”, hasil penjelmaan dari ulat bersamaan kerbau Wegu Ana Ralo. Pada satu sore kedapatan hampir sebagian besar kerbau tidak masuk kandang. Maka Nge dan Ngobo pergi mencarinya di padang pengembalaan. Setelah jauh malam kedengaran sekelompok manusia sedang mengadakan tandak. Dengan penuh perhatian keduanya mengamati isi kata-kata yang diucapkan. Kata-kata yang diucapkan adalah merupakan petuah atau nasihat yang sangat berguna bagi masyarakat. Sekelompok manusia yang mengadakan tandak itu adalah kerbau-kerbau yang bertukar kulit, menjelma menjadi manusia. Demikianlah selama lima malam berturut-turut keduanya mengadakan pengamatan secara teliti. Setelah dipahami semuanya, Nge dan Ngobo melaporkan hal tesebut kepada Wegu Ana Ralo dan Bu’e Jawa. Wegu menyuruh Nge dan Ngobo agar tandak tersebut dilatih pula kepada seluruh penghuni Ola Dhawe.
Kata-katanya berasal dari kerbau Wegu Ana Ralo dan Bu’e Jawa (Penu Ga’e) yang selama 5 (lima) malam berturut-turut menjelma menjadi manusia serta mengadakan tandak yang disebut “Oro Fera” (Oro=nyanyian). Setelah diamati dengan teliti oleh pengembala kerbau yang bernama Nge dan Ngobo bahwa kata-kata itu intinya berupa nasihat atau ajaran bagi masyarakat yang harus dilaksanakan pada musim panas (Gua - Leza). Jadi, Fera adalah salah satu upacara kesenian musim panas (Gua - Leza), yaitu pada saat sesudah Go’a Dhawe (berburu adat Dhawe) dan sesudah Baro Dhawe. Baik kata-kata Fera sesudah Go’a Dhawe, yaitu sesudah Kose Runga dilaksanakan Fera duduk, sedangkan pada saat “Pala Roga Bore” yaitu sesudah Baro Dhawe dilaksanakan Fera berdiri, sambil memegang 17 (tujuh belas) tombak yang ujung kayu tombaknya terpancang pada batu sebagai lambang persatuan dari 17 (tujuh belas)  rumah adat (Sa’o Waja) di Ola Dhawe serta haram dipecahbelahkan oleh Suku Dhawe.
Inti dan kesimpulannya adalah merupakan ajaran atau nasihat yang harus dilaksanakan pada musim panas, yaitu:
  1. Bagian Pertama
Uaa...........uaa............

1.    Joro-joro mai lodo-lodo, rili tolo teda ine, ta ngelu olo.
=

=
Marilah(=suara kerbau memanggil kawan-kawannya).
Marilah turun dengan hati-hati,
duduk di atas balai-balai warisan leluhur yang suci murni.
2.    Nara-nara egu nara, pare-pare egu pare.
3.    Toko-toko deto, gho bego rewo, koba imu rua melu mere, rebha-rebha ngeta walo
=

=
Marilah mencari tempat yang baik, untuk menyimpan padi.
Tanaman yang tak berguna, batangnya berkembang, dan dapat hidup kembali.

Pada bagian pertama ini adalah merupakan persiapan dengan mengadakan musyawarah dan mufakat dalam keluarga sebagaimana telah diwarisi oleh leluhur kita dahulu (no.1.), yaitu dengan mencari atau mengumpulkan padi serta persipan lainnya, seperti menumbuk padi (=dho so’o dan dho meze), menentukan waktu untuk pesta (no.2.). Dengan mengadakan pesta adat Kenduri (zebu kobe), yaitu upacara penutupan orang mati, agar mereka dapat hidup bahagia di akhirat (=lau nitu wura), dengan demikian hubungan arwah dengan keluarga yang masih hidup dapat terjalin, sedangkan sebelumnya mereka hidup dalam kesengsaraan dan kemelaratan (no.3.). Dengan mengadakan upacara adat seperti Sunat (tau nuwa), yaitu upacara pendewasaan pada lelaki, mereka dapat dibolehkan untuk memimpin upacara-upacara adat serta kepada mereka apabila mati dapat dilakukan pesta adat Kenduri (=zebu kobe) yang berarti mereka dapat hidup bahagia di akhirat (=lau nitu wura) (no.3.).
Demikian pula dengan upacara Potong Gigi (zaba ngi’i), yaitu upacara pendewasaan pada wanita. Pada wanita yang telah melaksanakan upacara ini berarti mereka telah dewasa dan dapat kawin. Bagi wanita yang belum melaksanakan upacara Potong Gigi bila kawin baik resmi maupun tidak resmi, kepadanya dapat diberikan sanksi adat dengan memotong kerbau. Jika hal ini tidak dilakukan, pasti akan mendapat kutukan Tuhan (Ga’e Bapu=Tuhan Semesta) dengan sanksi tidak memberikan hujan yang teratur (no.3.) pada musim hujan.
  1. Bagian Kedua
Eae.............
1.    Tau ri’a dia nata kita, wari-wari pare iwa doe

2.    Putu-putu api raza meze, enga-enga riwu mai nizu
=
=


=
Kata seru yang menyatakan ajakan.
Marilah menjaga halaman ini dengan baik, menjemur padi agar jangan tercerai berai.
Marilah menghidupkan api (api unggun), memanggil orang untuk berdiang.

Sebagaimana tertera pada bagian pertama dengan mengadakan Kenduri (Zebu Kobe) sesuai keyakinan masyarakat adat, arwah keluarga yang telah meninggal hidup dalam keadaan sengsara, penuh dengan segala penderitaan dan melarat hidupnya di tempat perhentian terakhir (=lau nitu wura) dan sesudah Kenduri mereka dapat hidup bahagia dan dengan perantaraan mereka dapat membantu keluarga yang masih hidup baik rohani maupun jasmani. Dengan demikian hubungan dan persatuan antara arwah si mati dengan keluarga yang masih hidup tetap terjalin (no.1.).
Demikian pula dengan upacara pendewasaan seperti Sunat (=tau nuwa) dan Potong Gigi (=zaba ngi’i) semua handai tolan dan kaum keluarga diundang sebagai lambang persatuan dan perdamaian baik sesama yang masih hidup maupun dengan arwah si mati (no.2.).
Di samping itu juga dapat makan bersama bersuka ria dengan mengadakan Tandak, dimana terdapat kata-kata dalam bentuk pantun atau pepatah yang berisi nasihat atau sindiran yang bermanfaat bagi masyarakat (no.2.).
Pantun atau pepatah ada yang bersifat bebas, tapi ada pula kata-kata yang bersifat umum dan merupakan pertanyaan atau ajakan pada setiap Tandak, seperti:
- Ai mona atau ai manga mona




- Rai mona atau rai ka ne mona
  (rai kau ko ne mona)
=




=
Yang ditekankan pada kata tanya “apakah”, berarti apakah masih ada atau tidak nasihat-nasihat? Jika tidak ada yang menyambung dapat diteruskan dengan yang lain (no.2.)
Yang ditekankan pada kata tanya “maukah”, berarti maukah kamu mendengarkan nasihat atau tidak? (no.2.)

  1. Bagian Ketiga
     Eaee............
1.    Apa mite-mite sama moso, ana-ana ede wari wudu wea
2.    Rebha-rebha wudu wea, Kiki gale tuna rame
=
=

=
Kata seru yang menyatakan ajakan
Apa gumpalan hitam di sana, tempat menjemur pancing emas?
Lepaskan pancing emas,
guna mendapatkan belut.

Pada bagian ketiga memberi petunjuk bahwa hanya pada musim panas masyarakat dapat menyiapkan diri untuk menangkap ikan, udang, dan belut dengan menggunakan alat-alat tradisional yang ada (no.1.dan no.2.).
  1. Bagian Keempat
Ooo......eaee.........
1.    Be-be nio lewa, mara belu molo walo
2.    Poja-poja ana jara Wio,
bana pawe ma’e pengi nenu

3.    Pawe-pawe mema nuwa ame, nuwa ame mona gore noa, noa talo
4.    Raba-raba mema nuwa ana, nuwa ana, ine oee....ma’e taku gore
=
=

=


=


=


Kata seru yang menyatakan ajakan
Kelapa tinggi walaupun miring (bila ditiup angin) dapat tegak kembali
Jika melatih kuda Wio (Sumba),
setelah terlatih jangan melihat bayangan.
Lebih baik masa dulu,
masa dulu tidak mengalami kesulitan dan tantangan.
Tapi masa kini,
masa kini jangan putus asa
menghadapi kesulitan/tantangan.

Pada bagian kekempat menasihatkan, bahwa segala kekeliruan atau kemalasan dalam kehidupan sehari-hari dapat diperbaiki bila kita insyaf dan sadar (no.1.). Kepada orang tua harus melatih anaknya bekerja untuk memenuhi segala kebutuhan demi kesejahteraan keluarga baik rohani maupun jasmani dan tidak boleh bersikap masa bodoh (no.2.). Alangkah baiknya masa dulu, tidak mengalami kesulitan (no.3.) Tapi masa kini harus bekerja keras walaupun mengalami segala tantangan (no.4.).
  1. Bagian Kelima
1.    Ine bupu dewe reta tolo, wa’u nai mara pedha pele
2.    Ana manu mudhu reta tolo ghubu, eru leku au tengu
3.    Ana bheku noa noka weki, eru pale au zala

4.    Mo re’e ana manu lalu milo, kera-kera mona tei taso, daro-daro mona tei taso, nga so.... ma leki rili kopu tana kore.
=

=

=


=
Seorang perempuan tua tadi
turun naik sambil menyindir
Jangan seperti ayam bertengger di atas bubungan, tidur bermalasan
Jangan seperti musang meraung-
raung menyerah diri pada nasib,
tidur berbaring di pinggir jalan
Jangan seperti ayam jantan sehat
 dan tegap tubuhnya, walaupun dipanggil tak sudi kembali, meminta-minta tak sudi kembali mungkin sampai ke tanah seberang.

Pada bagian kelima merupakan nasihat orang tua dalam bentuk kiasan (no.1.) kepada masyarakat agar:
  1. Jangan seperti ayam bertengger di atas bubungan tidur bermalasan. Manfaatkan kaki dan tangan serta gunakan waktu kerja dan istirahat pada tempatnya agar kita dapat hidup bahagia dan sejahtera (no.2.).
  2. Jangan seperti musang yang meraung-raung dan tidur di pinggir jalan untuk menyerahkan dirinya kepada celaka (biasanya musang yang telah mempunyai telur delapan biji). Tetapi bekerjalah demi kebahagiaan dan kesejahteraan baik untuk diri sendiri maupun keluarga dengan tidak takut menghadapi kesulitan atau tantangan (no.3.).
  3. Jangan seperti ayam yang sehat dan tegap tubuhnya. Hanya berjalan ke sana ke mari, mengais-ngais mencari makan tak tentu arahnya. Walaupun dipanggil oleh tuannya, tidak sudi kembali. Kita harus mengikuti dan taat akan nasihat orang tua, supaya bekerja keras sesuai kalender kerja adat dari Gua Ru sampai Gua Leza, demi kebahagiaan diri sendiri maupun keluarga, agar kita jangan hidup meminta-minta dari rumah ke rumah, dari kampung ke kampung, bahkan sampai ke tanah seberang (=ke pulau-pulau lain). Kita harus bekerja keras dengan mengeluarkan keringat sendiri dan jangan meminta-minta atau mengemis dari hasil keringat orang lain (no.4.).

  1. Bagian Keenam
1.    Lelu wela-lelu wela wula molo, ko na lelu oee.......
2.    Pada-pada imu taru jawa,
sa wae mite mema
3.    Pada-pada imu pau jawa,
sa rua reki mema

4.    Ura suta Sina Goru,
Ko na goru oee.....
5.    Dhengi Jei keli rili,
ko na Dhengi oee.....
=

=

=


=

=
Kapas yang mekar tepat waktunya
adalah kapas yang tinggi mutunya
Pendek-pendek tarum jawa,
sekejap terus menghitam
Pendek-pendek mangga jawa
 (mangga kecil),
sekali mendidih terus melekat
Benang Cina/benang sutra yang
dibawakan oleh Ana Kodha Goru
Dhengi Jei di balik gunung sana,
itulah teladan yang patut ditiru.

Pada bagian keenam, mengajak kaum wanita untuk bertenun,           agar kaum wanita dapat memanfaatkan kapas yang mekar dan segar pada waktunya, supaya diolah dengan alat-alat tradisional (no.1.), memanfaatkan tarum untuk menghitamkan benang (no.2.). Manfaatkan kulit mangga kecil (pa’u Jawa) walaupun pohonnya pendek dan kecil tapi sangat tinggi mutunya, jika direbus, sekali mendidih terus melekat pada benang yang telah dihitamkan dengan tarum sehingga tidak luntur (no.3.).
Dhengi Jei yang tinggal menyendiri di balik gunung sana adalah keturunan Dhawe dan Dhengi, penghuni asli Ola Dhawe merupakan wanita yang memberi teladan kepada kaum wanita, bekerja keras serta tekun mulai dari pengolahan kapas menjadi benang, menghitamkan benang dengan tarum, mencelup benang pada kulit mangga setelah direbus agar tahan luntur, bertenun (no.5.) akhirnya menjadi kain yang tidak kalah mutunya dengan benang Cina atau benang sutra yang dibawakan oleh Ana Kodha Goru, pedagang Goa-Makassar yang pertama kali sampai di Ola Dhawe.

  1. Bagian Ketujuh
1.    Apa giku-giku zeta tuka lizu,      giku tuka ae uza
2.    Wonga-wonga ruma lepa tolo wolo, sama-sama keka moa poa (=ma poa).
=

=
Belang apa di atas langit,
belang mendung air hujan
Bunga turi di gunung sana, bagaikan kakatua di waktu pagi.

Pada bagian ketujuh, mengajak masyarakat untuk mempersiapkan kebun karena tanda-tanda awan mendung, bintang “Ko” di arah barat pada malam hari tidak timbul lagi, bintang “Nio” pada sore hari di arah selatan telah tenggelam (no.1.), bunga turi bagaikan kakatua di waktu pagi serta tumbuh-tumbuhan yang gugur mulai bertunas (no.2.) menandakan bahwa tidak lama lagi akan turun hujan.
Demikian penjelasan singkat yang merupakan pedoman hidup warisan leluhur kita yang diturunkan sejak Wegu Ana Ralo dan Bu’e Jawa. Pada setiap kali menutup kesenian adat Dhawe, seperti Oro Fera (Oro=nyanyian, lagu), Rido dan lagu sesudah tinju (Pata Eko Etu) selalu ditutup dengan kalimat: ”Putu-putu api raza meze, enga-enga riwu mai nizu. Tau ri’a-ri’a dia nata kita, wari-wari pare iwa doe.” Berarti tetap mengajak masyarakat untuk musyawarah dan bersatu agar semua rencana kerja dapat tercapai.
Selesai Fera waktu Pala Roga Bore sesudah Baro Dhawe semua anggota “Roga Bore” berdiri berbaris sambil memegang tombak dan menjepit biji batu pada jari kaki dengan muka menghadap ke arah timur atau matahari terbit lalu menghitung:
Esa (satu), zua (dua), telu (tiga), wutu (empat), lima bhisa (lima perbuatan yang baik dan suci) dengan menendang biji batu ke belakang atau ke arah matahari terbenam. Berarti semua perbuatan yang buruk, kemalasan seperti yang dilakukan oleh ayam, musang dalam kata-kata Fera harus dibuang atau ditendang, tenggelam bersama matahari, hanyut bersama air dan sekarang menuju matahari terbit mengikuti teladan “Dhengi Jei” serta bekerja keras dan tombak sebagai alat perang harus berjuang melawan kemiskinan serta kemelaratan.

I. Penutup
v  Kesimpulan
Setelah memperhatikan bacaan cerita rakyat Wegu Ana Ralo dapat disimpulkan bahwa:
  1. Penduduk asli Ola Dhawe sejak dahulu telah ada hubungan dagang dengan pedagang-pedagang Goa-Makassar.
  2. Hasil perdagangan dari negara luar masuk Ola Dhawe melalui pedagang Goa-Makassar, seperti: piga Sina (piring Cina), tana Sina (gumbang Cina), ura suta Sina (benang sutra/benang Cina), pane Sina (piring yang dibuat dari tanah liat).
  3. Cerita Wegu Ana Ralo bukan merupakan dongeng walaupun jalan ceritanya bersifat khayalan. Hal ini terbukti dengan adanya peningalan-peninggalan masa itu, seperti:
·         Pintu bekas kandang kerbau Wegu Ana Ralo.
·         Senjata/pedang Wegu Ana Ralo sebagai alat perang yang bernama “KAMU KE’O”.
·         Sisa kepingan peti Wegu Ana Ralo dan Bu’e Jawa dengan ukiran sisik ikan.
·         Peo di Ola Dhawe, yang kayunya berasal dari Soa, membuktikan kebudayaan Peo itu berasal dari Soa.
·         Nama Penu Ga’e setelah di Ola Dhawe berubah menjadi Bu’e Jawa (Gadis Jawa), membuktikan kejadian Wegu Ana Ralo dan Bu’e Jawa terjadi pada masa perluasan kerajaan Jawa ke NTT. Hasil kebudayaannya terbukti dengan nama: Tugu-tugu (bendera), Laba Jawa(gendang), pane Jawa (piring yang dibuat dari tanah liat). Hasil-hasil tanaman, seperti : jawa (jagung), muku jawa (pepaya), pau jawa (mangga) dsb.
·         Keturunan Eko Ga’e dapat dibuktikan dengan silsilah keturunan hingga saat sekarang.

v  Usul dan Saran
Agar cerita ini tetap utuh sesuai catatan tertulis tahun 1940 dan tahun 1957 diharapkan agar:
·         Dapat dibukukan sebagai bahan sejarah atau cerita rakyat.
·         Rumah-rumah adat / Sa’o Waja dapat dipugarkan kembali dan benda-benda peninggalan yang masih ada dapat ditertibkan.
·         Demi penyelamatan peninggalan-peninggalan yang masih ada kiranya ada perhatian dari pemerintah mendorong Suku Dhawe untuk membangun sebuah museum tempat penyimpanan benda-benda tersebut.





BAB IV

SEJARAH SINGKAT SUKU DHAWE


A. Penghuni Kampung Ola Dhawe

Ola Dhawe adalah tempat yang strategis dari segi keamanan, karena terletak di atas puncak bukit yang dikelilingi oleh jurang sehingga sangat sulit musuh menyerang kampung tersebut. Yang menghuni kampung Ola Dhawe terdiri dari 5 ( lima ) keluarga besar dengan rumah – rumah adat yang terletak dari “Ulu Ola Dhawe” sampai “Eko Dhoa Kata”, antara lain sbb: 

  1. Rumah Kowa Dhawe (Sa’o Pu’u = Rumah Induk)

a)    Tugas: “Waka Ola” = Gili Ola (Waka Ola = Naga Kampung, Gili Ola = Pelindung Kampung).
b)    Terletak di Ulu Ola Dhawe.
c)    Merupakan penghuni pertama sejak sejarah terjadinya Ola Dhawe.
d)    Berasal dari keluarga “Dhawe” (lk) dan Dhengi (pp).
e)    Mempunyai pembantunya dengan rumah / Sa’o Waja yang bernama     “Dhengi – Dhawe”.
f)     Memberikan kuasa kepada Ana Kodha Goru atau Ana Kodha Goa untuk menjaga keamanan di laut dan darat (Ana Kodha = Nahkoda yang bernama Goru berasal dari Goa – Makassar).

2.    Rumah Rajo Goa (Sa’o Pu’u)

                       a)    Dari keluarga Ana Kodha Goru atau Ana Kodha Goa.
                       b)    Tugas: menjaga keamanan di laut dan darat = Mosa Sike, Laki Bani.
                       c)    Berasal dari Goa – Makassar.
                       d)    Bertempat di Ana Wegu.
                       e)    Peo yang pertama di Ola Dhawe sebagai lambang kekuasaan atas tanah baru pada masa Wegu Ana Ralo dan Bu’e Jawa (Penu Ga’e), sehingga urutan tempat “Ana Wegu” merupakan urutan kedua dari Ulu Ola Dhawe.
                        f)    Menurut Bapak Saparaja tahun 1940, Kayu Rebu yang ditemukan di Pau Lowa berasal dari Soa yang dihanyutkan melalui Sungai Aesesa. Berarti kebudayaan Peo itu berasal dari Soa.
                       g)    Waktu pikul Peo (Bhei Peo), Wegu berkata: “Miu Saka Pu’u, Nga’o Saka Lobo.” Berarti Wegu tetap mengakui kekuasaan keluarga Dhawe sebagai orang pertama di Dhawe walaupun “Peo” sebagai lambang kekuasaan atas tanah dan perang perluasan tanah (Tana Meze Watu Lewa) baru pada masa Wegu Ana Ralo dan Bu’e Djawa (lihat perang Wegu Ana Ralo I dan II).
                       h)   Memiliki 3 (tiga) rumah cabang (Sa’o Wa’u) sebagai pembantunya ialah:
v  Rumah Jo Mara
v  Rumah Dhoa Goa
v  Rumah Talo Keli
                        i)    Kekuasaan dan hak dari Wegu Ana Ralo atas Peo Induk (Peo Raki = Laki–laki) diserahkan kepada Eko Ga’e saudara dari Bu’e Djawa (Penu Ga’e) dengan hak “Tugu –Tugu Laba Jawa, Ku Ulu Enga Eko” yang berlaku hingga sekarang ini.

3.    Rumah Kelikisa (Sa’o Pu’u)

                       a) Terletak di Au Radu (sebagai urutan ketiga dari Ulu Ola Dhawe, Ana Wegu dan Au Radu).
                       b) Dari keluarga Eko Ga’e.
                       c) Pemegang kuasa “Tugu – Tugu Laba Jawa, Ku Ulu Enga Eko”.
                       d) Dari keturunan Eko Ga’e, pada masa Dhima dan No mulai diadakan pembagian rumah dan kekuasaan/hak adat.
                       e) Dhima (kakak sulung) tetap tinggal di rumah Kelikisa  (Sa’o Pu’u ), sedangkan No turun dan tinggal di rumah yang bernama Tongananga.
                        f) Keluarga Dhima tinggal di rumah “Kelikisa” dengan tugas “Ku Ulu Enga Eko” melalui “Na’u Gua Ru  dan Gua Leza” sedangkan No (adik dari Dhima) tinggal di rumah yang bernama “Tongananga” dengan tugas “Tugu–Tugu Laba Jawa”.                                     

4.    Rumah Tongananga (Sa’o Wa’u)

                      a) Terletak di Au Radu.
                      b) Dari keluarga No, memberi tugas lagi kepada:

v    Rumah Aja Eko yang terletak di “Wolo Boko” sebagai “Tudhi–Dhedhe” untuk melaksanakan upacara adat Potong Gigi (Zaba Ngi’i) sebagai upacara pendewasaan pada wanita  dan Sunat (Tau Nuwa) sebagai upacara pendewasaan pada laki-laki.
v        Rumah Nata Nio dengan diberikan tugas adat
      sebagai “Lako Bore” (pasukan perintis).

    
5.    Rumah Gako Tasi (Sa’o Pu’u)

                        a)   Terletak di Au Radu, di samping rumah Tongananga.
                        b)   Dari keluarga Dhae Bhubhu, berasal dari Goa–Makassar.
                        c)   Ditugaskan untuk menjaga keamanan di pantai (perang Dhae Bhubhu dalam membantu Ndait Lewe melawan bangsa Portugis) = Mosa Sike, Laki Bani.
                        d)   Sebagai pembantunya 3 (tiga) rumah adat, yaitu:
v   Rumah Maro Jiu terletak di Au Radu, di                       samping rumah Gako Tasi.
v   Rumah Makawawo – terletak di Wolo Boko  dengan tugas sebagai “Lako Bore”.           
v  Rumah Dadhowawo – terletak di Wolo Boko.

6.    Rumah Tiwu Tasi (Sa’o Pu’u)

                        a)   Terletak di Kali.
                        b)   Bertugas sebagai “Guru”, yaitu: memimpin lagu/kesenian
                           dalam pelaksanaan seremoni adat Gua Ru sampai Gua
                           Leza seperti Masi Ae, Po Laku, Fera, Rido, dan Pata Eko
                           Etu (sesudah tinju).
      c)  Mempunyai pembantunya dari keluarga:
v  Rumah Kota Kali – terletak di Kali.
v  Rumah Raza Meze – terletak di Kali.

7.    Dhoa Kata =  Keluarga yang berdiam di Dhoa Kata telah punah,
                                  tanpa meninggalkan keturunan.



B. Pembagian Tugas Seremoni Adat

Dalam pelaksanaan Seremoni Adat sebagai puncak persatuan  dan kesatuan dari Suku Dhawe ialah “Baro Dhawe” yang dilakasanakan oleh 17 (tujuh belas) rumah adat / Sa’o Waja dengan perincian sbb:



NO.
NAMA RUMAH /SA’O WAJA
ALAT YG DIPAKAI
LOKASI / TEMPAT
TUGAS / FUNGSI
KETERANGAN
01.
KOWA DHAWE
TOMBAK
ULU OLA DHAWE
WAKA OLA / ANGGOTA
WAKA OLA = NAGA KAMPUNG;
GILI OLA = PERISAI, PELINDUNG KAMPUNG
02.
DHENGI DHAWE
TOMBAK
ULU OLA DHAWE
ANGGOTA
03.
RAJO GOA
TOMBAK
ANA WEGU
ANGGOTA
MOSA SIKE, LAKI BANI = 
PANGLIMA PERANG
04.
JO MARA
TOMBAK
ANA WEGU
ANGGOTA
05.
TALO KELI
TOMBAK
ANA WEGU
ANGGOTA
06.
DHOA GOA
TOMBAK
ANA WEGU
ANGGOTA
07.
KELIKISA
TOPO
AU RADU
KU ULU ENGA EKO / KETUA
KU ULU ENGA EKO = KOMANDO
08.
TONGANANGA
TOMBAK
AU RADU
TUGU - TUGU LABA JAWA / ANGGOTA
TUGU - TUGU = BENDERA; LABA JAWA = GENDANG
09.
NATANIO
TOMBAK
AU RADU
LAKO BORE / ANGGOTA
LAKO BORE = PASUKAN PERINTIS
10.
AJA EKO
TOMBAK
WOLO BOKO
TUDHI DHEDHE / ANGGOTA
TUDHI DHEDHE = PELAKSANA UPACARA SUNAT & POTONG GIGI
11.
GAKO TASI
TOMBAK
AU RADU
ANGGOTA
MOSA SIKE,LAKI BANI = PANGLIMA PERANG UNTUK MENJAGA PANTAI
12.
MARO JIU
TOMBAK
AU RADU
ANGGOTA

13.
MAKAWAWO
TOMBAK
WOLO BOKO
LAKO BORE / ANGGOTA
LAKO BORE = PASUKAN PERINTIS
14.
DADHOWAWO
TOMBAK
WOLO BOKO
ANGGOTA

15.
TIWU TASI
TOMBAK
KALI
GURU / ANGGOTA
GURU = LAGU; PEMIMPIN KESENIAN
16.
KOTA KALI
TOMBAK
KALI
ANGGOTA
17.
RASA MEZE
TOMBAK
KALI
ANGGOTA


Dalam pelaksanaan Baro Dhawe yang dilaksanakan setahun sekali terdiri dari 4 (empat)  kelompok  “Maro Roga Bore”, yaitu:

1.    Kelompok Induk / Maro Meze : untuk semua rumah / Sa’o Waja yang terletak di Au Radu dan Wolo Boko, yaitu: dipimpin oleh rumah Kelikisa dengan anggta-anggotanya dari rumah Tongananga, Aja Eko, Gako Tasi, Maro Jiu, Makawawo, Dadhowawo, sedangkan rumah Natanio diserahkan tugas sebagai pasukan perintis/ pengawal untuk rumah Kowa Dhawe. 
2.    Kelompok kedua : untuk rumah-rumah / Sa’o Waja yang terletak di Ulu Ola Dhawe yang dipimpin oleh rumah Kowa Dhawe dengan anggotanya dari rumah Dhengi Dhawe.
3.    Kelompok ketiga : untuk rumah-rumah / Sa’o Waja yang terletak di Ana Wegu. Dipimpin oleh Rumah Rajo Goa dengan anggotanya dari rumah Jo Mara , Talo Keli, dan Dhoa Goa.
4.    Kelompok keempat : untuk rumah-rumah / Sa’o Waja yang terletak di Kali. Dipimpin oleh rumah Tiwu Tasi dengan anggota-anggotanya dari rumah Kota Kali dan Rasa Meze.

Dalam pelaksanaan Seremoni Adat “RIDO”, yaitu penyembelihan anjing di atas “Waka Ola” yang berlokasi di Ulu Ola Dhawe, yang berhak menyembelihkan anjingnya di atas Waka Ola, yaitu dengan urutan anjing dari rumah Kowa Dhawe dan urutan kedua adalah anjing dari rumah Kelikisa, sedangkan anggota-anggota dari rumah lain, anjingnya tidak di sembelih tetapi hanya dipukul. Upacara ini ditutup dengan “Lagu Rido”.


                       
C.   Nama - Nama Suku

  Dhawe merupakan satu kesatuan hukum adat Dhawe yang berpusat di Ola Dhawe sebagaiman ternyata dalam sebutan Baro Dhawe, Goa Dhawe, Tanah Dhawe dan sebagainya. Tanah Dhawe merupakan kumpulan dari 5 (lima) keluarga besar penghuni Kampung Ola Dhawe yang terdiri dari 5 (lima) fungsionaris adat Suku Dhawe sesuai dengan Peo yang ada di Ola Dhawe.
Hal ini ternyata dalam surat-surat pernyataan / penyerahan tanah yang menjadi bukti tertulis sebagaimana tercantum di atas pada masa Swapraja Nagekeo pada:

  1. Surat Penyerahan Tanah Gereja di Wolo Ebe tertanggal 1 Oktober 1941 menyebutkan: pemilik-pemilik Tanah Dhawe atas nama; Lukas Dori, Saparaja, Bao Busa, dan Dhae Teze.
  2. Surat Keputusan Bersama Tuan Tanah Dhawe tertanggal 15 Maret 1958, menyatakan atas nama Suku Dhawe:
v  Papu Rae      : atas nama suku dari rumah Tongananga.
v  Sape Tima    : atas nama suku dari rumah Rajo Goa.
v  Sepi Reo       : atas nama suku dari rumah Gako Tasi.
v  Atu Gore       : atas nama suku dari rumah Tiwu Tasi.
Catatan: Lukas Dori dari rumah Kowa Dhawe tidak hadir.

  1. Pernyataan dari para Tuan Tanah Dhawe tertanggal 1 April 1961 mengenai Laporan Tanah Suku, dinyatakan atas nama Suku Dhawe:  1) Dori Noe, 2) Sape Tima, 3) Papu Rae, 4) Atu Aribapa, dan       5) Sepi Reo.

Pernyataan-pernyataan pada masa Swapraja sesuai dengan sebutan Tanah Dhawe, Baro Dhawe, dan Goa Dhawe. Tetapi selanjutnya setelah Swapraja dibubarkan dan diganti dengan kecamatan, mulai merubah dan memecah belahkan Suku Dhawe menjadi 5 (lima) suku.

Hal ini ternyata dalam pernyataan / penyerahan tanah Irigasi Mbay yang ditandatangani oleh Herman Ngebu, Servas Sandino dan Mathias Padha Djawa tertanggal 5 Mei 1970 di atas konsep yang telah dicetak dan menurut Camat Aesesa (Domi Dagang) tidak bisa dirubah. Dalam pernyataan / penyerahan tersebut  menyatakan; “Yang menyerahkan / pihak pertama atas nama tuan tanah mewakili:

            1. Kosmas Laha                  : Kepala Suku Kowa Dhawe
            2. Piet Bhela                         : Kepala Suku Tiwu Tasi
            3. Ibrahim Remang             : Kepala Suku Rajo Goa
            4. Laki Dhawe                      : Kepala Suku Tongananga
            5. Robertus Dhae               : Kepala Suku Gako Tasi
    …………….dan seterusnya untuk Suku Keko Lape / Nataia.”

Selanjutnya dalam pernyataan Suku Dhawe tertanggal 22 Juli 1972 dengan pemakaian nama suku sehingga Suku Dhawe dinyatakan  5 (lima) suku sesuai pernyataan penyerahan tanah tertanggal 5 Mei 1970, yaitu:

1. Kepala Suku Kowa Dhawe       : 1) S. Laru Dhawe,
                                                              2) E. Dula Dori.
2. Kepala Suku Tongananga        : 1) Kons Nitu Papu,
                                                              2) Bernabas Bebi Poto.
            3. Kepala Suku Rajo Goa               : 1) Ibrahim Remang Lantong,
                                                              2) A. Daeng Maro.
            4. Kepala Suku Tiwu Tasi              : 1) Paulus Atu Gore,    
                                                              2) Petrus Bhela.
            5. Kepala Suku Gako Tasi             : 1) Abubakar Sepi Reo,      
                                                              2) Robertus Dhae Beri.
Dan selanjutnya hingga saat-saat terakhir mulai menggunakan nama suku yang sebenarnya adalah Rumah Adat / Sa’o Waja.



D. Penutup

Setelah memperhatikan urutan tempat tinggal di Ola Dhawe dari Ulu Ola Dhawe sampai Eko Dhoa Kata dapat disimpulkan bahwa;

  1. Suku Dhawe terdiri dari 5 (lima) keluarga besar dengan urutan sbb:

a.    Keluarga Dhawe.
b.    Keluarga Ana Kodha Goru.
c.     Keluarga Eko Ga’e.
d.    Keluarga Dhawe Wio.
e.    Keluarga Dhae Bhubhu.

  1. Dhawe hanya mengenal satu kesatuan adat dan tanah Dhawe yang terdiri          dari 5 (lima) fungsionaris adat dengan tugasnya masing-masing dan bukan terdiri dari 5 (lima) suku.

3.    Nama Suku-suku Dhawe yang dikenal sekarang ini adalah nama rumah  adat , bukan nama suku.






















BAB V

SEJARAH TERBENTUKNYA IBU  KOTA  KECAMATAN AESESA


A. Asal Mulanya Nama Danga

          Danga adalah sebuah dusun atau kampung yang diberi nama oleh Li Ema dari keluarga Dhima Gamo sebagai orang pertama yang menghuni tempat ini. Nama ini diberi menurut nama sejenis kayu yang sangat bermutu untuk bahan bangunan rumah. Nama Danga yang aslinya disebut “Danga Kapa” yang berarti hutan Danga yang rimbun dan rindang daunnya.

          Kemudian  menyusul lagi dari keluarga No, yaitu Doy Bay, Wu Bay (Wu Bay kuburnya masih di Ola Dhawe di depan rumah Tongananga), Rae Sigi dan Danga Sigi. Dengan adanya kelompok kedua ini “Danga Kapa” dipecahkan lagi sehingga menjadi 2 (dua) kampung, yaitu Dangawawo tetap dihuni oleh keluarga Li Ema dan Danga Au untuk keluarga Doy Bay, Wu Bay, Rae Sigi dan Danga Sigi.

          Pada masa Ngada Woga, Podi Woga, Bheo Woga, Ameka’e Pay, Fa Pay (=Fa Pay tinggal bersama dengan Bapak kecilnya  Li Ema di Dangawawo), dan Busa Fe’a menghuni tempat yang bernama “Todoboa”. Nama ini diberikan demikian, karena di situ banyak hutan kapok. Jadi yang dimaksudkan dengan “Danga” sebelum terbentuknya Kerajaan Nagekeo adalah Dangawawo, Danga Au dan Todoboa. Baik dari  keluarga Dhima maupun keluarga No semuanya berasal dari Kampung “Ola Dhawe”, rumah Kelikisa dan Tongananga, kemudian disusul lagi dari keluarga-keluarga di Ola Dhawe, seperti keluarga dari rumah Gako Tasi, Aja Eko, dan Rajo Goa.

          Selain keluarga dari Ola Dhawe sejak sebelum kedatangan Belanda tahun 1904, ada pula keluarga dari suku tetangga, yaitu  Lape dan Rendu berpindah tempat dan  tinggal bersama-sama di Danga.
       

B. Danga Sebagai Tempat Yang Strategis

     Sejak kedatangan Belanda yang pertama tahun 1904 melalui Riung dan dari Riung ke timur serta berlabuh di pantai “PUTA” yang dipimpin oleh Kapten Christoffel bersama anggota-anggotanya yang dikenal, yaitu Spander, Saragouw, Saymina, Letnan Van der Maulen (=oleh penduduk disebut “Tua Bhara”) dan pengikut-pengikutnya yang oleh penduduk disebut “Tua Mite” atau Belanda Hitam, seperti Lobo, Dida, Koro dan lain-lain yang tidak dikenal nama oleh penduduk (Tua=Tuak karena warna kulitnya seperti moke putih, Tua Bhara=Belanda Putih, Tua Mite=Belanda Hitam). Sebagai tempat penyeberangan pada sebuah kolam dibuatkan jembatan yang disebut “Padha Lobo”, yaitu jembatan yang dikerjakan oleh “Lobo” pengikut Belanda.

        Dari situ mereka terus mencari tempat yang tampan untuk di jadikan markas, yaitu di “Wolo Ebe” (sekarang disebut Gunung Batu) tempat mana berada di antara Danga Kapa (Dangawawo sebelum pindah tahun 1955) dan ”Wolo Makassar” (Kampung Mbay-Dam sekarang), yaitu tempat yang pernah didiami oleh orang Makassar.

        Kapten Christoffel menawarkan “Li Ema” untuk menjadi raja tapi tawaran itu ditolak. Di Wolo Ebe Belanda merasa kurang aman karena kedatangan mereka pertama disambut dengan dentuman  meriam, apalagi pada saat kedatangan mereka telah ada perbentengan (pagar batu) yang cukup kuat (bekasnya masih ada di Dangawawo, sekarang antara kandang kerbau menuju arah Sungai Aesesa) dalam persiapan menanti serangan “Roga Ngole”  dari Boawae (Nage)

      Dari Wolo Ebe mereka pindah ke “Nggolo Mbay” (Ola Bay) serta menawarkan “Lantong Rimba” menjadi raja. Namun sama halnya dengan Li Ema tawaran Belanda ditolak. Selama bermarkas di Nggolo Mbay (Ola Bay) Belanda melaksanakan tugas operasinya ke Kampung “Natarale”. Di sana mereka disambut penduduk dengan bunyi bedil sehingga terjadi perlawanan. Akhirnya penduduk Kampung Natarale terpaksa menyingkir ke hutan. Pada saat itu kebetulan ada seorang wanita yang tak sempat lari dan bersembunyi di atas pare - pare api. Wanita itu bernama “Te’a Lodhu”, wanita itu setelah diperkosa lalu dipaksa menunjukkan jalan tempat persembunyian penduduk, yaitu di “Lowo Atu”. Penduduk yang mati kena tembak, yaitu Moa isteri dari Nuka Wuga bersama kedua anaknya Tunga dan Teda. Sedangkan anggota pasukan Belanda yang mati sebanyak 2 (dua) orang Belanda Hitam (Tua Mite) yang tak dikenal namanya.

        Hanya beberapa bulan di Nggolo Mbay, pasukan itu terus ke Malawona. Dari Malawona pimpinan Belanda bersama anggotanya ke Boawae dan Bajawa. Di Boawae Belanda berhasil menawarkan Roga Ngole untuk menjadi raja.


C. Danga Sebagai Pusat Paroki dan Pengembangan Agama Katolik

          Wolo Ebe yang menjadi pusat perhatian Belanda dapat dipilih oleh Pastor untuk menjadi pusat Paroki di wilayah Kerajaan Nagekeo Bagian Utara, yang meliputi Hamente Dhawe, Hamente Rendu, Hamente Nataia, Hamente Wolowae, dan sebagian Hamente Munde yang menggunakan bahasa dengan dialek Ja’o/Nga’o, sedangkan Hamente Mbay dan sebagian dari Hamente Munde (Cila, Mulu, Nggolonio, Towak, dan Nanganumba) yang berdialek “Ghau” termasuk Paroki Wangka.

          Untuk mendapat kepastian hak atas tanah, Bapak Pastor P. Crouzen, SVD. bersama anggota Kerkbestur / Dewan Gereja, Ande Denga Paru, Rudolfus Ru, Stanis Mesi Padhi, Emanuel Lena, dan Hendi Raja memohon bantuan Suku Dhawe agar Wolo Ebe diserahkan menjadi tanah Gereja, sehingga tanggal 1 Oktober 1941 Suku Dhawe atas nama Dori Noe, Saparaja, Bao Busa dan Dhae Teze menyerahkan tanah untuk Gereja secara tertulis atas segel Rp. 1,- (satu rupiah) dengan saksi-saksinya; Agus Geju,Simon Mite, dan Tiba Mesa.

          Kemudian dengan adanya kunjungan Wakil Presiden RI (Drs. Muhammad Hatta) tanggal 26 April 1952 dengan pusat penerimaannya di Dangawawo, sehingga dapat dibangun sebuah bendungan yang dikerjakan oleh CV. Flores My, maka pada tahun 1955 pusat paroki dipindahkan ke Bukit Wolo Nagho atau sekarang disebut Tozupazo dengan penyerahan dari Suku Dhawe tertanggal 6 Desember 1962 yang ditandatangani / cap jempol oleh Suku Dhawe; 1) Papu Rae, 2) Petrus Bhela, 3) Felix Bajo Sato, 4) Robert Dhae Beri, 5) (E. Dula Dori tidak hadir) dan diperbaharui lagi tanggal 23 Mei 1973 yang ditandatangani oleh  E. Dula Dori, Ibrahim Remang, Kons Nitu, Petrus Bhela dan Abdulkadir Sepi Lalo.

          Berdasarkan penyerahan  terakhir dinyatakan bahwa penyerahan tanggal 1 Oktober 1941 ditarik kembali dan diserahkan kembali kepada Suku Dhawe untuk anggota-anggotanya yang telah memiliki tempat tersebut.









D. Danga Sebagai Pusat Hamente Dhawe   

          Sejak terbentuknya Kerajaan Nage dengan Roga Ngole sebagai rajanya yang pertama, maka terbentuklah Hamente-Hamente (Gemeente) diantaranya Hamente Dhawe dengan pusatnya Danga, walaupun terdapat perubahan-perubahan Struktur Pemerintah Kolonial seperti:

  1. Sejak terbentuknya Onder Afdeling Flores tahun 1906 dengan Crouveeur sebagai Kontroleur yang pertama, status Hamente (Gemeente) Dhawe tetap berlangsung dengan Danga sebagai pusatnya.
  2. Terbentuknya Keresidenan Timor dengan ibu kotanya Kupang yang terdiri dari 3 (tiga) Afdeling dan 15 (lima belas) Onder Afdeling di antaranya Onder Afdeling Ngada dan 14 (empat belas) Swapraja di antaranya  Swapraja Nagekeo berdasarkan Stbl/LN. No. 331 Thn 1916, status Hamente Dhawe tetap berlangsung dengan Danga sebagai pusatnya.
  3. Terbentuknya Sunda Kecil / Nusa Tenggara yang terdiri dari Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, Timor dan pulau-pulaunya berdasarkan PP No. 21. LN No. 59 Thn 1950,  status Hamente Dhawe tetap berlangsung dengan Danga sebagai pusatnya.
  4. Sunda Kecil dibagi menjadi 3 (tiga) Propinsi, yaitu Bali, NTB, dan NTT berdasarkan UU No. 54 Thn. 1958, status Hamente Dhawe tetap berlangsung dengan Danga sebagai pusatnya.
  5. Terbentuknya Daerah Tingkat II di Propinsi Nusa Tenggara Timur berdasarkan UU No. 69 Thn. 1959, LN. No. 1221. Tambahan Lembaran Negara (TLN) No. 1655, status Hamente  Dhawe tetap berlangsung dengan Danga sebagai pusatnya.
  6. Sama halnya dengan Hamente lain, untuk Swapraja Nagekeo, Hamente Dhawe merupakan satu kesatuan masyarakat dan Hukum Adat yang sama dengan perbatasan sbb:
Ø  Sebelah Utara dengan Laut Flores
Ø  Sebelah Selatan dengan Hamente Rendu
Ø  Sebelah Timur dengan Hamente Nataia
Ø  Sebelah Barat dengan Hamente Mbay / Sungai Aesesa.
       
          Hamente Dhawe terdiri dari 4 (empat) Kepala Kampung dan tiap-tiapnya dibantu oleh seorang Mandor Kampung. Kepala-kepala Kampung yang dikenal pada masa Jepang, yaitu:

Ø  Kepala Kampung Danga terdiri dari Kampung Dangawawo, Danga Au, dan Todoboa dengan Kepala Kampungnya Phelipus Dhae Goa.
Ø  Kepala Kampung Ngaba terdiri dari Kampung Wolokoto / Boabe, Rata, dan Boarebhe dengan Kepala Kampungnya Gerardus Goa Dhalu.
Ø  Kepala Kampung Natarale terdiri dari Kampung Natarale dan Boasabi dengan Kepala Kampungnya Hendrikus Raja Reso.
Ø  Kepala Kampung Rateule yang terdiri dari Kampung Boamuzi / Kotabaru dan Nagewajo dengan Kepala Kampungnya Andreas Denga Paru.
      
        Selain dari Kepala Kampung, Kepala Hamente diperintahkan oleh Kepala Mere dengan dibantu oleh Mandor Mere, Mandor Mere pada masa penjajahan Jepang ialah Martinus Mere Beu. Kepala-kepala Hamente (Kepala Mere) sejak terbentuknya Hamente (Gemeente) Dhawe adalah sebagai berikut:

1)    Li Ema                            = dari tahun 1905 - tahun 1914
2)    Pone Poto                     = dari tahun 1914 - tahun 1926
3)    Petrus Bebi Poto          = dari tahun 1926 - tahun 1939
4)    Stanis Mesi Padhi       = dari tahun 1939 - tahun 1952
5)    Pius Pinga Tonga        = dari tahun 1952 - tahun 1962.



E. Danga Sebagai Pusat Pendidikan

  1. Sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 di wilayah utara Swapraja Nagekeo telah dibangun SD (Sekolah Dasar) 3 (tiga) tahun oleh Misi Katolik pada setiap Hamente, yaitu:

v  SDK Mbay (sekarang SDK Dhawe)   didirikan tgl 1-8-1914
v  SDK Nataia                                            didirikan tgl 1-8-1921
v  SDK Munde                                           didirikan tgl 1-8-1924
v  SDK Rendu                                           didirikan tgl 1-8-1927
v  SDK Dhawe (sekarang SDK Wolorae)            didirikan tgl1-8-1928
v  SDK Wolowajo                                     didirikan tgl 1-8-1939

  1. Dalam pembangunan di bidang pendidikan memegang kunci utama untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa dan menanggulangi kemiskinan serta kemelaratan. Danga sebagai pusat Hamente Dhawe dan pusat Paroki sesudah Proklamasi Kemerdekaan mendapat kesempatan pertama untuk menjadi SR (Sekolah Rakyat) lengkap 6 (enam) tahun, yaitu sejak tahun pelajaran 1950/1951, 1951/1952, 1952/1953 ditingkatkan menjadi kelas IV, V, dan VI dan seterusnya sampai sekarang. Sekolah Rakyat (SR) kemudian diubah menjadi Sekolah Dasar (SD). Sesudah dari itu berturut-turut dibangun sekolah-sekolah, yaitu:

v  SMEPK Tozupazo Danga pada tanggal 1 Agustus 1957. Pada tahun 1968 SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) dari status swasta 100% ditingkatkan menjadi status subsidi dari pemerintah. Kemudian tahun 1977 diintegrasikan menjadi SMP dengan status diakui.
v  SMPK Hanura Danga       didirikan pada tanggal 1 Januari 1969
v  TKK Kuntum Mekar           didirikan pada tanggal 1 Januari 1975
v  SD Inpres Danga             didirikan pada tanggal 1 Agustus 1978
v  SMAK Baleriwu Danga    didirikan pada tanggal 1 Agustus 1982
v  TKK Susteran St. Theresia Danga didirikan pada tanggal 1 Agustus 1990.




CATATAN :
SDK Mbay yang sekarang dirubah menjadi SDK Dhawe, baik oleh Bapak Sakera sebagai guru yang pertama pada sekolah ini, maupun Bapak Phelipus Dhae Goa sebagai murid yang pertama pada sekolah ini menjelaskan bahwa SDK Mbay didirikan pada tanggal 1 Agustus 1914 bukan 1 Agustus 1916.
























BAB VI
PERANG DHAWE MELAWAN PENJAJAHAN BELANDA

A. Pendahuluan
           Sejak kedatangan Belanda yang pertama tahun 1904 melalui Riung dan dari Riung ke timur serta berlabuh di pantai “Puta” (Dermaga Marapokot sekarang) yang dipimpin oleh Kapten Christoffel bersama-sama anggotanya yang dikenal, yaitu Spander, Saragouw, Saymina dan Van der Maulen yang oleh penduduk disebut Tua Bhara (Tua = Tuak, Bhara = Putih karena warna kulit badannya seperti tuak putih) dan pengikut-pengikut yang lain yang oleh penduduk disebut Tua Mite (Tua = tuak, Mite = hitam) seperti Lobo, Dida, Koro dan lain-lain yang tidak dikenal nama oleh penduduk.
Sebagai tempat penyeberangan pada sebuah kolam dibuatkan jembatan yang disebut “PADHA LOBO”, yaitu jembatan yang dikerjakan oleh Lobo pengikut Belanda. Dari situ mereka terus mencari tempat yang tampan untuk dijadikan markas, yaitu di  “Wolo Ebe” (sekarang disebut Gunung Batu) tempat mana berada di antara Danga Kapa (Dangawawo sebelum pindah tahun 1955) dan Wolo Makassar (Kampung Mbay-Dam sekarang), yaitu tempat yang pernah didiami oleh orang Makassar.
Kapten Christoffel menawarkan “Li Ema” untuk menjadi raja, tapi tawaran itu ditolak. Di Wolo Ebe, Belanda merasa kurang aman karena kedatangan mereka yang pertama diterima dengan dentuman meriam, apalagi saat kedatangan mereka telah ada perbentengan (pagar batu) yang cukup kuat (bekasnya masih ada di Dangawawo sekarang antara kandang kerbau menuju arah Sungai Aesesa) dalam persiapan menanti serangan “Roga Ngole” dari Boawae (Nage). Dari Wolo Ebe mereka pindah ke Nggolo Mbay (Ola Bay) serta menawarkan “Lantong Rimba” menjadi raja, namun sama halnya dengan Li Ema tawaran Belanda ditolak.
Selama bermarkas di Nggolo Mbay (Ola Bay)  Belanda melaksanakan tugas operasinya ke Kampung “Natarale”. Di sana mereka disambut oleh penduduk dengan bunyi bedil sehingga terjadi perlawanan. Akhirnya penduduk Kampung Natarale terpaksa menyingkir ke hutan. Pada saat itu kebetulan ada seorang wanita yang tak sempat lari dan bersembunyi di atas loteng (para-para api). Wanita itu bernama “Te’a Lodhu”. Wanita itu setelah diperkosa, lalu dipaksakan menunjukkan jalan tempat persembunyian penduduk,  yaitu di “Lowo Atu”. Penduduk yang mati kena tembak, yaitu “Moa” isteri dari Nuka Wuga bersama kedua anaknya Tunga dan Teda. Sedangkan anggota yang mati 2 (dua) orang Belanda Hitam (Tua Mite) yang tak dikenal namanya.
Jadi berbeda dengan kedatangan suku-suku yang datang ke tanah Dhawe sebelum kedatangan bangsa Belanda, seperti Dhae Wio dari Wio (Sumba), Ana Kodha Goru dari Goa – Makassar, Eko Ga’e dari Soa, Dhae Bhubhu dari Bugis – Makassar, Suku Mbay dan lain-lain disambut dengan ramah dengan kedatangan bangsa kulit putih ini.
Hanya beberapa bulan di Nggola Mbay, pasukan itu terus ke Malawona. Dari Malawona pimpinan Belanda bersama anggotanya ke Boawae. Di sana Belanda berhasil menawarkan “Roga Ngole” untuk menjadi raja. Dari Boawae akhirnya terus ke Bajawa.

B. Sebab-Sebab Timbulnya Peperangan
Sejak Belanda masuk pertama telah terasa kecurigaan terhadap kedatangannya. Dengan tipu daya mereka membujuk pemuka-pemuka masyarakat untuk menjadi raja dan menjadi Kepala Hamente. Tetapi setelah terbentuknya suatu sistem pemerintahan untuk memeras rakyat melalui pemuka-pemukanya, maka kecurigaan itu terasa benar dan tepat.
Adapun sebab-sebab seluruh masyarakat Hamente Dhawe turut berperang membantu “Nipa Do” ialah:
  1. Mendukung ide Nipa Do karena terdapat pemerasan bayar pajak dan kerja rodi.
  2. Masyarakat Dhawe tidak suka dijajah oleh Belanda sejak kedatangan Belanda yang pertama.
  3. Perasaan dendam yang belum terpulih, tertembaknya “Ngoba” salah seorang pemuka Dhawe waktu perang membantu Rendu yang dilakukan oleh Roga Ngole sebelum kedatangan Belanda untuk memperluas wilayahnya ke utara.
  4. Perasaan dendam terhadap Belanda karena mengumpulkan sebagian bedil dan kebal dari pemuka masyarakat dan dikuburkan di Malawona pada tempat yang tidak diketahui.
  5. Masyarakat Dhawe masih merasa cukup kuat dengan bedil dan kebal yang dimiliki untuk melawan Belanda.
  6. Masyarakat Dhawe rela membantu Nipa Do karena rasa persaudaraan, senasib, sebangsa dan setanah air.

C. Jalannya Peperangan
Sekalipun tidak terlaksana perkawinan antara “Tiba” anak laki-laki dari Nipa Do dengan “Tuwa Upa” puteri dari Rae Sape, namun hubungan antara kedua keluarga tersebut tetap terjalin baik serta saling melahirkan dengki terhadap bangsa Cina yang menurut anggapan mereka turut melakukan penjajahan bersama Belanda atas rakyat sependerita. Ketika Nipa Do dalam keadaan panik menyediakan peperangan melawan Belanda, maka disuruhnya seorang lelaki bernama “Ruja Gene” mendapatkan Rae Sape di Danga untuk menyampaikan ide peperangan yang harus dilakukan bersama. Kemudian setelah ide ini disetujui oleh Rae Sape dan direstui pula oleh Pone Poto (Kepala Hamente Dhawe), maka Pone Poto memerintahkan seluruh rakyat Hamente Dhawe untuk bersama Rae Sape membantu Nipo Do.
Setelah Belanda mengalami kekalahan besar pada beberapa tempat di Wolowae Selatan lalu mundur diri dan diperkuatkan kembali serta berangkat menuju Kampung Soba untuk mengadakan perbentengannya di sana. Setelah di dengar kabar bahwa Watu Api akan diserang oleh Belanda dengan menempuh jalan Soba, Nataia, Aeramo dan terus ke Watu Api, lalu dikerahkan tenaga bantuan dari Rae Sape dan Dhedhu Wati untuk mengadakan pertahanan bersama pada tempat yang bernama “Teokodo”. Kira-kira bulan September muda tahun 1916 jam 07.00 pagi, Rae Sape berangkat dari Danga bersama pasukannya ke Teokodo untuk pertahanan bersama Nipa Do. Pasukan itu sebanyak 100 (seratus) orang.
Kemudian benteng itu disergap oleh pasukan Rae Sape, Nipa Do dan Dhedhu Wati secara serentak pada malam hari pada waktu tentara Belanda sedang makan, sehingga mengakibatkan kematian kurang lebih 30 (tiga puluh) orang ditambah dengan 15 (lima belas) orang lainnya luka-luka. Di antaranya yang dikenal Kobus, Tinus dan Dida, dari pihak rakyat mengalami 2 (dua) nyawa tewas bernama Sadha Suta dan Bhongo Bongu.
Adapun anggota-anggota pasukan Rae Sape, yaitu Ja Aja, Mona Rasa, Mile Kewa, Laga Tawa, Tero Tawa, Bhadho Kase, Wegu Sena, Taumai Sena, Lepa Tiu, Bheo Woga, Podi Woga, Doy Lako, Laki Jawa, Doy Noi, Lila Kewa, Danga Sigi, Doi Bai, Dhae Dhajo, Sa Bay, Doa Mau, Usu Rupa, Dhae Tema, Dala Lotu, Bao Busa, Pi Moke, Pone Poto (Kepala Hamente Dhawe), Lodhu Ea, Turu Gaga, Pelo Lodhu, Lebi Ea, Moni Tawa, Sebo Tawa, Go Gena, Mu Owa, Adha Tey, Je Pano, Leza Muku, Dedhi Busa, Paso Tato, Giri Ngida, Silaja Ngida, Rada Bara, Jogo Bara, Lena Loda, Mada Masi, Ngada Pango, Leba Noe, Mena Dhano, Dhosa Pija, Jogo Pija, Ledhi Lo’a, Abo Lama, Dedhi Dhue, Dedhi Musa, Ngaji Upa, Gili Doy, Maku Beku, Bhidi Pau, Dhalu Ngaju, Gu Bara, Hubha Dhibi, Pati Wea, Maku Wea, Ahu Bunge, Dhae Goa, Sare Bako, Fao Noe, Talo Tawa, Beri Soro, Sera Tija, Sabu Aja, Roni Dhajo, Nusa Upa, Fao Giri, Ela Dhenga, Tiba Mesa, Dhae Dhengi, Rupi Dhajo, Goa Dhajo, Lasa No’a, No Bara, Dhae Gega, Feke Nango, Ela Nango, Tele Dhenga, Papu Dhenga, Lena Dhenga, Lao Tina, Radu Dadi, Loy Wula, Weka Wati, Saparaja, dan lain-lain yang tidak diingat lagi namanya oleh Bapak Dhae Goa.
Setelah penyerangan Teokodo, pasukan kembali ke tempatnya masing-masing untuk mempersiapkan pasukan agar dapat memberikan bantuan bilamana diperlukan lagi. Setelah beberapa minggu kemudian terdengar pula kabar tentara Belanda akan meneruskan perjalanannya ke Watu Api melalui Aeramo. Pasukan Rae Sape segera membantu Nipa Do di Watu Api tetapi terhalang di Aeramo dan akhirnya terpaksa pasukan Rae Sape kembali dan tetap utuh.
Bulan Februari tahun 1917 dini hari, kebun Rae Sape di Nua Kutu disergap oleh tentara Belanda. Semua hasil kebun dan hewan-hewan dimusnahkan, lumbung-lumbung makanan dibakar. Sehari sebelum pengepungan Belanda, Rae Sape telah mengungsi ke Ola Dhawe. Tentara Belanda meneruskan perjalanan mereka dan bermarkas di Nggolo Mbay (Ola Bay).



D.   Pengejaran Belanda Terhadap Rae Sape ke Ola Dhawe
Atas usaha keras dari mata-mata Belanda sehingga pada petang harinya Belanda memperoleh berita bahwa Rae Sape bersama pasukannya telah berangkat ke Ola Dhawe guna menyusun kekuatan dan mengatur jalannya peperangan. Sesudah makan malam pasukan Belanda berangkat ke Ola Dhawe, tetapi terpaksa kembali dan bermalam di Boasabi karena Sungai Ae Mau tak dapat dilalui sebab banjir besar. Sedang tentara Belanda bermalam di Boasabi, datanglah ke Ola Dhawe beberapa pemuka rakyat dari Mboaloing untuk menemui Rae Sape dan mengajak Rae Sape agar pasukannya diberangkatkan ke Kampung Sanding (dekat Mboaloing) untuk dipersatukan dengan pasukan di bawah pimpinan Gago Rembo agar bertahan bersama di Ekotadho.
Nama-nama pemuka rakyat yang datang ke Ola Dhawe sebanyak 10 (sepuluh) orang di antaranya Gago Rembo, Jogo Meluk, Neko Reso, Remang Aja, dan Lera Jawa. Malam itu juga berangkatlah Rae Sape dengan pasukannya kurang lebih 50 (lima puluh) orang (lainnya telah menyerah dan mengundurkan diri) bersama isterinya Upa Loda, seorang anak laki-laki bernama Papu Upa (Papu Rae), seorang anak wanita bernama Supa Aning (Supa Rae) dan 2 (dua) orang pembantu bernama Wula Ngongo dan Uta Aning menuju Sanding.
Keesokan harinya pagi-pagi benar setelah banjir telah surut, berangkatlah pasukan Belanda ke Ola Dhawe. Setelah masuk Kampung Ola Dhawe, kampung tersebut dikepung serta dilakukan tembak-tembakan. Walaupun demikian hanya beberapa lelaki saja tetap tenang. Pemuka-pemuka yang ditangkap Belanda serta dijadikan tawanan antara lain; Saparaja, Lasa No’a, dan Rupi Dhajo. Tawanan ini dibawa ke Kampung Nggolo Mbay diperiksa dan disiksa untuk memberitahukan dimana Rae Sape bersembunyi. Walaupun disiksa tetapi mereka tetap menutup rahasia kemana Rae Sape pergi.

E.    Pertempuran Malabay
Setelah mendengar kabar bahwa pasukan Belanda yang dari Bajawa sudah berada di Munde dengan tujuan untuk menaklukkan Ekotadho, maka berniatlah Rae Sape dan Gago Rembo untuk melakukan pertempuran di luar perbentengan. Oleh karena itu, mereka harus berangkat menyongsong kedatangan Belanda dimana saja pertempuran terjadi.
Setelah tiba di “Malabay”, kedua pasukan mengambil keputusan agar tempat pertempuran pada perhentian mereka di Malabay. Tidak lama mereka beristirahat datanglah tentara Belanda sehingga di situlah terjadi pertempuran. Dari pihak pasukan rakyat yang mati, yaitu Laki Jawa sedangkan yang luka-luka, yaitu Lepa Tiu. Keduanya adalah anggota pasukan Rae Sape. Sedangkan dari pasukan Gago Rembo yang mati, yaitu Gago Rembo sendiri, Remang Tara, Naik Nuru, Noni Gego dan Pata. Dari pasukan Belanda yang tewas 5 (lima) orang dan yang luka-luka tidak diketahui banyaknya. Kekalahan pasukan Belanda di Malabay memberikan perhitungan bahwa pasukannya harus diperkuat kembali. Lalu semua anggota pasukan Belanda bersama Gezagheber Bajawa kembali menuju Nggola Mbay.
Walaupun dari pihak pasukan masyarakat memperoleh kemenangan, tetapi pasukan Rae Sape tidak berdiam lebih lama di Ekotadho karena kekurangan makanan dan sebagian besar pasukannya telah pulang ke Dhawe. Akhirnya Rae Sape bersama keluarganya mengungsi ke Kojakeru dalam wilayah Hamente Tadho. Pengungsian tersebut diketahui dan dibantu oleh Kepala Hamente Lengkosambi yang bernama “Daeng Pirani”, Kepala Hamente Tadho yang bernama “Padhang Sadhang”, dan Kepala Kampung Bekek bernama “Leo Nembo”. Walaupun pengungsian Rae Sape sangat dirahasiakan namun tercium juga oleh mata-mata Belanda.

F.    Pertempuran  Ekotadho
Berhubung dengan petunjuk “KUTIKA” dari Muka Teang dan dengan persetujuan semua anggota pasukan bahwa Muka Teang sendiri harus memimpin pertahanan dan menetap bersama anggota pasukannya di Ekotadho untuk menantikan serangan Belanda selanjutnya. Dalam peperangan, pintu Kampung Ekotadho bagian selatan harus dijaga secara ketat karena dalam perhitungan penyerangan musuh hanya dari arah selatan sehingga jalan masuk atau pintu masuk dari utara Kampung Ekotadho tidak diawasi.
Setelah seminggu kemudian datanglah tentara Belanda dari Mbay yang bermarkas di Nggolo Mbay menuju Munde untuk menaklukkan Kampung Ekotadho dengan anggota pasukan sebanyak kurang lebih 150 (seratus lima puluh) orang. Setibanya di Munde atas siasat bersama dari tentara Belanda dan Dhae Gamo (Kepala Hamente Munde) agar pasukan mereka dibagi 2 (dua) bagian dengan tujuan:
  1. Pasukan pertama sebanyak kurang lebih 30 (tiga puluh) orang di bawah pimpinan Gezagheber Bajawa menuju Kampung Ekotadho melalui jalan pintu masuk bagian selatan.
  2. Pasukan kedua, dengan pasukan sebagai penunjuk jalan Kepala Hamente Munde bernama Dhae Gamo melalui Kampung Sanding lalu naik kembali ke Kampung Ekotadho untuk menyerang dari pintu masuk bagian utara.
Tugas yang diberikan kepada pasukan Belanda di bawah pimpinan Gezagheber Bajawa bertujuan untuk mengadakan penyerangan gangguan agar pasukan rakyat dapat dikerahkan sebanyak mungkin untuk keluar dari Kampung Ekotadho serta mengadakan serangan balasan agar kampung tersebut dapat dikosongkan, sehingga mudah untuk diserang oleh pasukan bagian utara.
Setibanya Gezagheber di Kampung Ekotadho, dengan tiba-tiba Gezagheber ditikam dengan sebilah bambu runcing bagian kiri sehingga lengan atasnya luka parah. Tikaman ini berasal dari seorang pasukan rakyat yang bernama “Bhana Gawa”. Setelah penikaman atas diri Gezagheber, Bhana Gawa merebahkan diri dan bersembunyi di balik batu besar. Kemudian muncul lagi “Sina Sera” untuk menikam Gezagheber tetapi malang baginya, sebelum menikam, Gezagheber menembaknya dan tewas. Setelah tertembaknya Sina Sera, segera “Soro Mbeo” memotong tali batu gulingan sehingga pasukan Belanda dipukul mundur.
Pengunduran pasukan Belanda di bawah pimpinan Gezagheber mendapat kesempatan baik bagi pasukan Belanda yang menyerang dari arah pintu masuk bagian utara Kampung Ekotadho, karena setelah mendengar bunyi bedil, semua anggota pasukan yang sedang bernanti dalam kampung dikerahkan keluar menyerang tentara Belanda yang kurang lebih 3 kilometer jauhnya dari Ekotadho. Setelah anggota pasukan Muka Teang keluar, masuklah tentara Belanda dari jurusan utara yang dikawali oleh “Dhae Gamo”. Segera Kampung Ekotadho diduduki tanpa perlawanan sedikitpun serta dilancarkan pembakaran rumah-rumah serta lumbung persediaan makanan, semua wanita dan anak-anak lari tak berketentuan arah.
Ketika melihat Kampung Ekotadho terbakar, Muka Teang memerintahkan pasukannya untuk membebaskan kembali kampung dan perbentengannya, tetapi sia-sia karena seluruh persiapan makanan dan senjata turut terbakar. Malahan persiapan batu guling di tepi kampung digunakan untuk memusnahkan pasukan Muka Teang yang kembali masuk kampung.
Walaupun demikian pertempuran sengit tetap berlangsung beberapa waktu lamanya, tetapi karena kekuatan pasukan Belanda lebih kuat, akhirnya pasukan Muka Teang terpaksa mengundurkan diri. Akibat dari pertempuran tersebut, pihak tentara Belanda tak ada yang tewas, hanya beberapa yang mendapat luka-luka, tetapi dari pasukan rakyat yang mati antara lain; Lendong Ulo, Sue Wese, Limang Runung, Wawo Lila, dan Asa Peja (= Asa Peja pada waktu itu berkedudukan sebagai Kepala Kampung Dheru). Muka Teang lalu mengungsi ke Gunung Somat, dalam hal mana pertahanan tak dapat dipersiapkan lagi.
Dengan terpukulnya pasukan Muka Teang sebagian tentara Belanda yang berjumlah 50 (lima puluh) orang berangkat ke Mboarajong dan bermarkas disana dan yang lain kembali ke Munde serta membakar rumah Kepala Kampung Wundu yang bernama Rae Rona, serta pada malam itu juga mereka bermalam di Kampung Munde bersama Dhae Gamo (Kepala Hamente Munde).
Dari anggota-anggota pasukan Muka Teang yang ditawan, seperti Rai Baju, Bhana Gawa, Dhasa Gawa, Miri Lino, Neka Resok, Pita Ndeku, No Dhima, Laki Kasi, Sembo Munde, Paga Sila, Sela Nia, Bhani Dhua, Leba Nia, Lobo Wonga, Nu Muku (Kepala Kampung Nggoloniok), Naga Koba, Nuwa Sato, Tata Ndeku, dan  Jo Ngole yang kesemuanya telah direncanakan oleh Belanda untuk dibunuh bila belum tertangkapnya Rae Sape, Muka Teang dan Jogo Meluk.
Anggota masyarakat lainnya yang turut tertangkap karena memberi bantuan makanan dan penginapan kepada anggota pasukan rakyat, yaitu Jo Boro dari Mboaloing yang memberikan jaminan penginapan beberapa waktu kepada Lodhu Ea anggota Rae Sape dari Dhawe.

G.   Akhirnya Masa Hidup Muka Teang dan Jogo Meluk
Atas  kerja keras dari mata-mata Belanda sehingga kurang lebih tiga minggu kemudian tertangkaplah Jogo Meluk dan dibawa menghadap kepada pembesar Belanda yang bermarkas di Nggolo Mbay. Pemeriksaan atas diri yang bersangkutan sama sekali tidak memakan waktu lama, karena keterangan dalam menjawab pertanyaan pimpinan Belanda bahwa baginya adalah lebih baik mati dari pada hidup seolah-olah direndam dalam suatu kolam penderitaan penjajahan Belanda dan pemerintahannya. Keputusan terakhir, ditembak mati dengan sengsara di Wolokoto (dekat Kampung Boabe).
Ketika Muka Teang mendengar akan kematian Jogo Meluk, maka berangkatlah ia menuju markas Belanda di Mboarajong dengan tujuan untuk menyatakan damai. Dalam perjalanan bertemulah ia dengan dua orang mata-mata Belanda yang bernama Wara Wea dan Menang Mau, lalu menyatakan bahwa tujuan perjalanan keduanya ialah mencari Muka Teang serta menyampaikan pesanan pimpinan tentara Belanda dari Mboarajong: “Apakah Muka Teang harus menghadap Belanda atau sebaliknya?”
Setelah Muka Teang menyatakan bahwa tentara Belanda harus menghadap beliau, Wara Wea menyatakan lebih baik Muka Teang harus berpindah dari Watuwula (tempat mereka bertemu) ke Mbatasiok dan keduanya akan menanti pada tempat tersebut untuk menanti kedatangannya bersama tentara Belanda. Pendapat ini disetujui oleh Muka Teang.
Ketika sampai pada waktu yang ditentukan, Wara Wea bersama 5 (lima) orang anggota tentara Belanda ke Mboasiok. Setelah menemui jarak pertemuan kedua belah pihak kurang lebih 5 meter segera Menang Mau memberikan isyarat kepada tentara Belanda dengan menunjukkan jarinya disebelah belakang Muka Teang sebagai tanda perkenalan bahwa itu adalah Muka Teang yang dicari-cari. Pada kesempatan itu juga Muka Teang dibunuh dan dicincang sampai hancur. Peristiwa ini terjadi pada bulan Maret tahun 1917.

H.   Tertangkapnya Rae Sape
Berhubung dengan kehilangan Muka Teang dan Jogo Meluk, perhatian tentara Belanda hanya tertuju kepada Rae Sape serta pengikut-pengikutnya. Berkat lihainya mata-mata Belanda, maka pimpinan Belanda yang bermarkas di Nggolo Mbay mengirimkan anggota pasukan sebanyak 125 orang, semuanya berkuda dengan Kepala Hamente Mbay yang bernama Mane Tima sebagai penunjuk jalan ke “Kojakeru” dengan menempuh jalan Nage Togu, Nanganumba, dan Ulujarang. Sebelum ke Kojakeru, tentara Belanda bersama pengikut-pengikutnya mendapatkan Dhalu Lengkosambi yang bernama “Daeng Pirani”, Dhalu Tadho yang bernama “Padha Sadhang”, dan Kepala Kampung Bekek yang bernama “Leo Nembo” untuk menunjukkan tempat pengungsian Rae Sape.
Meskipun Daeng Pirani maupun Padhang Sadhang dan Kepala Kampung Bekek yang bernama Leo Nembo, yang tadi-tadinya sebagai sahabat akrab Rae Sape dalam menjamin keselamatan hidup Rae Sape bersama keluarganya, tetapi setelah kedatangan Belanda ini menunjukkan jalan untuk menangkap Rae Sape. Meskipun Rae Sape dapat mempertahankan dan dapat meloloskan dirinya, tetapi keluarganya tertangkap. Isteri Rae Sape yang bernama Upa Loda dengan kedua anaknya yang bernama Papu Upa dan Supa Aning diikat dengan tali pancing pada tangan mereka dan dibawa ke Bekek serta diteruskan ke Nanganumba dengan tidak memperdulikan akibat tembakan atas mayatnya. Wula Ngongo dan Uta Aning yang menderita  luka berat. Keluarga Rae Sape selanjutnya dibawa ke Nggolo Mbay serta direncanakan untuk dibunuh jika Rae Sape tidak menyerah.
Ketika didengar oleh Rae Sape bahwa keluarganya telah ditawan dan direncanakan oleh tentara Belanda supaya dibunuh, maka ditetapkan niatnya untuk menebus keluarganya dengan jalan menyerah diri. Lima hari sesudah terjadinya peristiwa Kojakeru,  berangkatlah Rae Sape menemui Dhalu (Kepala Hamente) Lengkosambi untuk bersama-sama menuju Nanganumba, dimana tempat keluarganya ditawan. Permintaan ini dikabulkan dan keduanya pergi menghadap tentara Belanda. Tentara Belanda menerimanya lalu ditawan.
Pemeriksaan terhadap diri Rae Sape tidak memakan waktu lama, karena Rae Sape tetap tenang menjawab pertanyaan Belanda bahwa beliau benar-benar pimpinan perang membantu Nipa Do serta rela dihukum dengan cara apapun asal anak isterinya dibebaskan dari tawanan. Anggota-anggota pasukan rakyat yang ditawan antara lain:
1.    Dari pihak anggota Rae Sape, yakni: Rae Sape, Danga Sigi, Lepa Tiu, Taumai Sena, Mona Rasa, Dhae Dhajo, Bhadho Kase, Laga Tawa, dan Tero Tawa.
2.    Dari pihak anggota Muka Teang, yakni: Rai Baju, Bhana Gowa, Dhasa Gowa, Miri Lino, Neka Resok, Tata Ndeku, No Dhima, Laki Kasi, Sembo Munde, Paga Sila, Sela Nia, Bhani Dhua, Leba Nia, Lobo Wonga, Nu Muku, Naga Koba, Nuwa Sato, dan Jo Ngole.
Mereka ini dibawa ke Bajawa untuk diperiksa lagi melalui jalan Nanganumba, Wundu, Munde, Soa dan terus ke Bajawa. Bagi tawanan yang mendapat hukuman berat dibuang ke Kupang, yaitu Rae Sape, Lepa Tiu, Taumai Sena, dan Danga Sigi.
Dengan berakhirnya perang Rae Sape pada bulan April 1917, maka berakhirlah pula kerusuhan di bagian utara Onder Afdeling Ngada dan segala pos-pos tentara Belanda kembali ke Ende.

I. Penutup
Perang Rae Sape disebut juga Perang Dhawe karena secara rahasia atas komando Pone Poto sebagai Kepala Hamente Dhawe, seluruh masyarakat dalam wilayah kekuasaannya ikut aktif dalam perang melawan penjajahan kolonial Belanda.

















DAFTAR GAMBAR




PEO









SANGABENGA